Dengki Penyebab Binasa

Selasa, 31 Januari 2012

Rasulullah saw bersabda, “….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari).

Selain menyerang fisik penyakit juga menyerang hati, bahkan penyakit hati inilah yang amat berbahaya. Penyakit hati tidak diartikan sebagai sakit liver namun lebih pada kondisi hati yang merasa iri, dengki, sombong, dan sebagainya. Akibat penyakit hati bisa menimbulkan kesengsaraan di neraka secara abadi. Bahkan bisa menimbulkan kebinasaan di dunia sebelumnya. Perhatikan cerita di bawah ini.
 
Adalah dua orang tabib. Yang satu bernama Bejo, satunya lagi bernama Kampret. Mereka berdua bekerja pada seorang raja. Raja ini terkenal mudah tersinggung, tak segan menghukum kepada siapa saja yang membuat hatinya terluka. Agaknya raja lebih senang dengan pelayanan yang diberikan oleh Bejo, buktinya setiap kali ia atau anggota keluarganya sakit atau hendak memeriksa kondisi tubuhnya, yang kerap dipanggil adalah Bejo. Bejo, meskipun lebih yunior dibandingkan Kampret, sanggup mengatasi sakit raja dan keluarganya.

Bejo memang termasuk tabib yang cerdas. Ia tak berhenti untuk belajar. Di sela-sela waktunya untuk melakukan pengobatan, ia pun banyak melakukan percobaan membuat ramuan-ramuan obat terbaru. Tak heran akhirnya Raja pun menyenanginya. Penghasilannya bertambah banyak.

Hal sebaliknya terjadi pada Kampret. Ia sebenarnya senior dari Bejo. Tapi merasa ilmu yang diperolehnya telah cukup maka tak pernah ia melakukan inovasi. Raja pun jarang memakai tenaganya. Akibatnya pendapatannya juga semakin seret. Lambat laun muncullah rasa dengki di hatinya. Ia menyiapkan rencana untuk menyingkirkan Bejo.

Kampret menemui sang raja. Diceritakan sebuah rahasia bahwa sebenarnya Bejo benci sekali dengan raja. Tandanya adalah Bejo tak mau duduk dekat dengan raja. Jika Bejo berbicara, pasti ia menutup mulutnya. Raja tercenung, darahnya mendidih. Benarkah ada orang benci kepada dirinya, apalagi itu tabibnya sendiri.

Hari itu Bejo mendapatkan panggilan Raja. Untuk menuju ke istana raja ia melewati rumah Kampret. Di depan rumah, Kampret sengaja menanti Bejo. Saat ketemu diajaklah Bejo bertandang ke rumahnya. Ada jamuan makan sebagai rasa syukur, katanya. Sebagai seorang yunior sulit bagi Bejo untuk menolak permintaan Kampret. Akhirnya makanlah Bejo di rumah Kampret yang ternyata menunya adalah jengkol yang memang berbau tajam. Mau tak mau Bejo pun memakannya. Setelah usai dengan jamuan makan Bejo pun pamit karena ada undangan ke tempat raja.

Di istana, raja telah menanti. Bejo disuruh mendekat. Bejo ragu-ragu karena mulutnya masih bau jengkol. Ia takut jika sang raja tak berkenan dengan bau mulutnya dan marah kepadanya. Raja berkata dalam hati, benar juga kata si Kampret. Saat diajak berbicara dengan raja, Bejo pun sering menutup mulutnya. Raja semakin yakin dengan laporan Kampret.

Raja murka namun masih bisa ditahannya untuk tidak diperlihatkan di depan Bejo, mengingat banyak jasa Bejo yang pernah dilakukannya. Saat pulang raja memberikan sepucuk surat kepada Bejo. Katanya ia akan memberikan hadiah kepada Bejo sesuai isi surat itu. Bejo tak mengetahui isi suratnya. Perintah raja surat itu harus diberikan dulu kepada pegawai kerajaan yang bernama Panjul yang tinggal di pinggir kota.  

Bejo pun pamit untuk segera menyerahkan surat. Lewat di depan rumah ternyata Kampret telah menantinya. Kampret bertanya apa yang dibawanya. Dijawab oleh Bejo bahwa ia diberi hadiah oleh sang raja namun terlebih dahulu harus menyerahkan surat kepada Panjul. Serta merta Kampret yang masih menyimpan bara dengki meminta kepada Bejo agar ia saja yang menyerahkan surat itu. Sebenarnya Bejo keberatan, namun karena didesak terus akhirnya diserahkannya surat.

Dengan riang hati berangkatlah Kampret ke rumah Panjul. Setelah bertemu disampaikanlah surat yang langsung dibaca dengan keras oleh Panjul, ”Perintah dari raja. Penggallah kepala orang yang membawa surat ini!” Cresss...binasalah dia.

”Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR Abu Dawud).

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (171) coretan (126) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)