1-2-3-Teknik

Minggu, 18 Desember 2011

Saat ada acara di Malang saya menginap di Wisma Brawijaya. Wisma ini dulunya adalah Asrama Mahasiswa yang tentunya diperuntukkan bagi para mahasiswa Universitas Brawijaya. Sedangkan asramanya sekarang ditempatkan di sebelah utara wisma. Penampilan wisma sudah mirip dengan hotel.

Pagi-pagi sayup-sayup terdengar suara orang teriak-teriak. Selanjutnya saya mendengar aba-aba serempak,”1-2-3-Teknik....!” Saya familiar dengan aba-aba ini, juga iramanya. Benar dugaan saya, di luar di antara asrama dan Gedung Samantha Krida, ratusan mahasiswa berbaju putih bercelana putih melakukan senam. Aba-aba 1-2-3-Teknik itulah yang menjadi aba-aba gerakan. Aba-aba itu pula yang dilontarkan barisan putih-putih tak terkecuali.

13 tahun silam saya pernah menjadi bagian dari barisan putih itu. Ya, 1997, selepas SMA saya diterima UMPTN di Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya (yang tak saya selesaikan, justru sarjana saya peroleh dari UGM).

Awal perkuliahan harus menjalani dulu dengan yang namanya Probinmaba (Program Pembinaan Mahasiswa Baru). Bahasa kerennya adalah Ospek. Bentakan, teriakan, dorongan, hukuman menjadi hal yang biasa. Rambut musti dipotong ala 321, maksudnya 3 cm di depan, 2 cm di tengah, dan 1 cm di belakang. Yah, pokoknya nyaris gundul.

Baju kami putih lengan pendek, dipadu dengan celana panjang putih. Sebagai tanda pengenal kami diwajibkan membuat keplek yang ukuran, warna, dan jenis kertasnya telah ditentukan oleh panitia. Detail sekali, hingga ke ukuran milimeter. Barang bawaan kami diwadahi dengan tas kresek besar warna merah. Isinya pulpen, buku, makan, dan minum. Botol minum pun tak boleh sembarangan, harus botol berulir ukuran 500 ml. Susah sekali saat itu mencarinya. Sedangkan makannya kami harus membawa nasi putih dengan lauk telur, tak boleh kurang apalagi lebih. Makanan dibungkus dengan kertas minyak.

Selama 4 hari, dari jam 5 pagi hingga 5 petang dilalui di kampus dengan seabreg kegiatan. Mestinya, sebagaimana lazimnya di fakultas-fakultas lain, 2 hari Ospek diadakan di internal fakultas, sedangkan 2 hari sisanya digabung se-Uninersitas. Tapi Fakultas Teknik (FT) menolak bergabung dengan fakultas lain. Saya tak tahu pasti alasannya. Tapi yang jelas dalam Ospek itu memang para panitia mendoktrin keistimewaan FT dibandingkan fakultas lain, dan enggan bergabung dengan fakultas lain.

Pagi hari kami lewati dengan lari-lari mengelilingi kampus sambil teriak-teriak 1-2-3-Teknik. Jika melewati barisan dari fakultas lain maka para senior menyuruh agar teriakan semakin kencang. Barisan berbanjar tiga dimulai dari mereka yang paling tinggi hingga yang paling pendek di barisan belakang. Karena saya termasuk kecil bin ceking, maka saya pun kebagian barisan belakang. Salah satu teman yang masih saya ingat di barisan belakang adalah Fadhli, mahasiswa jurusan teknik mesin. Kelak ia menjadi Ketua BEM Unibraw di Tahun 2000 yang dilengserkan dengan ancaman parang karena ikut berdemo menurunkan Presiden Gus Dur. Tahu sendiri kan Unibraw terletak di Malang. Malang menjadi bagian Jawa Timur yang banyak pendukung fanatik Gus Dur. Saat Fadhli menjadi Ketua BEM itu, saya sudah pindah haluan ke Jogja, kota dengan gerakan mahasiswa yang lebih dinamis menurut saya.

Setelah lari maka kami pun senam dengan iringan yang tetap sama yakni 1-2-3-Teknik. Apa ya filosofinya hitungan kok berakhir hingga angka 3, tidak angka 8 seperti lazimnya dalam senam, atau tidak sekalian saja 9 atau 10.

Usai Ospek tidak membuat kami mahasiswa baru terbebas dari kegiatan. Tiap Sabtu kami harus mengikuti Student Day selama satu semester alias setengah tahun. Hampir sama dengan Ospek tapi lebih mendalam dalam pengenalan aktivitas-aktivitas yang ada di kampus. Misalnya pengenalan dari masing-masing UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Tiap pagi pun masih kami lewati dengan lari mengelilingi kampus dan senam 1-2-3-Teknik. Baju kami telah berganti kaos putih, namun celana masih tetap putih. Tas kresek merah masih tetap setia menemani.

Seusai ujian semester pertama kami masih harus menjalani kegiatan KKM (Kemah Kerja Mahasiswa). Bersama ratusan mahasiswa baru sefakultas mengadakan kemah di daerah pegunungan selama 4 hari, jauh dari pemukiman penduduk. Tapi kemah ini bukan untuk bersenang-senang, malah lebih keras perlakuan senior kepada kami para yunior. Pagi hingga sore kami harus bekerja (jadi ingat romusha saat kerja rodi di jaman Jepang), misalnya membuat jalan makadam, saluran air, dan lain-lain. Sudah tubuh capek masih juga dibentak-bentak. Malam hari pun bentakan tak pernah surut. Jatah senam 1-2-3-Teknik bertambah menjadi pagi dan malam.

Bagi yang telah mengikuti rangkaian kegiatan Probinmaba (Ospek, Student Day, dan KKM) akan diberikan sertifikat. Sertifikat ini menjadi salah satu syarat pengajuan beasiswa. Inilah alasan kenapa sebagian besar mahasiswa baru masih setia dengan kegiatan ini, mesti capek fisik dan mental.

Maka kemarin, saat berkesempatan berkunjung ke Unibraw, pagi hari di Hari Sabtu mendengar aba-aba 1-2-3-Teknik seketika memori pun muncul lagi. Saat saya jalan-jalan menikmati sejuknya udara Malang di sekeliling kampus, saya lewati barisan putih-putih itu. Luar biasa, sama. Kaos mereka putih, celana mereka putih, mengenakan keplek dengan ukuran tertentu, berambut cepak bagi yang lelaki. Dan saat saya lirik lagi, di depan masing-masing mereka teronggok tas kresek besar. Hehehe...semangat 1-2-3-Teknik masih tertanam dari generasi ke generasi.

Kalau mahasiswa baru itu rata-rata berusia 18 tahun, maka saat saya ber-1-2-3-Teknik itu mereka masih berusia 5 tahun. Mungkin seusia saya waktu pertama kalinya aba-aba 1-2-3-Teknik dilahirkan. Atau mungkin aba-aba itu sudah lahir sebelum lahirnya diri saya di dunia. Ada yang tahu?

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)