Gara-gara Ayam

Selasa, 27 September 2011

akuinginhijau.org
Bu Jono tetangga sebelah kiri saya pernah bertengkar hebat dengan Mak Sriah, tetangga sebelah kanan saya. Gara-garanya adalah ayam. Mak Sriah memelihara beberapa ekor ayam. Pagi hingga sore ayam-ayam ini dilepas keluar rumah. Tak jarang ayam pun ”sowan” ke rumah-rumah tetangga dan meninggalkan ”oleh-oleh” berupa kotoran. Rumah kami di Madiun berada di dalam gang yang sempit. Antar rumah berdempetan. Perumahan memang amat padat. Dan sebagaimana lazimnya rumah di dalam gang, maka jarang sekali yang memiliki pagar. Maka sukseslah para ayam meninggalkan ”oleh-oleh”.

Untung rumah saya halamannya cuma berlantaikan semen dan sebagian masih berupa tanah, jadi jika mendapatkan ”oleh-oleh” tinggal disiram dengan air atau ditutup pasir. Kebetulan juga halaman rumah meskipun sempit dan bukan jalan umum sering menjadi lalu-lalang orang lewat, sehingga mau tak mau kotoran ayam itu pun sedikit demi sedikit hilang. Tidak demikian dengan rumah Bu Jono. Terasnya telah berlantai ubin. Dan anehnya, seringnya para ayam suka sekali meninggalkan kotoran di teras itu. Kebetulan pula antara Bu Jono dan Mak Sriyah dikenal tidak akur. Jadilah suatu hari tertayang perang bharata yudha di abad modern, terjadilah episode perang mulut di antara keduanya. Saya memandang dari balik jendela rumah saya yang berada di antara keduanya. Kuping kecil saya yang masih usia sekolah dasar mendengarkan kata-kata keras dari kedua wanita tetangga saya itu.

Dan kini, bertahun-tahun berikutnya perkara ayam ini masih menjadi persoalan. Memang sudah tabiatnya ayam ini tak memandang di mana ia membuang hajatnya. Ia tak peduli apakah itu di area pemiliknya atau sudah menjangkau orang lain. Namanya juga binatang. Tapi bukankah pemiliknya tetap saja manusia. Mestinya ia tanggap.

Meninggalkan Madiun, kini saya tinggal di sebuah perumahan di Ngawi bersama anak istri. Awalnya tak ada masalah, hingga akhirnya muncul ayam-ayam sejak beberapa tahun ini. Kasus ayam antara Bu Jono dan Mak Sriah pun muncul lagi di memori. Saya dulu berpikir masak di perumahan ada yang memelihara ayam layaknya di kampung. Kalau di kampung, ayam-ayam dilepas begitu saja mencari makan dari pagi hingga petang. Jika malam menjelang sang ayam pun kembali ke kandang.

Tapi nyatanya ada juga yang memelihara ayam dengan dibiarkan bebas begitu saja. Si pemilik tak pernah tahu (baca: tak mau tahu) ayam-ayamnya mengganggu stabilitas ketenangan tetangga sekitar. Kebetulan rumah saya belum berpagar, jadilah ayam-ayam sering “sowan” dan meninggalkan “oleh-oleh” di teras saya yang telah berupa keramik. Itu terjadi hampir setiap hari. Alih-alih dapat telur atau ayam panggang, yang pasti dapatnya kotoran ayam, hehehe...rejeki nomplok.

Yang lebih bikin jengkel, sepertinya para ayam itu sengaja mempermainkan saya. Saat saya duduk-duduk di teras sambil baca buku ntuk menjaga agar mereka tidak masuk di kediaman saya, mereka tampaknya segan (iya lah wong mereka cuman ayam hihihi...). Tapi saat saya masuk ke dalam rumah untuk ambil minum, padahal waktunya hanya sebentar tak sampai lima menit, begitu kembali ke teras telah teronggok kotoran ayam. Hebat nian dia. Pukulan telak bagi saya.

Tapi ada juga tetangga saya yang lain yang sempat memelihara ayam dan membuat kandang di depan rumah kini berhenti memelihara ayam. Padahal setahu saya ayam-ayamnya tak pernah dikeluarkan dari kandang. Khawatir flu burung kali ya. Mungkin juga ia serba salah. Mau mengandangkan ayam terus, tak bagus buat ayam. Tapi membiarkannya bebas begitu saja, tak bagus bagi keharmonisan tetangga. Berarti ia termasuk golongan yang peka terhadap lingkungan.

Ada juga tetangga saya yang memelihara ayam dengan membikin pagar di samping rumahnya. Kebetulan halaman samping rumahnya masih ada satu kapling dan dijadikan kandang ayam. Jadilah para ayam bebas berbuat semaunya dan semuanya (berkokok, bertarung, kawin, bertelur, buang hajat) tanpa mengganggu orang. Kalau yang ini jelas bagus buat semuanya, baik untuk ayam, tetangga, maupun ia sendiri. Tanah pun jadi subur karena kejatuhan pupuk dari kotoran ayam.

Saya jadi sempat berasumsi, binatang peliharaan menunjukan kepribadian pemiliknya. Benar nggak ya?

8 komentar:

Tanto mengatakan...

Benar mas. hewan kalau dididik dan dipelihara dengan benar, dia juga akan mengerti kok.

wurianto saksomo mengatakan...

juga bisa mendatangkan uang, misalnya sirkus

indogardengalleries mengatakan...

memangnya ayam mengganggu tetangga ( orang ) ada hukum(undang-undang)nya? seperti tetangga membuat pembuangan sampah ( yg kalau musim hujam jadi bau kemana-mana). sepertinya di negara kita(apalagi di perkampungan), tidak ada yg namanya perlindungan hak manusia yang terkait dengan hal-hal yg disampaikan. bisa jadi karena ayamnya banyak yg hilang/mati, makanya sebagian orang mengurung ayamnya. kalau gak ada yg komplen, paling-paling cuek(makan tuh eek). kalau ada 1 yg komplen, paling balas bilang "namanya juga ayam" atau "kalau merasa keganggu ya pindah aja". karena saya pernah mengalaminya. kuesel benerr...

Anonim mengatakan...

saya punya 1 pertanyaan, bagaimana bila flu burung H5N1 menyebar lagi, dan secara tidak sengaja anggota keluarga kita tertular? apa akan akan anda-anda lakukan? melakukan tindakan pencegahan, atau menunggu kejadian? apa hukumnya untuk sang pemilik?

Indah widya hetty mengatakan...

Seperti yg sy rasakan selsms ini..tetangga pelihara ayam, tp membiarkan ayam berkeliaran..tiap hari pemandangan dpn rmh penuh dg kotoran ayam..yg rasanys sangat mengganggu sekali hingga sy sendiri malas unt keluar rmh.. Msh untung rmh sy ada pagarnya jd kotorn itu hnya ad d dpn rmh, walau kadang lupa menutuo pagar si ayam maduk. Tp ad tetangga dpn rmh yg tdk memiliki pagar, kasihan jg melihatnya pulang kerja cape, eh di teras rmh sdh ad kotoran ayam..tdk itu sj, saat ingin beristirahat tercium khas bau ayam yg kandangnya ada d sebelah kamar. Wkt itu tetangga itu smpt curhat pd sy ttg keluhanya, tp apadaya demi menjaga keharmonisan bertetangga kt lbih banyak diam dan berdoa semoga tetangga yg memelihara ayam itu tau kalau dirinya mengganggu orang lain. sy stuju dg asumsi bpk, bw 'binatang peliharaan menunjukkan bagaimana pemiliknya'

Anonim mengatakan...

selamat sore rekan semua

sepertinya kita mempunyai pengalaman yang sama tentang tetangga yang pelihara ayam, dengan santainya mereka membiarkan ayam2nya berkeliaran dan mengotori rumah para tetangga...

padahal sudah ada undang2 nya (perpu) tentang larangan memelihara unggas di pemukiman (Pasal 1368 Kitab undang-undang hukum perdata):UU No.18, tahun 2009, pasal 29 ayat 2.



Yurianto Kesuma mengatakan...

Kejadian ny juga sama dengan saya.....rencana saya mau membuat ayam tetangga yg nota bene ny masuk kehalaman saya kena penyakit atau mati secara pelan pelan gmn gitu...tp gk tau cara ny....klo ada yg tau cara ny...? Ajarin donk...

ngelurusnolaku mengatakan...

Sama bro ini yg lgi dialami saya , malah kandang ayamya pas di pekarangan b3lakang rumah , malah tanaman ada yg nebang ,adakah cara penyelesaianya bro , soalnya di bilang secra keluarga gk berhasil , apa sya meski lewat hukum . Beri masukan bro

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)