Pergi Tarawih Sekeluarga, Sebuah Harapan

Minggu, 12 September 2010


Ini masih cerita tentang Ramadan, meskipun bulannya telah lewat apalagi sekarang telah memasuki bulan Syawal, namun untuk sekedar berbagi cerita saja tidak mengapa kadaluwarsa. Cerita tentang istri saya yang sangat ingin mengisi bulan Ramadan dengan ikut berjamaah sholat tarawih di masjid kompleks perumahan kami. Namun sudah 5 tahun berkesempatan menemui bulan suci nan mulia itu, ia tidak bisa melaksanakan sholat tarawihnya di masjid tersebut. Padahal amalan sunah ini hanya ada di bulan Ramadan, tidak ada di bulan selain itu. Apa pasalnya.
Kami menikah seminggu sebelum bulan ramadan pada tahun 2005. Saat itu kami tidak tinggal serumah. Saya kos di Kota Ngawi, sedangkan istri masih tinggal di Widodaren, sekitar 35 kilometer dari kota. Tahun 2006 kami mengontrak rumah di Perumnas Bumi Karangasri. Pada tahun itu juga istri hamil anak pertama.
Pada ramadan tahun 2006 istri sedang hamil tua, tinggal menunggu hari saja untuk melahirkan. Saat itu istri masih sempat sholat tarawih di masjid, tapi hanya bertahan satu malam, karena ia terengah-engah menahan bebean berat di perutnya. Apalagi sang imam termasuk pengikut mazhab ekspres, maksudnya bacaan dan gerakan sholat super cepat. Di pertengahan ramadan itulah lahir anak pertama kami.
Saat ramadan tahun 2007 istri sedang hamil anak kedua. Saat itu kandungannya sekitar 7 bulan. Jadi lumayan berat juga untuk ikut berjamaah sholat tarawih di masjid, meskipun tidak perutnya tidak sebesar pada ramadan yang lalu. Karena pengalaman tahun sebelumnya akhirnya ia hanya sholat tarawih sendiri di rumah.
Pada ramadan tahun 2008 meskipun tidak hamil tetapi masih ada kendala. Anak kami masih kecil-kecil sehingga tidak bisa ia tinggal sendirian di rumah, apalagi kami hanya tinggal sendiri tanpa ditemani orangtua maupun kerabat, sedangkan rewang (penata laksana rumah tangga...wow keren istilahnya) kami hanya bertugas pagi hingga asar. Anak pertama berumur 2 tahun sedangkan adiknya masih 9 bulan.
Ketika ramadan tahun 2009 kedua anak kami sudah beranjak besar, sudah bisa berjalan. Si sulung sudah sering saya ajak ke masjid sholat berjamaah, termasuk ikut sholat tarawih. Namun lagi-lagi istri tidak bisa ke masjid lagi karena lagi-lagi (wah kebanyakan kata ”lagi” ya) ia hamil anak ketiga kami. Usia kehamilannya 6 bulan. Masih termasuk susah untuk mengikuti imam sholat berjamaah, apalagi kalau pas ketemu imam ekspres.
Dan tahun ini ramadan 2010 sekali lagi kesempatan itu pun belum datang juga. Anak ketiga kami masih berusia 8 bulan, belum bisa berjalan. Kalau ditinggal tidak ada yang menjaga. Akhirnya hanya saya dan sulung yang tarawih ke masjid. Mudah-mudahan ramadan tahun depan kami sekeluarga bisa bersama-sama pergi ke masjid untuk menjalankan ibadah tarawih sebagaimana keluarga-keluarga yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)