Ditipu Kerja

Sabtu, 05 Maret 2011

Adalah seorang gadis yang mencoba peruntungan mencari pekerjaan di Surabaya. Ia pun diterima oleh sebuah perusahaan elektronika. Saat interview ia diharuskan membayar uang Rp 500 ribu. Keesokan harinya ia ikut training dan diberi sebuah majic jar. Ternyata tugasnya ia diharuskan mencari orang untuk masuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Ia sendiri yang mewawancarai. Si calon ditarik Rp 500 ribu, sama seperti dulu waktu ia mulai masuk. Yang 400 ribu masuk perusahaan, sedangkan sisanya masuk kantongnya.

Di televisi saya juga pernah menyaksikan hal seperti ini. Dalam tayangan investigasi itu si pelamar diharuskan membayar sejumlah uang. Katanya sih untuk administrasi dan biaya training. Setelah dinyatakan diterima ia mempunyai tugas untuk mencari orang. Demikian seterusnya, sepertinya mirip Multi Level Marketing (MLM). Perusahaan itu sebenarnya hanya sekedar kedok untuk aksi tipu-tipu mengeruk keuntungan dari orang-orang yang kepepet mencari pekerjaan.

Saya pernah mengalami hal seperti ini tujuh tahun yang lalu, saat masih di Jogja. Saat itu saya baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Setiap ada lowongan di media massa yang kira-kira sesuai dengan keinginan dan pendidikan, saya coba kirimkan aplikasi lamaran. Sehingga kadang saya lupa perusahaan mana saja yang pernah saya kirimi surat.

Hingga suatu hari saya menerima surat panggilan untuk wawancara. Senang sekali, karena biasanya saya menerima panggilan lewat telepon. Kali ini panggilan dilewatkan pos disertai waktu dan tempat wawancara. Kantor yang di Jogja ini merupakan cabang dari kantor pusat Jakarta. Saya bisa membacanya di amplop panggilan.

Pada hari yang ditentukan saya pun berangkat. Kalau tidak salah saat itu tempatnya di sekitar Lempuyangan. Kantornya ternyata di sebuah ruko, agak tersembunyi tertutup oleh bangunan ruko lain. Pada saat ini sebenarnya sudah mulai timbul keraguan di hati saya.

Saya diterima 2 orang resepsionis, laki-laki dan perempuan, yang anehnya mejanya di luar ruko. Saya utarakan maksud kedatangan saya. Mereka pun menyuruh saya menunggu antrian dari dalam. Tak berapa lama saya dipersilakan masuk ke dalam. Di dalam saya lihat ada beberapa orang, masing-masing menghadapi satu orang di belakang meja. Sepertinya mereka juga sedang proses wawancara seperti saya.

Saya diterima oleh seorang ibu yang memakai baju blazer. Wawancara dimulai dari hal yang standar, yakni identitas. Selanjutnya yang saya rasakan hanya sekedar basa-basi. Lalu saya diberi selamat dan akan diterima dengan status sebagai calon karyawan. Namun syaratnya saya harus membayar 20 ribu sebagai biaya administrasi. Saya mulai tambah ragu-ragu, belum apa-apa sudah ditarik uang. Namun karena penasaran dengan cerita selanjutnya dan karena ngebet ingin segera mendapat pekerjaan saya bayar juga. Saya pun dinyatakan sebagai calon karyawan. Lho tambah aneh kan, hanya dengan membayar sudah berstatus calon karyawan. Tapi belum berhak gaji, nah lho, tambah bingung.

Karena masih menjadi calon karyawan jika ingin menjadi karyawan ada syaratnya. Apa? Dia lalu mengeluarkan sebuah kaca dari bawah mejanya. Ia jelaskan kaca itu adalah pelindung monitor agar mata tidak terkena radiasi. Lalu apa hubungannya dengan peningkatan status sebagai karyawan? Saya harus membelinya. Kalau tidak saya harus sanggup menjualkannya. Jika berhasil sekian buah saya akan mendapatkan bonus sekian rupiah.

Hahaha...kecurigaan saya akhirnya benar. Inilah salah satu bentuk penipuan terselubung. Intinya saya disuruh menjual produk mereka. Kurang ajar, saya kena juga. Saya tidak tahu sudah berapa orang yang mengalami nasib seperti saya. Paling tidak, meskipun tidak ada yang membeli produk, mereka sudah bisa mengeruk keuntungan dari biaya administrasi. Saya bertekad tidak akan menginjakkan kaki lagi di kantor itu. Hati-hati kawan.
 

2 komentar:

Zool mengatakan...

Kalo jadi kerja di sana malah jadi bakul kaca ya Kang. Hehehehe...:-)

wurianto saksomo mengatakan...

ya gitulah zul, dan ente yg jadi sasaran konsumen pertama :>

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)