Resolusi Untuk Kantor

Selasa, 01 Februari 2011

Setelah membaca sebuah buku seorang blogger, saya latah ingin merangkai mimpi di awal tahun. Namun mimpi ini bukan untuk diri saya, meskipun yang menulis diri saya sendiri. Mimpi saya dedikasikan untuk kantor (ceile...).

Pertama, saya ingin kantor menerapkan standar minimal pelayanan seperti ISO. Kedua, penyediaan akses informasi kepegawaian secara online termasuk juga pengurusan kepegawaiannya. Ketiga, perealisasian jabatan fungsional analis kepegawaian. Keempat, adanya pelatihan kinerja yang tak melulu masalah teknis pekerjaan. Kelima, pembuatan ruang khusus bagi perokok. Saya akan jelaskan di bawah ini.

Pertama. Penerapan standar ISO dalam pelayanan sudah jamak dilakukan di perusahaan-perusahaan besar, namun dalam lingkup pemerintahan, apalagi di daerah masih amat jarang. Logikanya memang masuk akal, namun tidak bisa saya terima. Yakni pemda tidak akan pernah bangkrut, kalapupun bangkrut masih bisa meminta pertolongan ke pusat. Beda dengan perusahaan swasta. Jika ia tidak merubah pelayanannya maka pelanggan akan berpaling ke perusahaan lain. Paradigma menggantungkan diri pada pusat inilah yang harus dirubah. Bangkrut tidak bangkrut harusnya pelayanan semakin ditingkatkan.

Kedua. Penyediaan akses informasi dan pengurusan kepegawaian secara online juga penting. Saya mengimpikan setiap pegawai yang ingin mengetahui kapan ia akan naik pangkat, kapan naik gaji berkalanya, berapa tunjangan keluarganya, berapa gaji pokoknya, kapan pensiunnya akan bisa diakses cukup dengan SMS, tidak perlu repot-repot datang ke kantor. Atau informasi tersaji di internet. Sebenarnya kantor pun sudah punya website, namun jarang di-update. Selain itu pemberian informasi kepada pegawai yang selama ini terhambat di kantornya masing-masing bisa langsung seketika sampai ke tujuan. Misalnya informasi tentang ujian dinas dan sebagainya. Saya juga mengimpikan tidak usahlah berkas-berkas untuk pengurusan kepegawaian yang selama ini bertumpuk-tumpuk diserahkan secara fisik, cukup dengan teknologi internet.

Ketiga. Saya mengimpikan adanya jabatan fungsional analisis kepegawaian. Kenapa? Biar ada fokus dalam bekerja. Biar ada spesialisasi dalam pekerjaan. Selama ini pegawai bekerja serabutan, semua dikerjakan. Dari membuat rencana kerja, membuat laporan pertanggungjawaban, ceramah, membagi tali asih, mengetik, memfoto copy, bersih-bersih. Memang sih secara general kita menjadi tahu semua jenis pekerjaan. Namun alangkah baiknya jika spesialisasi juga diutamakan, agar lebih profesional. Yang saya tahu di daerah saya jabatan fungsional baru sebatas guru, pengawas sekolah, dokter, apoteker, perawat, bidan, penyuluh, yang lain saya lupa. Kalau boleh memilih saya punya 3 pilihan untuk jabatan fungsional, yakni pertama-analisis kepegawaian karena saya bekerja di kantor yang mengurusi kepegawaian, kedua-perancang perundang-undangan karena pendidikan saya S1 Hukum, dan ketiga-peneliti karena saya suka meneliti dan menulis.

Keempat. Pelatihan dari tidak harus melulu dalam teknis pekerjaan. Ada kalanya kita harus berhenti sejenak melupakan aktivitas perkantoran yang kadang menjemukan, membikin capek, dan melelahkan secara fisik serta mental. Apa solusinya? Pelatihan motivasi, outbond, ESQ adalah di antaranya. Selama ini teman-temanlah yang menjadi penyelenggara kegiatan untuk memuaskan dahaga pekerja dari kantor lain. Ibaratnya mereka adalah lilin yang menyinari kegelapan. Namun sadarkah jika lilin yang menyala itu mengambil bahan bakarnya dari dirinya sendiri yang suatu saat akan padam karena habis meleleh. Karena itu perlu ada forum penguatan internal.

Dan terakhir kelima. Perlukah ruang khusus untuk merokok di kantor? Saya pribadi menyebut sangat perlu. Kenapa? Karena teman-teman telah mengambil hak saya untuk menghirup udara tanpa asap rokok di ruangan yang seharusnya tidak boleh merokok. Dulu waktu masih di kantor lama, meskipun lebih kecil, ruang komputer diprotec dari asap rokok. Dan semua mematuhi. Namun sekarang setelah pindah ke kantor baru, dengan ruang komputer yang tiga kali lebih besar dan lebih banyak AC-nya dari kantor yang lama, nafas saya sepuluh kali lebih sesak jika masuk ke dalamnya. Anda bayangkan, dalam ruangan tertutup dari ventilasi karena ber-AC, asap mengepul dari pagi hingga sore hari, sanggupkah Anda yang tidak merokok masuk k edalamnya? Merokok kan hak asasi? Tapi bernafas dengan bebas kan lebih asasi?

Saya sedang berusaha tidur agar bermimpi di siang bolong.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)