Martabat Bangsa

Rabu, 10 Mei 2017

“Mongol”, film besutan sutradara Sergei Bodrov dari Rusia ini berkisah tentang pemimpin bangsa Mongolia di abad 12, Jenghis Khan. Digambarkan, saat itu Mongol bukanlah kerajaan besar namun hanyalah kumpulan suku yang terpecah-pecah. Bukan hal yang mudah untuk mempersatukan ratusan suku yang cenderung saling bermusuhan. Temujin, nama muda Jenghis Khan, bercita-cita menyatukan mereka. Temujin adalah anak sulung Eisugei, kepala suku Kiyad. Namanya diberikan sang ayah dari nama musuh yang dibunuhnya.

Temujin masih bocah kecil saat bersama sang ayah menemui suku Merkit. Temujin disuruh memilih jodoh yang akan dinikahinya kelak di kemudian hari. Borte, si gadis kecil, menjadi pilihannya. Lalu pulanglah Temujin dan sang ayah. Dalam perjalanan pulang tersebut, Eisugei menemui ajalnya diracun musuh. Inilah titik balik kehidupan Temujin. Sepeninggal sang ayah, suku-suku musuh berani mengganggu hingga mengakibatkan penderitaan luar biasa bagi Temujin dan keluarganya. Kehidupan yang keras ini menempa Temujin menjadi pribadi yang tangguh.

Suatu saat, Temujin kecil  hampir saja mati jika tidak ditolong oleh Jamukha, anak suku lain. Mereka berdua menjadi bersaudara. Kelak mereka berdua bahu-membahu dalam menghadapi musuh, namun pada akhirnya saling berhadapan dalam peperangan. Selama hidupnya Temujin terus dikejar musuh. Seringkali tertangkap, tapi selalu selamat berkat bantuan orang-orang yang pernah setia kepada ayahnya. Borte, yang ditemuinya di masa kanak-kanak alhasil menjadi istrinya. Bersamanya ia hadapi suka dan duka. Pelan namun pasti, Temujin membentuk tentara dan berhasil memperkuatnya. Di bawah naungannya bangsa Mongol digdaya.

Tentara Mongol merupakan salah satu kisah keberhasilan gemilang sejarah militer dunia, tulis Stephen Tumbull dalam “Mongol Warrior 1200-1350”. Di dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Laskar Mongol” ini, dijelaskan bahwa di bawah kepemimpinan Jenghis Khan dan para penerusnya, tentara Mongol menaklukkan sebagian besar dunia. Mereka bertarung di padang rumput beku di Rusia, di padang belantara Palestina, di rimba pulau Jawa, dan sungai-sungai besar Tiongkok. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, baik Eropa maupun Asia terancam oleh musuh yang sama.


Kebangkitan bangsa Mongol dari hanya satu di antara sejumlah suku nomaden yang saling bersaing di Asia Tengah hingga menjadi kekuatan yang mengguncang dunia berawal dari penyatuan. Di semua medan pertempuran, tentara Mongol menunjukkan kemampuan luar biasa untuk meniru, beradaptasi, dan menyempurnakan beragam teknik dan teknologi militer, mulai dari persenjataan, pengepungan, sampai pertempuran laut. Mereka paling ditakuti ketika merangsek menyerang pemukim menetap yang tak siap, bagaikan gerombolan iblis penunggang kuda. Tentara Mongol merupakan ahli perang psikologis. Reputasinya menimbulkan ketakutan luar biasa.

Trias Kuncahyono dalam “Akhir Sejarah” memberikan gambaran teror tentara Mongol kepada lawannya. Teror itu terjadi tanggal 12 Muharam 656 atau 19 Januari 1258. Sebanyak 200.000 tentara berkuda Mongol mengepung Baghdad yang hanya dijaga 10.000 tentara berkuda. Di bawah pimpinan Hulagu, pasukan Mongol mendirikan tenda di sekeliling tembok kota. Semula Khalifah Al-Mu’tashim dari Bani Abbasiyah, penguasa Baghdad, bersama rakyatnya bertekad akan menghadapi pasukan Mongol. Namun, akhirnya menyadari bahwa kekuatan mereka tidak seimbang. Daripada darah orang-orang tak berdosa membasahi bumi Baghdad, Al-Mu’tashim dan dua putranya disertai para pembesar istana memutuskan menemui Hulagu.

Apa yang terjadi ketika Khalifah dan rombongannya bertemu Hulagu? Mereka dibunuh. Niat baik dibalas dengan kekejaman luar biasa. Al-Mu’tashim dipenggal kepalanya. Hulagu lantas memimpin pasukannya masuk Baghdad. Mereka membunuh 800.000 laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tinggal di Baghdad. Jenazah mereka dibiarkan bergelimpangan di mana-mana selama 40 hari. Darah mengalir bagaikan sungai dan bergerak mengalir masuk Sungai Tigris.

Menurut ahli sejarah barat R.J. Rummel, diperkirakan sekitar 30 juta orang terbunuh dibawah pemerintahan kerajaan Mongol dan sekitar setengah jumlah populasi Tiongkok habis dalam 50 tahun pemerintahan Mongol. Sebuah negeri yang menyerah diwajibkan memberikan upeti dan menjadi wilayah koloni yang harus tunduk. Sebaliknya jika sebuah negeri takluk dengan cara perang, maka semua yang ada di dalamnya dibantai, tak peduli warga sipil, wanita, ataupun anak-anak.

Kerajaan Mongolia pernah berencana menyerang negara Eropa Barat, seperti Perancis dan Romawi. Beberapa negara di Asia Tenggara yang pernah tunduk kepada Mongol adalah Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Burma. Namun tidak semua invasi tentara Mongol membuahkan kemenangan, meskipun jumlahnya kecil. Mongol pernah gagal menguasai kerajaan yang saat ini menjadi bagian dari Indonesia. Di Jawa, tentara Mongol pulang dengan kerugian yang amat besar. Ribuan tentaranya tewas. Saat itu kerajaan Mongol di bawah kuasa Kubilai Khan, cucu Jenghis Khan.

Kubilai Khan mengirim utusan ke banyak negara untuk meminta mereka tunduk di bawah kekuasaannya dan membayar upeti. Men Shi adalah utusan yang dikirim ke kerajaan Singasari yang berada di tanah Jawa. Kertanegara, sang raja Singasari, membalas permintaan tersebut dengan memotong telinga Men Shi dan mengusirnya. Mengetahui hal ini Kubilai Khan murka, lantas mengirim ribuan pasukan untuk menyerang Singasari. Belum sampai tentara Mongol berlabuh ke pantai Jawa, huru hara timbul di Singasari. Kertanegara tewas dikudeta oleh Jayakatwang yang lalu mendirikan kerajaan Kediri.

Saat tentara Mongol tiba mereka tak menyadari adanya pergantian kekuasaan. Perintah untuk tentara Mongol adalah untuk menghukum raja Jawa. Jayakatwang-lah yang kena abunya. Perang pun terjadi dan hasilnya Jayakatwang kalah. Penghancuran tentara Jayakatwang oleh tentara Mongol tersebut dibantu oleh Raden Wijaya yang tak lain adalah menantu Kertanegara. Seperti adagium di ranah politik, tak ada kawan yang sejati, yang ada adalah kepentingan. Setelah berhasil membantu tentara Mongol, Raden Wijaya dengan cerdik menghancurkannya. Tentara Mongol terusir. Saat itu 31 Mei 1293 yang akhirnya menjadi hari jadi Surabaya.

Raden Wijaya sendiri kemudian mendirikan kerajaan Majapahit yang beberapa saat kemudian wilayahnya hampir meliputi Indonesia saat ini. Ia bertahta dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Saat itu 10 November 1293. 652 tahun kemudian, pada tanggal yang sama, di tempat tentara Mongol terusir, terjadi perang besar. Belum genap 3 bulan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya setelah dijajah bangsa-bangsa lain. 10 November 1945 di Surabaya, tentara Inggris yang baru saja memenangkan Perang Dunia II bertempur dengan tentara Indonesia yang dibantu oleh rakyat. Ribuan orang jatuh korban. Ribuan lain mengungsi.

Pertempuran Surabaya ini menjadi salah satu simbol nasionalisme rakyat Indonesia mengusir kolonialisme. Pertempuran ini dan pertempuran-pertempuran lain meneguhkan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Kemerdekaan, saat itu diwujudkan dengan mengusir para penjajah, meskipun tak hanya perang an sich. Portugis, Belanda, dan Jepang terusir. Bangsa Mongol yang mencoba menginvasi pun tersingkir. Kemerdekaan semestinya tak cukup dirayakan dengan mengibarkan bendera merah putih atau membuat tulisan “NKRI Harga Mati”.

Namun, ada yang mengatakan (dengan nada getir), kita memang sudah merdeka, namun sejatinya belum berdaulat. Apa daya? Kita negara agraris namun beras masih bergantung negara lain. Kita negara maritim namun garam saja masih mengimpor. Apa mungkin air laut kita telah kehilangan rasa asinnya? Jutaan generasi muda menjadi generasi teler karena dicekoki narkoba. Narkoba itu diselundupkan dari negara lain. Puluhan undang-undang ditengarai dibiayai oleh asing, tentu saja dengan maksud untuk menguntungkan pihak asing itu. Utang kita masih banyak, dan malah diperbanyak oleh pemerintah.

Saya jadi teringat dengan puisi Dedy “Nagabonar” Mizwar. “Bangkit itu marah, marah bila martabat bangsa dilecehkan. Bangkit itu malu, malu menjadi benalu, malu karena minta melulu”. Sekian.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)