Dendam Sidak

Selasa, 13 September 2011

republika.co.id
Sidak hari pertama pasca cuti bersama lebaran kemarin membawa hasil temuan yang menakjubkan. Tercatat seratusan pegawai terlambat dan tidak masuk kerja tanpa keterangan. Yang mencengangkan instansi yang pegawainya paling banyak terjaring adalah sebuah bagian yang berada di lingkungan sekretariat daerah. Hal ini membuat Pak Sekda marah. Marahnya ada dua, yang pertama merasa tertampar mukanya karena jajaran di bawahnya ”mbalelo”, dan sebab kedua karena berita ini terlanjur menyebar melalui media massa maka dianggap aib.

Sebenarnya temuan ini (hasil sidak) laksana pisau bermata dua bagi instansi pemerintah, terlebih lagi unsur pengawasan. Pisau pertama menunjukkan adanya keberhasilan menangkap basah pelanggaran dalam jumlah yang mencengangkan. Namun pada pisau yang lain menunjukkan bahwa selama ini ternyata pelanggaran menjadi hal yang biasa, dengan jumlah yang sama mencengangkan.

Ibarat gelas yang terisi separuh air. Anda bisa mengatakan gelas itu separuh kosong, namun bisa juga mengatakan gelas itu separuh penuh. Tergantung dari persepsi mana Anda menilai (dan mungkin juga suasana hati). Dan ternyata Pak Sekda mengambil persepsi bahwa mangkirnya pegawai sebagai aib, terutama yang berada di lingkungan kerjanya.

Beliau berjanji akan menertibkan kedisiplinan jam kerja. Dimulai dari bagian-bagian di sekretariat daerah. Setelah tertib beliau juga berjanji akan menertibkan semua kantor. Nah ini yang menurut beberapa orang dendam sidak. Artinya gara-gara di salah satu bagian ditemukan banyak yang mangkir absen kemudian masuk koran, maka ada yang ingin balas dendam agar kantor lain terutama yang ikut menjadi tim sidak juga mengalami nasib serupa.

Tidak perlu takut sebenarnya dengan ancaman sidak lanjutan, asalkan kita memang bekerja sesuai dengan aturan. Cuma kok nuansamya itu lho yang membuat kurang nyaman. Akhirnya seolah-olah ada blok barat dan blok timur yang direpresentasikan dengan letak gedung kantor. Apa ya? Tafsirkan saja sendiri.

Ah...saya hanya berharap itu hanya isu belaka. Yang dibutuhkan adalah kebersamaan dalam kerja demi masyarakat banyak. Selain itu menururt saya, daripada melakukan sidak lanjutan mending membuat terobosan baru di lingkungan birokrasi. Misalnya membuat sistem pemberian insentif bagi pegawai berprestasi (termasuk yang berdisiplin), menghapuskan segala jenis honor (karena dananya untuk memberikan insentif pegawai yang berprestasi tadi), membuat sistem absensi elektronik seperti di Dinkes (di lain tempat selama ini masih manual), menyelenggarakan tes kompetensi jabatan (biar ada kompetisi menuju prestasi di kalangan pegawai).


NB: ternyata sebagian pegawai yang terjaring sidak itu masuk kerja, namun lupa atau tak sempat tandatangan absen, sebagian yang lain sedang turun jaga. So, jangan digebyah uyah mereka malas.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)