Naturalisasi

Rabu, 16 Maret 2011

Saat itu awal Bukan Desember tahun silam. Sepulang sholat Isya’ dari masjid iseng-iseng saya hidupkan televisi. Eh, ternyata ada pertandingan bola langsung dari Stadion Gelora Bung Karno. Saat itu Indonesia menghadapi saudara serumpun, Malaysia. Saya baru ingat tadi siang waktu baca koran di kantor ada berita jika mulai malam nanti diadakan Kejuaraan Piala AFF. Kontestannya adalah negara-negara Asia Tenggara. Piala AFF ini dulu namanya adalah Piala Tiger.

Cukup lama saya tidak menonton timnas bertanding. Seingat saya yang terakhir waktu ada Piala Asia di Indonesia tahun 2007. Itu pun via layar kaca. Tidak ada yang menarik jika timnas main. Pun dengan klub-klub lokal yang terdaftar dalam kompetisi PSSI. Yang saya ingat tawuran antar suporter, permainan kasar, pemukulan wasit, kejar-kejaran antar pemain, isu permainan skor, isu suap wasit, penonton yang masuk lapangan. Saya kasihan jika timnas dihajar dengan skor besar oleh tim asing. Sepertinya tak tega menyaksikan. Padahal jumlah pemainnya sama, bola yang digunakan juga sama.

Nah malam itu tanggal 1 tidak apa-apalah sesekali nonton bola. Ups, baru beberapa menit, gawang Indonesia jebol. 0-1 untuk Malaysia. Saya sudah su’udzon mental para pemain akan drop. Bisa-bisa kebobolan lagi, soalnya ini sudah ketinggalan gol duluan. Tapi ternyata mental bertanding mereka luar biasa. Sepanjang permainan mereka gigih menyerang, disiplin dalam bertahan. Dan luar biasa, mereka bisa membalikkan keadaan. Hasil akhirnya adalah 5-1 untuk Indonesia.

Ada lagi yang membuat mata saya tak mau lepas dari layar kaca. Saya lihat ada muka asing di sana, yakni Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Gonzales saya tahu pemain asing dari Uruguay yang sudah cukup lama bermain di kompetisi Indonesia. Bahkan namanya tercatat sebagai top scorer beberapa kali. Ia menikah dengan wanita Indonesia dan tinggal di Indonesia.

Sedangkan Irfan Bachdim saya tidak tahu dia. Mukanya indo. Setelah saya baca koran keesokan harinya barulah saya tahu kalau ia keturunan Indonesia Belanda. Kehadiran kedua orang itu dalam jajaran timnas merupakan hasil naturalisasi. Naturalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing; hal menjadikan warga negara; pewarganegaraan yang diperoleh setelah memenuhi syarat sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

Seusai laga perdana itu saya benar-benar merindukan laga-laga berikutnya dari timnas. Dan benar saja, pada laga kedua Indonesia menghajar Laos dengan skor 6-0. Tiga hari kemudian, giliran Thailand, langganan juara Piala AFF, dikalahkan dengan 2-1. Sama dengan pertandingan melawan Malaysia, Indonesia kebobolan dulu, namun akhirnya berhasil unggul. Di semifinal, Indonesia melumat Filipina masing-masing dengan skor 1-0 di kedua leg. Namun sayang di final leg pertama, saat bertemu lagi dengan Malaysia, Indonesia takluk 1-3. Pada final leg kedua, meskipun menang dengan skor 2-1 Indonesia gagal menjadi juara, karena kalah agregat gol dari Malaysia. Istilah saya waktu itu, ”Menang bertempur, namun kalah berperang”.

Meskipun demikian perjuangan mereka mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Demam bola melanda seantero negeri. Sedikit banyak naturalisasi itu membawa warna pada sepakbola Indonesia. Dan jangan lupa, dua biji gol yang dilesakkan ke gawang Filiphina pada masing-masing pertandingan semifinal adalah hasil aksi Gonzales. Dengan kemenangan itu, Indonesia melaju ke final. Juga dengan kehadiran Irfan Bachdim, penonton tidak didominasi oleh lelaki semata. Kaum hawa pun tanpa malu-malu datang ke stadion. Namun demikian kita juga mengacungi jempol kepada para pemain pribumi asli. Aksi mereka tak kalah menawan. Ada Firman, Okto, Bustomi, M. Nasuha, Arif Suyono, dan lain-lain.

Oya omong-omong soal naturalisasi. Mengingat kisruhnya PSSI memilih ketua umumnya, bagaimana kalau ketuanya juga dicari orang luar untuk dinaturalisasi. Pilihan pertama Brasil karena lima kali juara Piala Dunia. Berikutnya Italia (empat kali), Jerman (tiga kali), Argentina dan Uruguay (masing-masing dua kali), Spanyo, Perancis dan Inggris (masing-masing satu kali).

Piye Gan?!   

1 komentar:

7 taman langit mengatakan...

salam persahabatn
pemain naturalisasi di TIMNAS telah menambah daya tarik orang-orang untuk mencintai sepakbola

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)