Ironi Sang Penjajah

Kamis, 23 Juni 2016

Lelaki itu bertubuh tinggi, gagah, dan flamboyan. Karir politiknya terbilang singkat. Namun dalam waktu singkatnya itu, ia melesat. Anak ketiga dari enam bersaudara ini pernah bercita-cita menjadi pendeta. Pernah pula sibuk dalam dunia mengajar dan menulis sebelum akhirnya terjun di dunia politik. Sempat bersimpati dengan gerakan komunis, bergabung bersama partai buruh, lalu berubah haluan ke kanan dengan bergabung bersama partai liberal konservatif. Pim Fortuyn, nama lelaki tersebut.

Jabatan ketua partai pun sempat disandang Fortuyn. Namun, dalam waktu beberapa bulan ia diturunkan, akibat perbedaan sudut pandang. Tak lama kemudian ia mendirikan partai politik baru. Beberapa jajak pendapat memprediksikan partainya akan mendominasi parlemen, sehingga jalan perdana menteri pun tak mustahil akan diraihnya. Sebagian publik Belanda menyebutnya sebagai politisi yang mengantarkan era baru.

Fortuyn adalah tokoh yang populer sekaligus kontroversial. Banyak pula yang menyebutnya sebagai sosok ekstrimis. Ia menganjurkan untuk menghapus larangan diskriminasi yang tercantum dalam amandemen pertama konstitusi Belanda. Secara terus terang ia menyatakan sebagai seorang homoseksual, anti imigran, dan berpandangan negatif terhadap Islam. Hal terakhir tersebut disebabkan Islam tak menolerir perilaku homoseksual. Ia menyebut Islam sebagai kebudayaan yang mundur.

Mei 2002, sembilan hari sebelum diselenggarakannya Pemilu di Belanda, tubuh Fortuyn tergeletak di pinggir jalan. Ia baru saja menyelesaikan wawancara di sebuah stasiun radio di Kota Hilversum. Petang itu seseorang menembaknya, tepat di dada dan leher. Enam kali tembakan membuat nyawa Fortuyn melayang. Ini adalah kasus pembunuhan politisi pertama dalam sejarah Belanda modern setelah William The Silent yang tewas ditembak pada tahun 1584 di Kota Delfi. Akibat sikap “nyinyirnya” terhadap agama Islam, sempat diduga pelakunya adalah Muslim. Namun ternyata pelaku penembakan adalah aktivis lingkungan, seorang pria kulit putih warga asli Belanda.

 
Kisah pembunuhan Fortuyn difilmkan dengan judul “0605”. 0605 menunjukkan tanggal kematian Fortuyn, yakni 6 Mei. Film ini dibuat oleh Theo van Gogh, yang tragisnya bernasib sama dengan tokoh yang ia buat filmnya, tewas terbunuh. Theo memang sama kontroversialnya dengan Fortuyn. Pernyataan Theo kerap menghina Islam secara keras, terutama sekali setelah kejadian serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Ia mengarang buku berjudul “Allah Weet Het Beter” yang mengandung kritik terhadap agama Islam dengan cara yang sinis dan menyindir.

Bersama Ayaan Hirsi Ali, perempuan anggota parlemen kelahiran Somalia yang mengaku bekas Muslim, Theo membuat sebuah film kontroversial, “Submission”. Film ini mengisahkan tentang kekerasan yang konon sering dialami oleh perempuan Islam. Dalam film, para perempuan tersebut memaparkan kisahnya dengan mengenakan pakaian yang tembus cahaya dan tubuhnya dihiasi dengan ayat-ayat Al Quran. Semenjak film beredar, Theo dan Hirsi Ali acap menerima ancaman pembunuhan. Ancaman yang tak main-main. Selasa pagi, 2 November 2004, Theo didapati tewas di depan kantor Amsterdam East, di sudut Jalan Linnaeusstraat dan Mauritskade. Kerabat jauh dari pelukis terkenal pada abad ke-19, Vincent van Gogh, itu ditikam dadanya. Pada jasadnya ditinggali secarik kertas berisi ancaman terhadap beberapa politisi Belanda.

Aksi pembunuhan berlatar belakang sentimen keagamaan menjadi bibit konflik rasialisme. Padahal pasal pertama Konstitusi Belanda berbunyi kurang lebih demikian, “Setiap manusia di Belanda harus diperlakukan setara tanpa pengecualian. Diskriminasi yang berdasarkan pada agama, kepercayaan, aliran politik, ras, dan jenis kelamin tidak pernah diizinkan.” Tulisan tersebut pun tertatah pada monumen dekat gerbang masuk kantor perdana menteri. Namun diam-diam, warga Belanda berkulit putih merasa tak nyaman dengan kehadiran para imigran yang terutama datang dari Maroko, Turki, dan beberapa negara Afrika.

Adalah Geerts Wilders, politikus Partij Voor Vrijheid. Kematian Pim Fortuyn dan Theo Van Gogh tak menyurutkan sikapnya, bahkan semakin mengukuhkan perasaan rasialisme pada sebagian kalangan warga kulit putih Belanda. Kekuatan politik dari partainya Wilders yang berhasil menjadi partai terbesar ketiga di Belanda pada tahun 2010 mencerminkan tumbuhnya perasaan rasialisme. Wilders berkampanye di mana-mana untuk menyebarkan kebencian terhadap para imigran. Ia juga rajin menghina agama Islam. Salah satu pendapatnya yang kontrovesial adalah, usulnya di parlemen agar wanita berjilbab dikenai pajak sebesar 1.000 euro per tahun. Menurut Wilder, hasil pungutan pajak tersebut akan diberikan kepada berbagai program emansipasi perempuan.

Wilders, yang terkenal sebagai pembuat film “Fitna”, dikenal juga sebagai orang yang anti Indonesia, negeri yang pernah dijajah negaranya selama ratusan tahun. Alasannya sangat rasialis, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Ia memelopori kampanye larangan orang Indonesia, dan juga warga dari Negara Islam, untuk tinggal di Belanda. Menurutnya, semua orang Indonesia tidak boleh tinggal di Negeri Kincir Angin. Tapi konyolnya, desas-desus menceritakan bahwa sebenarnya Wilders merupakan keturunan Indonesia. Ia dilahirkan dari seorang ibu yang berdarah campuran Jawa-India-Yahudi. Ibunya tersebut lahir di Sukabumi, Jawa Barat dan menikah dengan ayahnya yang memang asli Utrecht. Saat remaja, Wilders sering diolok-olok sebagai indo.

Harian "De Groene Amsterdammer" pernah menerbitkan artikel yang menyebutkan bahwa Wilders adalah seorang revanchist kultural, yakni orang yang membalas dendam karena malu akan asal-usulnya, dalam hal ini asal-usul dari Indonesia. Untuk menutupi darah timurnya, Wilders bahkan mengecat rambutnya hingga tampak pirang. Artikel itu menyebutkan, visi politik Wilders mengenai Islam dipengaruhi latar belakang budaya nenek moyangnya di Indonesia. Ia tidak ingin latar belakangnya itu melekat dalam dirinya sehingga dengan berbagai upaya menutupi ciri-ciri keIndonesiannya.

Tampaknya Wilders lupa, atau pura-pura lupa, betapa luar biasanya jasa Indonesia terhadap negeri dan nenek moyangnya. Ratusan tahun dalam masa penjajahan Belanda, kekayaan Indonesia dikeruk, dikuras, dan itu mendatangkan kemakmuran yang sangat besar bagi Belanda. Pada saat yang sama, rakyat Indonesia menderita. Pada abad ke-17 hampir separuh anggaran pemerintah Belanda didapat dari hasil tanam paksa yang diterapkan di Hindia Belanda, nama Indonesia saat itu. Seperti kata Bung Karno, Indonesia serupa gabus yang membuat Belanda masih tetap bisa mengapung. Tanpa Indonesia, bisa jadi Belanda akan karam, terutama pasca Perang Dunia Kedua.

Melihat Belanda menjajah Indonesia di masa silam adalah melihat ironi sebuah bangsa yang culas. Belanda pernah mengalami ketakutan dengan meluasnya medan pertempuran di masa Perang Dunia Pertama. Dalam sebuah artikel di situs historia.id, Bonnie Triyana menuliskan Belanda memang tidak pernah siap untuk berperang, tak punya barisan tentara yang hebat, sebagaimana yang dimiliki oleh Jerman, dan selalu punya kekhawatiran terhadap perang. Bukan saja di negerinya sendiri. Di Indonesia, saat masih bernama Hindia Belanda, pemerintah kolonial Belanda pun selalu cemas terhadap kemungkinan merambatnya perang.

Kala Perang Dunia Pertama berkecamuk di Eropa pada tahun 1914 sampai dengan 1918, pemerintah kolonial Belanda di Indonesia risau. Maka mereka datang dengan ide pertahanan Hindia, atau dikenal dengan sebutan “Indie Werbaar”. Ini adalah proyek pemerintah kolonial untuk membentuk milisi yang terdiri dari warga pribumi untuk mempertahankan diri apabila kelak perang berkecamuk sampai ke Hindia Belanda. Gagasan itu ditolak oleh beberapa tokoh pergerakan Indonesia. Bagi mereka, buat apa ikut bertempur untuk sebuah negeri yang sedang dijajah oleh Belanda. Dan mereka merasa kenapa harus melindungi negerinya dari serangan bangsa asing sedangkan ada bangsa lain yang sedang menjajah mereka. Itulah keculasan penjajah Belanda, yang tak mau menanggung resiko kehilangan jajahannya dan menjadikan warga jajahannya sebagai tameng.

Penjajah Belanda memang tak pernah punya malu. Sebagai bangsa yang pernah dijajah oleh Perancis, Belanda pernah hendak merayakan kemerdekaannya, namun konyolnya perayaan itu dengan meminta sumbangan kepada warga yang dijajahnya di Indonesia. Saat itu tahun 1913. Akibatnya timbul reaksi kritis di kalangan nasionalis, salah seorang di antaranya adalah Suwardi Suryaningrat, kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Tokoh yang kelak mendirikan perguruan Taman Siswa itu menulis artikel di koran De Expres, “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Isi artikel tersebut amat pedas hingga memerahkan telinga penguasa kolonial. Akibatnya ia ditangkap. Kala itu ia masih berusia 24 tahun.

Dalam artikelnya Suwardi menuliskan,” "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Sekali lagi membincangkan penjajahan Belanda sama dengan membincangkan ironi. Setiap tanggal 4 Mei, ribuan orang di Belanda berkumpul memperingati hari pembebasannya dari cengkeraman Nazi Jerman. Ribuan orang menundukkan kepala, berpegangan tangan, mengenang para korban yang meninggal, mengingat kembali tragedi pendudukan Nazi Jerman yang dinilai kejam. Musim semi tahun 1945 Jerman meninggalkan Belanda, namun setahun kemudian, 1946, tentara Belanda sudah kembali ke Indonesia. Nafsu berkuasa dan menjajah memang tak pernah padam, meskipun sempat didera penderitaan terjajah bangsa lain. Baru saja menjadi korban, Belanda bersalin rupa sebagai penjajah lagi, yang justru amat keji.

Terhadap pendudukan Jerman di Belanda, Belanda menganggapnyasebagai aksi pendudukan. Namun saat masa perang kemerdekaan Indonesia, sikap sebaliknya muncul ketika Belanda menyerang Indonesia. Ia tak mengakui sebagai pendudukan, namun Politionele Actie, aksi polisi, aksi untuk menentramkan keadaan. Demikian juga saat Belanda menuduh Jerman melakukan kejahatan perang. Tetapi dalam kasus yang sama ia tak mau mengakui kejahatan perang yang dilakukannya di Indonesia. Kalaupun ada korban, Belanda hanya menyebutnya sebagai ekses. Hingga sekarang Belanda tak mau mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Belanda hanya menganggap Indonesia baru merdeka tanggal 27 Desember 1949, yakni saat penyerahan kedaulatan di  Amsterdam.

Tapi itulah masa lalu. Kini Belanda merdeka dari penjajahan Jerman dan Belanda melepaskan penjajahannya terhadap Indonesia. Tak satu pun bangsa di dunia ini yang mau dijajah, maka pantaslah penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Namun, entah jika penjajahan akan bersalin rupa dalam bentuknya yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)