Inggris Gado-gado

Selasa, 26 Juli 2011

Ketika menjabat Menkopolkam pada 2003,  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mendapat penghargaan sebagai pejabat negara berbahasa lisan Indonesia terbaik. Ketika menjabat Presiden RI, SBY kerap membumbui pidatonya dengan istilah-istilah Inggris. Pemakaian istilah Inggris secara berlebihan (English gado-gado) justru membuat bingung dan bahan tertawaan wartawan. Namun, pidato setelah membuka perdagangan hari pertama tahun 2011 di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa digolongkan yang paling meriah “English gado-gadonya.” Dalam pidato tersebut, kalimat-kalimat bahasa Inggris disertai dengan terjemahan bahasa Indonesia yang justru membuat para pendengarnya bingung.

Dalam tiga puluh menit pertama saja, atau sebelum dimulainya dialog dengan para investor, SBY menggunakan 24 frasa berbahasa Inggris. Itu artinya, hampir tiap satu menit, SBY mencampuri pidatonya dengan bahasa Inggris. (http://www.voa-islam.com). 


Saya yakin mayoritas pendengar di forum itu orang Indonesia, bukan orang Inggris atau orang yang berbahasa Inggris. Tempatnya pun di wilayah Indonesia, bukan di Inggris atau di negara yang berbahasa Inggris.

Berikut ini beberapa ucapan gado-gado beliau :  

  1.  “Dalam melakukan evaluasi, kita harus merujuk pada parameter dan ukuran yang jelas. Correct measurement.” 
  2.  “Pemulihan ekonomi untuk menjaga kesejahteraan rakyat, atau dengan bahasa bebas saya katakan, minimizing the impact of the global economic crisis.”
  3. “Insya Allah tahun ini kita bisa mencapai (pertumbuhan ekonomi) enam persen, close to six percent.”
  4. “Semua proyeksi, semua estimate, di semua negara bagus, global economy will grow.”
  5. “Tidak ada yang meramalkan (akan terjadi krisis), semuanya everything is nice!”

Disebutkan di koran (saya baca di Jawa Pos) para wartawan yang hadir meliput tak bisa menahan tawa. Beberapa kali anggota Paspampres mengingatkan para wartawan. Namun karena sering terulangnya ucapan gado-gado Presiden, lagi-lagi para wartawan tertawa dan berisik. Si anggota Papampres pun hanya geleng-geleng kepala.

Kalau polisi dan jaksa ngotot memejahijaukan bahkan menahan dua orang penjual iPad karena tak bermanual bahasa Indonesia, berani tidak ya aparat menahan Presiden karena tidak berpidato dalam forum resmi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penegak hukum kan pintar sekali mencari celah dalam peraturan perundang-undangan untuk menjerat seseorang dipenjarakan.
 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (171) coretan (126) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)