Video Fauzan dan kawan-kawan

Sabtu, 11 Maret 2017

video

Mafia Hukum

Selasa, 07 Februari 2017

Pengunjung sidang Pengadilan Tipikor Surabaya, Jawa Timur menggeleng-gelengkan kepala saat mendengarkan cerita miris Abdul Manaf. Seperti dimuat dalam Jawa Pos, 7 Februari 2017, persidangan tersebut dihelat untuk mengungkap kasus penyuapan antara Manaf dan Ahmad Fauzi. Manaf menolak disebut sebagai penyuap, karena ia merasa sebagai korban dari Fauzi. Ia memberikan uang sejumlah Rp 1,5 miliar karena diperas. Malah awalnya Fauzi meminta Rp 2 miliar. Fauzi merupakan seorang jaksa yang bertugas di Kejati Jatim.

Cerita bermula saat Manaf menjadi saksi dalam kasus penjualan tanah kas desa Kalimook, Kalianget, Sumenep, di Kejati Jatim. Tersangkanya adalah Kades Kalimook Murhaimin dan Pejabat BPN Wahyu Sudjoko. Dalam pemeriksaan sebagai saksi, Jaksa Fauzi menanyakan adanya transfer Rp 100 juta kepada Wahyu Sudjoko. Manaf membenarkan adanya transfer itu dan menjelaskan bahwa uang tersebut digunakan untuk biaya pengurusan sertifikat tanah yang dibelinya.

Jaksa Fauzi meminta bukti transfer itu dibawa ke Kejati Jatim. Manaf pun menuruti keinginan Jaksa Fauzi dengan harapan permasalahan klir. Tetapi, harapannya tidak menjadi kenyataan. Yang terjadi justru sebaliknya. Ketika memberikan bukti itu kepada Jaksa Fauzi, Manaf malah dituduh telah membantu kejahatan Kades Kalimook Murhaimin. Manaf diancam dan ditakut-takuti akan dijadikan tersangka pula.

Manaf memberikan penjelasan sembari menunjukkan bukti kuitansi resmi yang berstempel Kantor BPN Sumenep. Dalam selembar kertas itu, tertulis bahwa duit tersebut memang digunakan untuk memproses sertifikat. Namun, bukti itu tetap diabaikan dan Jaksa Fauzi menyatakan bahwa jaksa penyidiklah yang paling benar. Manaf tidak menyangka bukti yang diberikan malah digunakan untuk menakut-nakuti, mengintimidasi, dan memeras dirinya. “Saya sangat takut enggak karu-karuan. Stres, nangis. Istri saya juga ikut menangis dan stres. Saya tidak bisa tidur beberapa hari karena takut masuk penjara,” terangnya.

Pelajar Lalu, Pelajar Kini

Kamis, 02 Februari 2017

Usianya sudah senja. Rambut memutih di sekujur kepala. Tertatih-tatih bila melangkah. Namun semangat baja tak pernah padam jikalau lidah bercerita. Ingatan tentang masa lalu, saat muda usia, tak lekang oleh jaman. Wasono, lebih dari pantas jika disebut eyang. Cerita heroiknya bisa kita saksikan di media youtube, juga dibaca di blog. Kisah yang tak tercatat dalam buku sejarah. Saat ibu pertiwi berusaha mempertahankan kemerdekaan dari agresi penjajah, segenab rakyat di mana-mana turut berkorban, ia salah satunya. Wasono muda saat itu baru berusia 15 tahun. Jika sekarang mungkin sepantaran dengan remaja yang baru duduk di bangku SMP kelas 3. Merasa terpanggil, ia bergabung dengan Tentara Pelajar. Ditinggalkannya bangku sekolah, memanggul senjata, bertaruh nyawa.

Meskipun bukan pasukan reguler atau profesional, Tentara Pelajar menyusun organisasinya dengan rapi. Ada komandan. Ada pangkat militer. Ada wilayah operasi. Jika tidak sedang berperang, mereka kembali menekuni pelajaran. Wasono, bergabung dalam Seksi 2 Kompi 3 di bawah pimpinan Jungkung Murdiyo. Nama terakhir ini berpangkat Letnan. Setelah penyerbuan tentara Belanda ke kota Solo, Wasono dan kawan-kawan menyingkir ke luar kota. Perjuangannya mewujud dalam perang gerilya.

Salah satu petualangan Jungkung Murdiyo, Wasono, dan kawan-kawannya adalah penyerbuan pos Belanda di dekat jembatan Kali Cungkring untuk merebut senjata. Dengan menyamar sebagai petani dan menaiki andong (kendaraan tradisional yang ditarik dengan kuda) mereka berhasil menuntaskan misi. Satu regu jaga tentara Belanda berhasil dilumpuhkan kecuali seorang yang berhasil lolos dari maut, sinyo yang juga sama-sama belia. Konon kabarnya sinyo yang berhasil kabur tersebut akhirnya terkena gangguan jiwa berat. Ia pun dipulangkan ke negeri asalnya, Belanda.

Julius Pour dalam buku “Doorstoot Naar Djokja”, sedikit menceritakan petualangan lain dari pasukan Jungkung Murdiyo. Saat membuat kubu pertahanan kota Solo dari serbuan tentara Belanda, ternyata pasukan Murdiyo salah kira. Jalan masuk ke kota terdiri dari 2 jalan besar, baru dan lama. Anggapan anak-anak muda itu musuh menyerang melalui jalan baru saja. Justru kedua jalan menjadi pilihan pintu masuk tentara Belanda. Alhasil pasukan Murdiyo dihajar habis-habisan dari dua sisi. Apalagi dari udara, pesawat memuntahkan peluru mencari sasaran. Tentara pelajar pun memilih mundur.

Kado Awal Tahun

Selasa, 31 Januari 2017

Di awal tahun, adakah hal yang lebih istimewa bagi rakyat Indonesia selain mendapatkan kado dari pemerintah? Kado istimewa tersebut adalah penurunan harga. Mulai harga BBM, tarif listrik, biaya mengurus STNK dan BPKB, hingga harga cabai. Semua turun bertubi-tubi, seperti air yang turun dari langit saat hujan deras. Pada sisi yang lain, tingkat pendapatan masyarakat secara nyata menunjukkan kenaikan. Beban yang dipikul masyarakat pun menjadi kian ringan. Apalagi ditopang dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang semakin kuat.

Pemerintah yang benar-benar pro rakyat, seperti yang selama ini didengung-dengungkan di berbagai media dan pidato pejabat. Masyarakat pun senang dan bersyukur. Sebab, penurunan tarif listrik, biaya STNK, dan harga BBM tersebut sudah menjadi keputusan pemerintah. Misalnya tarif listrik. Biaya setrum yang biasanya naik untuk sebagian masyarakat yang dinilai tidak layak menerima subsidi, kini turun untuk semua golongan. Lalu, biaya STNK dan BPKB yang menjadi salah satu sumber penerimaan negara bukan pajak (PNPB), ikut diturunkan.

Yang super fantastis adalah soal harga cabai, yang selama ini sering menjadi persoalan di negeri yang dikenal subur ini. Dulu seringkali kenaikan harga cabai terjadi secara fantastis. Biasanya jajaran pemerintah menjadikan faktor cuaca dan distribusi sebagai penyebab kenaikan harga cabai. Kini tak lagi. Musim hujan ternyata tidak membuat panen cabai di sejumlah daerah gagal. Suplai pun tidak lagi berkurang. Faktor cuaca juga tidak menghambat distribusi cabai dari sentra produksi ke daerah lain. Pemerintah sekarang memang hebat dengan kebijakannya, sehingga tidak ada lagi kenaikan harga cabai secara gila-gilaan.

Pemerintah berhasil mengatasi persoalan, hal yang selalu menjadi problem kenaikan harga di era sebelumnya secara berulang-ulang. Pemerintah kini memiliki solusi yang komprehensif sehingga problem yang sama tidak terjadi setiap tahun. Nah, di sinilah begitu hebatnya leadership sang pemimpin dalam menyelesaikan problem pasokan pangan yang kerap terjadi di masa lalu. Masa lalu yang suram, kini berubah ke arah yang gilang-gemilang.

Terpidana Malang

Selasa, 17 Januari 2017

Malang nian nasib pemuda yang satu ini. Hugjiltu alias Qoysiletu, telah dieksekusi mati dalam kasus pembunuhan dan perkosaan pada tahun 1996. Saat itu Hugjiltu berusia 18 tahun. Namun, pada tanggal 15 Desember 2014, Pengadilan Kota Hohhot, Wilayah Otonomi Mongolia Dalam di Tiongkok Utara, menyatakan pemuda itu terbukti tidak bersalah. Demikian diberitakan dalam media massa Jawa Pos.

Hugjiltu didakwa bersalah membunuh dan memerkosa seorang perempuan di toilet sebuah pabrik tekstil. Dia dieksekusi mati 61 hari setelah kematian sang perempuan. Kasus itu tak berhenti. Keluarga Hugjiltu yang yakin anaknya tak bersalah terus berjuang mengungkap keadilan. Apalagi, pada tahun 2005, seorang pria mengaku sebagai pembunuh yang sebenarnya. Pengadilan Tinggi pun kembali membuka kasus tersebut. Kepolisian setempat pun bersedia melakukan penyelidikan ulang.

Dari sana terungkaplah bahwa pengakuan Hugjiltu tidak klop dengan laporan autopsi. Bukti-bukti lainnya pun tidak bisa mengaitkan Hugjiltu secara langsung. Pengadilan Tinggi Mongolia menemukan bahwa vonis yang telah dijatuhkan terhadap Hugjiltu tidak sesuai dengan fakta-fakta. Bukti-bukti yang tersedia juga tidak cukup. Pengadilan akhirnya memutuskan bahwa Hugjiltu tidak bersalah. Disebutkan juga, wakil ketua pengadilan setempat, Zhao Jianping memberikan kompensasi kepada orang tua Hugjiltu sebesar 30.000 yuan. Zhao mengatakan, uang tersebut adalah sumbangan pribadi ketua pengadilan, Hu Yifeng. Namun nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Nyawa Hugjiltu tak mungkin dikembalikan.

Kasus di Tiongkok tersebut terjadi juga di Amerika Serikat. Media asing, Brisbane Times terbitan 12 November 2010 pernah memberitakan kisah tragis seorang pria Amerika Serikat  terpidana mati. Claude Howard Jones, pria asal Texas dieksekusi mati di usianya yang ke-60 pada hari Kamis 7 Desember 2000. Jones yang punya catatan kriminal panjang didakwa membunuh Allen Hilzendager dalam sebuah perampokan toko minuman keras. Namun Jones bersikukuh, pada saat kejadian ia menunggu di dalam mobil saat rekannya merampok dan menembak korban tiga kali di luar kota Point Blank. Ia dinyatakan bersalah dalam pembunuhan di tahun 1989 itu dan upaya bandingnya menemui kegagalan, atas dasar sehelai rambut yang ditemukan polisi di tempat kejadian perkara.

Vonis Salah

Selasa, 10 Januari 2017

Serupa dengan pertunjukan ketoprak, ludruk, wayang, dan lain-lain kesenian tradisional. Atau paduan suara, band, sirkus, dan lain-lain pertunjukan yang muncul dan marak kemudian. Film adalah salah satu jenis pertunjukan populer di tengah-tengah masyarakat. Sifatnya menghibur. Jaman dulu film hanya diputar di sebuah gedung tertutup dengan layar lebar di hadapan penonton. Orang menamakannya bioskop. Hanya kalangan tertentu yang bisa menikmatinya. Selanjutnya film pun diputar tak hanya di gedung bioskop, namun di lapangan. Makanya kita mengenalnya dengan Bioskop Misbar, jika gerimis filmnya bubar, karena penonton beratapkan langit. Keunggulan misbar adalah sifatnya yang mobile. Ia bisa pindah ke lain tempat. Pindah ke lain lapangan. Juga pindah ke lain hati. Eh …

Era kejayaan bioskop mulai redup dengan bermunculnya persewaan kaset. Orang cukup menyewa kaset di tempat rental lalu menontonnya di rumah bersama keluarga dengan alat pemutar elektronik. Era itu pun juga redup dengan bermunculnya stasiun televisi yang menayangkan beragam film. Tak perlu mengeluarkan uang. Namun kita tak bisa memilih film apa yang hendak kita tonton. Karena harus menyesuaikan dengan jadwal siaran televisi. Namun era kekinian, dengan internet, menonton film menjadi lebih mudah. Juga murah. Dan bisa di mana saja. Kita bisa memilih jenis film yang kita sukai. Ada genre komedi, perang, horor, kartun, misteri. Juga film dengan latar belakang dari berbagai negara.

Beberapa waktu lalu saya menonton film yang menyangkut mistaken conviction. Film yang mengisahkan seseorang yang divonis bersalah melakukan kejahatan. Padahal orang tersebut bukanlah pelaku sebenarnya. Dan tragisnya, hukuman yang diterimanya adalah hukuman mati. Yang pertama adalah “True Crime”, dirilis tahun 1999 dan dibintangi oleh Clint Eastwood. Eastwood selain sebagai pemain juga sekaligus sutradaranya. “True Crime” bercerita tentang Steve Everett, wartawan media cetak yang kecanduan dengan alkohol. Sebagai seorang alkoholik, Everett yang sebenarnya berbakat sulit mendapatkan kepercayaan dari atasannya, karena dikhawatirkan tulisannya tidak obyektif.

Namun lama-kelamaan ia pun sadar bahwa hidup harus terus berjalan. Kebiasaan minum-minuman keras pun ia tinggalkan. Berpaling dari alkohol buah manis yang didapatkan. Everett mendapatkan kepercayaan untuk menulis sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan Frank Beechum. Sebenarnya tugas menulis kasus tersebut diberikan kepada rekan perempuan Everett namun sebuah kecelakaan mobil membuat rekannya mati. Kesempatan besar pun dimanfaatkan sekali oleh Everett untuk melanjutkan investigasi jurnalistik.

Banteng Ternak

Senin, 21 November 2016

Mama Cantik Anter Anak, disingkat Macan Ternak, istilah ini pernah rame. Udah agak usang sih, kalo dimunculin sekarang. Enam tahun sudah membersamai para macan ternak ini. Dan bertahun-tahun ke depan, nampaknya masih bersua. Gue, bersama segelintir kaum adam, menjadi Banteng Ternak, Bapak Ganteng Anter Anak, hehehe… Komplit, anter dan jemput. Pak mentri Anis sampai menghimbau para orangtua untuk mengantar dan mendampingi nak-anak mereka berangkat sekolah. Tapi bliau lupa, tidak bikin himbauan menjemput nak-anak. Ya, bingunglah nak-anak itu, pulang sama siapa? So, pak Anis melayang, kena risapel.

Tahun ini si kaka ketiga masuk SD. Pas gue lagi cuti. Gue ambil 10 hari. Ada pekerjaan bongkar-bongkar rumah. Kalau diitung-itung ini renovasi yang ketiga. Repot nian. Nggak enak kalau disambi ngantor. Nggak bisa fokus. Seragam keki kayak polisi India atau hem batik khas produk lokal, ples sepatu hitam (jarang disemir) yang biasanya gue kenakan di kantor tergantikan dengan kaos oblong, celana kargo, dan sandal jepit. Kemana-mana bawa tas cangklong kecil. Isinya hape, amplop, dan catatan bahan bangunan yang akan dibeli. Juga nota dari berbagai toko material, toko keramik, dan toko elektrik. Bermacam saku yang ada di kaos dan celana berisi uang receh, paku, obeng, mur, baut. Waktu jemput pulang si kaka, kadang-kadang tas sekolahnya gue isi dengan kaleng cat.

Yang gue khawatir tuh, pas jemput anak, takutnya ada yang curiga gue penculik. Lha biasanya nak-anak dijemput sesosok pekerja kantoran, kini dijemput sesosok asing. Penampilan udah nggak kayak pegawai lagi. Nggak lagi klimis, nggak berbaju necis, nggak berkantong tipis (punya duit kes tapi hasil ngutang dan bongkar tabungan). Kumis berlebatan, jenggot bertumbuhan, cambang bertaburan, rambut bergondrongan, gigi berhamburan. Coba, tangan kiri terangkat ke atas. Mengepal. Tak gentar. Sembari mulut bersenandung, “… Mereka dirampas haknya, terkubur dan lapar…. !” Mungkin ada yang bilang udah kayak dokter Che Guevara aja, eaa…

Entahlah, sudah berhari-hari tak bercermin, kondisi rumah masih acakadut. Sisir, nggak tahu raib kemana. Tapi waktu rumah sudah agak rapi, pelan-pelan gue tatap wajah di cermin. Perlahan. Eh, lah kok kayak Tom Cruise saat main pilem The Last Samurai ya. Apa lo, apa lo! Para Mahmud, mamah-mamah muda, nggak usah baper lah. Nggak usah nyinyirin muka gue, meskipun waktu muda ada juga yang ngatain mirip Yana Julio pake kacamata. Bukankah cinta dating, untuk menyatukan dua hati yang berbeda. Dan tiada memaksakan, satu keinginan, atas keinginan yang lain. Karena cinta, untuk cinta. Gak nyambung? Suka-suka gue.

Film Heroik Tentara Pelajar

Senin, 27 Juni 2016

Salah satu perang saudara yang terkenal di kawasan Asia adalah Perang Korea yang dimulai pada bulan Juni 1950 antara Korea Utara dan Korea Selatan. Hakekatnya perang ini melibatkan dua negara besar di belakangnya, yakni Tiongkok di belakang Korea Utara dan Amerika Serikat di belakang Korea Selatan. Saat itu Korea baru saja lepas dari pendudukan Jepang. Penjajahan Jepang sendiri telah mendatangkan kerugian yang amat besar. Jutaan lelaki Korea dikirim ke luar negeri untuk menjadi tenaga kerja paksa. Sementara kaum perempuannya dijadikan budak seks tentara Jepang.

Pasca Perang Dunia II yang dimenangkan sekutu, Jepang meninggalkan Korea. Korea terbagi dua menjadi Korea Utara yang berpaham komunis dan Korea Selatan yang berpaham kapitalis. Korea Utara memulai invasi dengan ratusan ribu tentara dan berhasil menguasai beberapa wilayah. Korea Selatan yang jumlah tentara dan persenjataan militernya kalah unggul menjadi terdesak. Amerika Serikat akhirnya turun langsung ke medan peperangan membantu Korea Selatan. Di pihak lain, Tiongkok yang negara komunis dan juga tetangga Korea Utara akhirnya ikut terjun dalam peperangan membantu Korea Utara.

Perang ini berakhir pada Juli 1953 saat Amerika Serikat, Tiongkok, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan menolak menandatanganinya meskipun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata. Namun secara resmi, perang ini belum berakhir. Hingga saat ini masih sering terjadi ketegangan di antara kedua Korea, terutama di perbatasan. Perang Korea mengakibatkan ratusan ribu tentara kedua Korea tewas. Turut tewas ribuan tentara Amerika Serikat dan Tiongkok. Sedangkan korban dari penduduk sipil diperkirakan 2 juta tewas.

Perang saudara di Korea pada tahun 1950-an tersebut meninggalkan kisah yang menarik. Salah satu di antaranya adalah peran para pelajar memanggul senjata turun di medan laga mengalami perang orang dewasa. Mempertahankan tanah airnya, anak-anak muda berusia remaja itu tewas tertembus peluru tajam maupun lontaran mortir. Film berjudul “71 Into the Fire” menggambarkan hal tersebut. Film ini diangkat dari kisah nyata tentang puluhan pelajar Korea Selatan yang secara heroik mempertahankan sebuah sekolah dari serbuan ratusan tentara Korea Utara. Film yang berjudul asli “Pohwasogeuro” ini dirilis tahun 2010.

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (81) saat kuliah (71) oase (65) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (47) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)