Pelajaran Isra’ Mi’raj

Sabtu, 09 Juli 2011

Saya mengambil pelajaran semut yang menempuh perjalanan jauh namun dilakukan secara singkat dari Ngawi ke Singapura tatkala mendengar khotbah Jumat kemarin. Cerita aslinya memang tidak seperti itu, saya modifikasi. Pelajaran ini mengingatkan kita pada perjalanan Nabi Muhammad di malam hari ribuan tahun silam. Isra’ Mi’raj, ya Isra’ Mi’raj, perjalanan malam yang menempuh jarak ribuan kilometer dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan dari MasjidilAqsha ke Sidratul Muntaha. Perjalanan itu hanya dilakukan dalam waktu semalam saja. Allahu Akbar.

Apa reaksi orang-orang saat itu saat beliau menceritakan pengalamannya? Gila, Muhammad telah gila. Banyak orang yang mencemoohnya. Namun, seorang sahabat yang mendengar cerita ini seketika langsung membenarkan Muhammad, bahkan jika pun lebih dari itu pengalamannya ia akan tetap mempercayainya. Dialah Abu Bakar, yang di belakang namanya ditambah dengan Ash Shiddiq, yang membenarkan.

Jaman itu belum ada pesawat. Belum ada peralatan modern super canggih. Wajar jika muncul ketidakpercayaan, akal manusia belum menjangkau. Perjalanan jauh orang-orang jaman itu menggunakan sarana binatang yang memakan waktu berbulan-bulan.

Ada lagi satu teori tentang perjalanan Nabi Muhammad yang super cepat itu. Mungkin para ahli fisika bisa lebih menjelaskannya. Dengan jarak yang begitu jauhnya yang hanya ditempuh dalam waktu yang pendek, maka tubuh manusia pasti akan hancur. Namun kenyataannya tubuh Nabi Muhammad masih utuh. Lalu siapakah yang bepergian itu, tubuhnya atau rohnya saja?

Pak Agus Mustofa mengatakan tubuhnya. Sederhananya seperti ini, tubuh itu berubah wujud menjadi cahaya yang melesat dengan sangat cepat (sesuai dengan kecepatan cahaya). Setiba di tempat tujuan berubah wujud lagi menjadi tubuh. Saat itu Nabi Muhammad ditemani oleh Malaikat Jibril dan naik Buroq. Terbuat dari apakah malaikat itu? Ya benar, cahaya. Sedangkan Buroq itu sendiri dalam bahasa Arab, arti sebenarnya adalah kilat!

Masuk akal? Tentu, hanya mungkin akal manusia saat itu belum sampai ke sana. Bahkan hingga kini mungkin teknologi untuk merubah wujud belum diketemukan.

Dulu orang mengatakan mustahil bisa bicara langsung dengan orang lain yang berbeda jarak jauh sekali. Namun bukankah sekarang ada telepon. Bahkan dengan chatting kita tidak sekedar mendengar saja namun juga melihat lawan bicara kita. Bukankah suara yang kita ucapkan itu berubah wujud berupa gelombang yang kemudian diterima oleh lawan bicara kita persis sama dengan yang kita ucapkan.
 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)