Rabu, 09 Juni 2010

Mahasiswa Dan Rekayasa Sosial

Tulisan ini dibuat saat saya kuliah FH UGM. Disampaikan dalam acara Rihlah Siyasi KAMMI Korfak Pertanian UGM 19 Januari 2003. Selamat menikmati.

MAHASISWA DAN REKAYASA SOSIAL

“Kita harus membaca situasi sekarang ini dengan semangat bagaimana memanfaatkannya sebagai momentum untuk kemajuan-kemajuan baru, lompatan-lompatan baru, bagi kepentingan strategis dan sejarah dakwah “
(Ust. Anis Matta Lc, dalam Menikmati Demokrasi)

PROBLEM SOSIAL
Sebelum kita melangkah untuk membahas rekayasa sosial maka biasanya orang harus mengetahui dulu apa itu problem sosial, karena adanya rekayasa sosial itu didahului timbulnya problem-problem (masalah) sosial. Problem adalah sebuah kondisi di mana terjadi perbedaan antara apa yang kita inginkan (das Sollen) dan apa yang telah terwujud menjadi suatu kenyataan (das Sein). Kita menginginkan cepat lulus kuliah namun kenyataannya skripsi tidak kelar-kelar, atau kita ingin segera mengakhiri masa lajang, namun apa daya ternyata proposal ditolak terus. Akibatnya terjadi perbenturan antara idealita dan realita.
Problem itu sendiri sebenarnya dibagi menjadi 2 dimensi yakni bertaraf individu dan bertaraf sosial. Problem individu adalah masalah yang timbul dari individual qualities (kualitas-kualitas individu) atau dari lingkungan terdekat. Misalnya seseorang pemuda yang ditolak lamarannya oleh orang tua sang gadis yang telah diincarnya karena dianggap masih menganggur. Si pemuda masih menganggur disebabkan memang malas mencari duit, jadi ini adalah masalah personal dari yang bersangkutan. Atau seseorang yang ditolak untuk menjadi penyanyi oleh produser rekaman karena suaranya memang hanya merdu kala di kamar mandi saja.
Sebaliknya masalah sosial bermula dari faktor dan lingkungan sosial. Philip Kotler menyebutkan bahwa problem sosial adalah kondisi tertentu dalam masyarakat yang dianggap tidak enak atau menganggu oleh sebagian anggota masyarakat dan dapat dikurangi atau dihilangkan melalui upaya bersama (kolektif). Ada 3 problem sosial yang bisa kita kemukakan di sini yang mana ketiga problem sosial tersebut menjadi sumber perubahan sosial, yakni kemisikinan, kejahatan, dan konflik.

PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan sosial adalah terjadinya perubahan bentuk dan fungsionalisasi kelompok, lembaga, atau tatanan sosial yang penting. Ada istilah lain yang diberikan oleh para ilmuwan tentang perubahan sosial, yang substansinya sama atau hampir sama. Less dan Presley menyebutnya social engineering, MN Ross mengatakannya social planning (perencanaan sosial), dan Ira Kaufman mengistilahkannya dengan change management (manajemen perubahan). Sedangkan Jalaluddin Rakhmat menggunakan istilah rekayasa sosial dan ini yang kita bahas.
Menurut sosiolog terkenal, Max Weber, penyebab utama perubahan adalah ideas atau pandangan. Tesis utama dari Weberianisme adalah pengakuan terhadap peranan besar idelogi sebagai variabel independen bagi perkembangan masyarakat. Penyebab kedua adalah tokoh-tokoh besar. Menurut Thomas Carlyle sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar. Perubahan sosial terjadi karena munculnya tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati para pengikutnya yang setia, dan kemudian mereka bersama-sama melakukan perubahan di dalam masyarakatnya. Perubahan sosial yang ketiga terjadi karena adanya gerakan sosial (social movement) seperti yang dilakukan LSM.

AKSI SOSIAL
Setelah mengetahui problem sosial yang terjadi dan upaya untuk melakukan rekayasa sosial, maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah aksi sosial. Aksi sosial diartikan sebagai tindakan kolektif untuk mengurangi atau menghilangkan masalah sosial. Aksi sosial mengandung lima unsur (5C), yakni cause, change agency, change target, channel, dan change strategy. Cause atau sebab, ini berkaitan dengan misi, motif, atau tujuan. Setiap problem sosial membutuhkan sejumlah pemecahan atau solusi yang beragam. Ada 3 sebab atau alasan untuk turun dalam dataran aksi yakni membantu (helping), memprotes (reform), dan menghancurkan (destroy/revolusi). Saat ini revolusi menjadi wacana yang sedang naik daun di kalangan gerakan mahasiswa. Revolusi adalah motor penggerak sejarah, demikian pendapat Karl Marx. Secara definitif ia diartikan sebagai perubahan yang cepat dan mendasar dari masyarakat dan struktur kelas suatu negara, dan revolusi tersebut dibarengi serta sebagian menyebabkan terjadinya pemberontakan kelas dari bawah.
Rekayasa sosial di mana pun tempatnya dan kapan pun masanya selalu membutuhkan aktor-aktor untuk melakukan gerakan. Ada 2 kelompok besar di balik upaya rekayasa sosial yakni pemimpin-pemimpin (leaders) dan pendukung (supporters). Kalau dijabarkan lebih lanjut akan kita temukan derivasinya yang mana tiap-tiap orang mempunyai peran yang tertentu. Ada orang yang menggerakkan, ada yang terus-menerus memberikan motivasi agar massa tetap bergerak, ada yang membantu dengan sumber daya, dana dan fasilitas, ada yang memperngaruhi kalangan elit, ada yang mengatur administrasi sebuah gerakan, ada yang harus menjadi konsultan, ada juga tipe pekerja atau aktivis, ada pendonor, dan yang tak kalah pentingnya adalah para simpatisan.
Sasaran perubahan menurut Jalaludin Rakmat dalam bukunya Rekayasa Sosial ada 2 yaitu pertama sasaran akhir, berupa korban atau lembaga-lembaga yang dirusak. Kedua adalah sasaran antara seperti masyarakat/pemerintah, bisnis, atau profesi.
Unsur selanjutnya dari aksi sosial adalah chanel atau saluran yaitu media untuk menyampaikan pengaruh dan respon dari setiap pelaku perubahan ke sasaran perubahan. Dalam klasifikasi Kotler, media ini dibagi menjadi dua, media pengaruh dan media respon. Keduanya dapat menggunakan media massa atau media interpersonal.
Terakhir adalah change strategy (strategi perubahan), yaitu teknik utama mempengaruhi, yang diterapkan oleh para pelaku perubahan untuk menimbulkan dampak pada sasarn perubahan. Ada tiga alternatif strategi : memaksa (power strategy), membujuk (persuasi), dan mendidik (edukasi).

GERAKAN MAHASISWA
Tampaknya berbicara mengenai rekayasa atau perubahan sosial menjadi tidak adil jika tidak membicarakan (ngrasani) mahasiswa. Pengalaman sejarah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa menjadi kekuatan dahsyat untuk merubah kondisi di negeri ini sejak dulu. Jaman pergerakan kemerdekaan (masa 1908, 1928, dan 1945), penjungkalan Orde Lama, Peristiwa Malari, aksi-aksi protes terhadap kebijakan NKK/BKK, tumbangnya Eyang Soeharto, dan sebagainya cukup menjadi bukti. Mahasiswa sejak dulu, kini, dan sampai kapan pun selalu berpeluang untuk berada pada posisi terdepan dalam proses perubahan masyarakat sehingga pantaslah jika ia mendapatkan sandang sebagai kelompok pembaharu. Orang sering mengatakannya dengan gerakan moral yang tidak berambisi menduduki jabatan kenegaraan tertentu atau tanpa pamrih.
Menurut Arbi Sanit ada 2 peran pokok yang selalu tampil mewarnai setiap aktivitas gerakan mahasiswa. Pertama, sebagai kekuatan korektif terhadap penyimpangan yang terjadi. Kedua, sebagai penerus kesadaran masyarakat luas akan problema yang terjadi sehingga ia senantiasa melahirkan berbagai alternatif pemecahan.
Namun demikian perjalanan gerakan mahasiswa tidak berjalan mulus begitu saja, karena pihak penguasa selalu khawatir akan protes-protes perlawanan mahasiswa terhadap kebijakannya yang tidak pro rakyat. Karena itulah pihak penguasa melakukan intervensi ke dalam kampus. Penguasa menyadari bahwa kampus sebagai pembaharu masyarakat, sebagai sumber daya politik, dan mempunyai watak kemandirian yang menumbuhkan sikap kritis. Akibat intervensi dari negara tersebut (terutama dengan dikeluarkannya NKK/BKK, yang walau sudah dicabut namun dampaknya masih terasa) menimbulkan 3 hal. Pertama, terasa kuatnya tekanan terhadap pertumbuhan daya kreativitas warga kampus. Kedua, intervensi birokrasi departemen yang mendalam telah menjadikan para pimpinan unit universitas menjadi semacam “Raja Kecil”. Ketiga, tumbuhnya gejala apatisme sebagai kelanjutan perpaduan kedua hal di atas.
Menghadap kenyataan seperi itu ada 2 pilihan yang harus dilakukan oleh para mahasiswa sebagai bagian dari warga kampus. Mahasiswa akan mengundurkan diri ke “dunia dalam” yang bersifat pribadi dan cenderung pragmatis tanpa mau memperhatikan keadaan yang terjadi di sekitarnya ataukah mahasiswa justru keluar dari “dunia dalam” dan memberontak melawan ketidakadilan.

GERAKAN KAMMI
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia dilahirkan dan dibidani oleh para aktivis dakwah kampus yang dikenal sebagai kader tarbiyah. Gerakan tarbiyah sendiri ditengarai menyemaikan bibitnya pada awal-awal tahun 80-an dan semakin marak pada dekade 1990-an hingga sekarang. Sumber referensi yang dijadikan bahan kajian adalah gerakan Ikhwanul Muslimin.
Di kota Malang pada bulan Maret 1998 KAMMI dideklarasikan dan sejak itulah sejarah gerakan mahasiswa memberikan tempat terhormat kepada KAMMI terutama sejarah gerakan ’98 (meminjam ungkapan Anas Urbaningrum, mantan Ketua PB HMI). Ada sebuah fenomena unik pada gerakan mahasiswa yang baru berusia “balita” ini yakni pertemuan 2 variabel di dalam gerakannya yang menjadi potensi kekuatan, yaitu masjid dan kampus. Masjid menyimbolkan adanya kekuatan moralitas sedangkan kampus sarat dengan nilai-nilai intelektualitas. KAMMI memang bermula dan tumbuh dari masjid, muncul dari masjid kampus, dan bergerak di masjid kampus.

PERAN KITA
KAMMI sebagai gerakan mahasiswa yang berusia sangat muda tentu saja masih memerlukan pembenahan serta polesan-polesan indah dari para kadernya agar semakin cantik dan menawan bagi setiap orang. Kalau kita mengibaratkan seorang anak kecil yang berusia empat tahun lebih, ia adalah bocah lugu dan lucu yang membuat gemas, yang membikin orang-orang dewasa ingin mencubit pipinya yang tembem. Ia masih memerlukan penataan. Tugas kita bersama untuk melakukannya.
Setiap kader ketika menghadapi realita temperatur kondisi negara yang semakin panas ini diharapkan mempunyai bekal pengetahuan. Setiap kita hendaknya menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif yang memberikan wawasan makro serta memberikan efek integralitas dan pengetahuan yang spesialis yang mengacu pada kedalaman serta memberi efek ketepatan. Hal ini memang membutuhkan kesungguhan, keseriusan, dan kesabaran yang melelahkan. Ustadz Anis Matta memberikan ciri-ciri tradisi ilmiah untuk memperkuat gerakan, di antaranya selalu membandingkan pendapat, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana ide-ide, tidak pernah merasa berilmu secara permanen, menyenangi hal yang baru dan menyukai tantangan, selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara pruduktif, dan lain-lain.
Gerakan kita sungguh membutuhkan tradisi konstruktif seperti itu, apalagi dengan konsep kaderisasi siyasi yang masih memerlukan alternatif interprestasi untuk kemudian diterapkan dalam aplikasi. Meminjam ungkapan Ust. Anis, barangkali di hadapan kita saat ini ada sebuah celah sejarah yang diciptakan oleh masa transisi. Kita mempunyai peluang dan sekaligus juga tantangan untuk mengisi celah sejarah itu dengan gagasan dan amalan kita. Dan di dalam setiap penciptaan sejarah tersebut akan lahir tokoh-tokoh besar dan berhati besar.
Untuk mewujudkan segala apa yang kita cita-citakan itu tidak mungkin berjalan dengan sekejap saja atau seketika. Semua diawali dari hal-hal yang kecil (menurut Aa’ Gym lho). Maka itu paling tidak ada 3 hal yang harus kita lakukan, yaitu banyak membaca baik membaca tekstual maupun fenomena, berinstitusi (membentuk komunitas) karena sebuah kerja besar sangat berat untuk dikerjakan sendirian, dan pembiasaan (kulturisasi) sehingga orang lain akan mengikuti apa yang kita lakukan.
KAMMI mungkin saat ini sedang hamil tua untuk melahirkan manusia-manusia besar yang menentukan dan mewarnai pernak-perniknya. Dan saya berharap itu adalah KITA .

CATATAN AKHIR
Untuk melakukan proses rekayasa sosial yang lebih besar di dunia masyarakat maka dibutuhkan energi dan perencanaan yang sangat matang, karenanya penataan internal di dalam sebuah gerakan itu sendiri dan juga upaya kaderisasi harus selalu menjadi prioritas pemikiran. Mulailah dari diri sendiri, mulailah sekarang ini, dan mulailah dari hal-hal yang kecil dengan senantiasa tidak melupakan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

“Dakwah kita saat ini sangat membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategis. Generasi ‘ideolog’ telah melakukan tugas mereka dengan baik. Mereka telah membangun basis pemikiran yang kokoh bagi kebangkitan Islam di seluruh dunia. Kini tiba saatnya peran mereka dilanjutkan oleh generasi baru, generasi pemikir strategi yang bertugas menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai cita-cita dakwah.”

Wallahu a’lam bish shawab
Dh180103

Daftar Pustaka :
Matta, Anis, Menikmati Demokrasi, Jakarta, Pustaka Saksi, 2002
Rahmat, Andi., dan Mukhammad Najib, Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus, Surakarta, Purimedia, 2001
Rakhmat, Jalaluddin, Rekayasa Sosial, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2000
Sanit, Arbi, Pergolakan Melawan Kekuasaan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1999
Scocpol, Theda, Negara Dan Revolusi Sosial, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1991

0 komentar:

Poskan Komentar