Kenangan Main Bola

Jumat, 11 Maret 2011

Dulu saya pernah suka dengan sepakbola. Baik itu main, nonton, baca berita, hingga mengumpulkan kliping tentang bola. Tapi itu dulu, saat saya masih usia SD. Meskipun tidak ikut kursus bola, saya dan teman-teman sebaya bermain bola di sekolahan, yakni SD Sleko alias SD Pandean. Kadang-kadang di Lapangan Ciliwung, Lapangan Serayu, dan Lapangan Ngrowo. Sering juga di lapangan dekat rumah di Jalan Sarean.

Nonton bola juga menjadi hobi, baik itu langsung maupun melalui televisi. Yang langsung biasanya saat ada liga. Di Madiun biasanya diselenggarakan di Lapangan Kejuron dan Lapangan Serayu dekat Unmer. Lapangan dipasangi dengan gedheg agar penonton yang tidak mempunyai karcis tidak bisa masuk. Sedangkan pertandingan bola di televisi saat itu hanya bisa melalui TVRI.

Di saat teman-teman saya hobi mengoleksi komik, saya malah menyisihkan uang saku untuk membeli tabloid Bola. Setelah saya baca hingga tuntas, berita dan foto-foto para pemain saya gunting untuk dibuatkan kliping. Boleh percaya atau tidak, di saat kelas 5 SD saya pernah menulis buku tentang teknik bermain sepakbola. Referensi saya ambil dari buku pendidikan jasmani kelas 1 SMP, buku di perpustakaan sekolah, dan tabloid Bola. Buku itu saya tulis dengan tangan. Saya memang terobsesi dengan bola. Tidak sekedar menjadi pemain, bahkan teori-teori tentangnya saya buatkan dalam bentuk tulisan. Saya berkhayal seolah-olah menjadi pelatih dan manajer tim. Buku itu hanya untuk konsumsi pribadi, tidak untuk diterbitkan (lagian mana ada penerbit yang mau mempublikasikan).

Bersama teman-teman satu RT kami membuat klub bernama Permata Putra. Saya yang ditunjuk menjadi kapten kesebelasan, soalnya saya yang punya bola. Tiap kali bola rusak (biasanya terlindas mobil karena lokasi bermain kami dekat jalan raya) atau hilang, saya yang membelikan bolanya. Bolanya pun hanya bola plastik, jauh lebih murah dibandingkan dengan bola sungguhan. Pernah juga saya dikejar-kejar tetangga saya (orangtua) karena bola terkena kaca rumahnya. Karena yang punya bola saya, sayalah yang dikejar. Padahal yang bermain kan anak banyak.  

Tiap hari pulang sekolah hingga azan Maghrib berkumandang kami bermain. Tak peduli panas terik atau derasnya hujan. Bulan puasa pun tidak menghentikan kami. Seusai sholat Subuh, pagi-pagi sekali, bola sudah menjadi alat permainan. Siang hari barulah kami hentikan. Capek dan haus. Tak jarang ada beberapa teman yang mokel (membatalkan puasanya). Hehehe namanya saja masih anak-anak. Saya sendiri belum pernah mokel.

Oya, punya borok (luka) di tubuh terutama di kaki dan tangan saat itu menjadi semacam kebanggaan bagi kami. Semakin banyak boroknya, semakin bangga. Lapangan kami memang masih berupa tanah. Tak heran jika jatuh luka yang akan kami bawa pulang. Saya pernah kehilangan kuku kaki.

Kadang-kadang diadakan pertandingan persahabatan. Bisanya dengan anak-anak yang beda RT di Jalan Sarean Taman. Selain itu juga dengan anak-anak Jalan Musi, Jalan Cokro, dan Jalan Kapuas. Jangan dibayangkan pertandingan persahabatan seperti pada pertandingan resmi. Tidak ada wasitnya, apalagi hakim garis. Yang penting main bola.

Sekarang 20 tahun kemudian semuanya telah berubah. Lapangan tempat kami bermain berubah menjadi gedung. Tiada lagi lapangan untuk bermain. Belum lagi anak-anak sekarang disibukkan dengan les beraneka ragam. Sudah capek di sekolah ditambah dengan les bahasa, les matematika, les piano, les balet, dan lain-lain. Sepertinya sedikit waktunya untuk bermain bersama teman-temannya sepulang sekolah.
 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (171) coretan (126) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)