Alun-alun Kota Madiun

Jumat, 15 Oktober 2010

Namanya alun-alun biasanya berada di pusat kota. Demikian juga alun-alun di kota kelahiran saya, Madiun. Dari rumah saya di Jalan Sarean Taman tidak terlalu jauh, ya kira-kira 2 km ke arah utara. Dari Jalan Sarean menyusuri Jalan Musi kemudian belok ke kanan di Jalan HA Salim, langsung lurus ketemu alun-alun Madiun. Kalau naik sepeda 15 menit pun sampai. Kadang-kadang saya susuri jalan-jalan itu dengan lari-lari, olahraga pagi. Itu aktivitas yang rutin saya lakukan saat masih menjadi pengangguran seusai menyelesaikan kuliah di Jogja. Pulangnya melalui Jalan Sudirman, sampai perempatan tugu  kemudian belok kanan ke Jalan Cokroaminoto. Mampir di depan SDK Santa Maria membeli kue leker.

Kalau Anda tidak mengenal Madiun kemudian tersesat di alun-alun dan ingin menanyakan di mana letak Pasar Sleko tanya saja sama Bapak Kolonel Marhadi. Ya Bapak Kolonel Marhadi ini berwujud patung yang sangat besar yang ada di area alun-alun. Dengan berseragam militer, tangan kanannya menunjuk ke arah selatan tepat di Pasar Sleko yang jauhnya kira-kira 2 km.

Di sebelah barat alun-alun terdapat masjid, Masjid Agung Baitul Hakim namanya. Masjid ini sudah beberapa kali direnovasi. Saat ini pun masih dalam proses renovasi sebagai persiapan Kota Madiun akan menjadi tuan rumah MTQ. Di kompleks masjid tersebut dulu ada sekolah MI Islamiyah, salah satu sekolah favorit di Madiun, namun sekarang bangunannya telah dibongkar. MI sendiri sudah pindah. Saya pernah mengalahkan murid MI Islamiyah saat cerdas cermat antar SD yang disiarkan langsung RRI Madiun.

Di sebelah utara alun-alun terdapat kantor Pemkab Madiun, di sebelahnya ada Gedung Bioskop Arjuna Teater, namun sekarang mangkrak, ada tulisan dijual. Di sebelah timur alun-alun terdapat beberapa pertokoan, di antaranya Presiden Plaza (PP). PP dulu terkenal ramai. Ia merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Madiun di tahun 1990-an. Waktu pembukaannya saya masih SD kira-kira kelas 3. Ramai sekali waktu pertama dibuka. Berduyun-duyun orang datang menyaksikan sampai banyak yang tidak masuk ke dalam, termasuk saya. Namun akhirnya PP kalah bersaing dengan supermarket lain sehingga sekarang menjadi toko HP.

Seingat saya di alun-alun pernah terdapat SPBU (Pom Bensin), namun sekarang sudah lenyap. Di sebelah selatan alun-alun juga terdapat kompleks pertokoan. Dulu yang terkenal adalah Toko Bandung yang menyediakan berbagai jenis busana, bahkan ia mempunyai 2 toko. Kemudian ada Toko Amin yang khusus menjual buku-buku dan alat tulis. Ada juga toko-toko penjual barang elektronik dan kaset yang berada di Jalan Bogowonto. Di sepanjang Jalan Bogowonto itu pula dulu di tahun 1980-an banyak terdapat warung tenda. Sekarang sudah tidak ada. Jalan itu bersih dari PKL.

Agak ke selatan sedikit ada Jalan Kutai. Di sana merupakan sentra toko emas. Berjejer dari barat ke timur toko-toko emas saling bersaing. Di Jalan Kutai terdapat sebuah pasar tradisional yakni Pasar Kawak. Itulah sebabnya kenapa saat mengikuti pelajaran di SMP, saya dan teman-teman sering merasakan bau soto. Ya, karena letak SMP saya, yakni SMP 2 Madiun berdempetan dengan bagian belakang Pasar Kawak yang terdapat warung soto.

Karena letaknya dekat dengan alun-alun maka saat pelajaran olahraga kami yang dari SMP 2 berolahraga di sana. Beberapa sekolah juga menggunakan alun-alun untuk pelajaran olahraga seperti SMP 5 Madiun, MI Islamiyah, dan beberapa SD sekitarnya. Di dalamnya dulu ada lapangan voli, ada juga lapangan untuk bermain bola lengkap dengan tiang gawangnya. Saya kurang tahu apakah sekarang alun-alun masih dipakai untuk pelajaran olahraga atau tidak.

Jika sore hari alun-alun dipakai untuk bermain bola dari beberapa kelompok. Dulu kakak saya mempunyai klub sepakbola Bayangkara yang melakukan latihan rutin di alun-alun. Itu pada tahun 1980-an. Banyak pohon cemara di sekeliling alun-alun.

Malam hari alun-alun bertambah ramai terutama jika malam minggu. Bahkan alun-alun menjadi sesak pada malam tahun baru dan malam suro (tahun baru Hijriyah). Jalanan menjadi macet. Meskipun sebenarnya tidak ada hiburan seperti konser musik. Orang-orang hanya berjalan-jalan saja atau nongkrong di dalam maupun di sekitar alun-alun.

Bersama teman-teman sekampung biasanya saya naik sepeda berboncengan ramai-ramai menuju alun-alun. Saat itu saya masih SMP. Kami hanya begadang saja sambil ngobrol-ngobrol di area dalam alun-alun yang masih gelap. Saat itu belum banyak lampu di sudut-sudutnya. Bau pesing dan ceceran sampah ada di mana-mana. Di beberapa tempat tampak para penjual obat yang berpidato sangat meyakinkan tentang keampuhan obat dagangannya. Ada juga yang bermain sulap sambil berdagang. Yang menarik adalah main catur. Jika ada yang bisa mengalahkan bandar dalam 3 langkah maka ia mendapat hadiah rokok 1 bungkus.

Kadang-kadang kami nontong film di Ajuna Teater yang ada di sebelah utara alun-alun. Menurut saya Arjuna Teater ini peringkat nomor 3 dalam dunia perfilm-an di Kota Madiun. Peringkat pertama adalah Madiun Teater (MT), berikutnya adalah Lawu Teater, Arjuna Teater, dan terakhir adalah Fatimah Teater. Sekarang semua teater itu tinggal nama saja. Gedung MT  dan Arjuna mangkrak, hendak dijual oleh pemiliknya. Lawu sekarang menjadi Pasaraya Sri Ratu. Sedangkan Fatimah sekarang menjadi arena fitnes. Saya sudah lama tidak nonton film di teater. Terakhir kira-kira saat kelas 3 SMA di Madiun Teater, 13 tahun yang lalu.

Kini saya tinggal di Ngawi karena bekerja dan berumah tangga di sana. Saat berkunjung ke orang tua di Madiun kadang-kadang saya ajak istri dan anak-anak ke alun-alun Madiun. Di sana pagi hari kami bisa menyantap bubur ayam sambil lesehan. Letaknya di selatan alun-alun. Atau makan soto ayam dan gado-gado di sebelah utara, sambil lesehan juga.

Alun-alun sekarang berbenah. Di sebelah utara sudah dibangun paseban. Di tengah-tengah juga sudah ada taman. Kabarnya Pemkot menghabiskan biaya besar untuk mempercantik salah satu ikon kota Madiun ini. Mudah-mudahan jika sudah selesai masyarakat dan pemerintah sanggup merawatnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)