Mudik Yuk

Senin, 13 September 2010


www.jelajahbudaya.com
Lebaran setiap tahun pasti diwarnai dengan tradisi mudik. Berbondong-bondong ribuan (bahkan barangkali jutaan) orang pulang kampung. Segala jenis transportasi umum penuh dengan lautan manusia memanfaatkan momen lebaran. Apalagi pemerintah telah memberlakukan libur 2 hari ditambah beberapa hari untuk cuti bersama. Saat masih kuliah hanya 1 tempat tujuan mudik saya, yakni ke Madiun. Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata (hehehe malah nyanyi...).
Setelah menikah ada 2 tempat tujuan saya. Selain ke Madiun saya juga mudik ke Widodaren, Ngawi tempat asal istri saya. Pada tahun 2005, di tahun saya menikah itu, untuk pertama kalinya saya menjalani lebaran di ”negeri orang”. Baru kali itulah saya berlebaran tidak di Madiun, karena saya berlebaran di mertua. Baru setelah itu, beberapa hari kemudian saya, istri, dan keluarga istri bersilaturahmi ke Madiun.
Tahun-tahun berikutnya kami berselang-seling pas hari H lebaran terkadang di Madiun, terkadang di Ngawi. Seperti orang-orang kebanyakan untuk mudik itu transportasi yang kami gunakan adalah sepeda motor. Saat anak baru satu kami masih leluasa menggunakan jok motor melakukan perjalanan 35 km ke Madiun kemudian 50 km ke Ngawi. Setelah anak kedua lahir jok itu sudah semakin sempit.
Yang paling heroik adalah saat lebaran tahun lalu, tahun 2009. Kami putuskan untuk berlebaran di Widodaren, di rumah mbah kungnya anak-anak. Meskipun Widodaren ini termasuk wilayah Ngawi tapi jaraknya hampir sama jika kami pulang ke Madiun. Seperti tahun sebelumnya kami naik motor. Saya di depan dengan tas ransel saya pasang di dada dan tas jinjing di antara kedua kaki saya, berikutnya adalah Fauzan, kemudian Hilma, dan terakhir adalah istri yang sedang mengandung Farah. 2 hari kemudian kami balik ke Ngawi dengan formasi yang masih sama. Dan besoknya kami lanjutkan perjalanan ke Madiun, masih dengan formasi yang sama. Alhamdulillah tidak ada halangan di jalan, hanya istri yang agak mules di perutnya yang ada isinya itu.
Tahun ini saya tidak mau mengambil resiko, karena si kecil sudah lahir. Terlalu berbahaya jika saya harus membonceng 4 nyawa menempuh perjalanan berkilo-kilo dengan kondisi jalanan Ngawi yang tidak bagus. Saya minta tolong mas untuk menjemput dengan mobil, karena kami ingin berlebaran di Madiun. Berikutnya saya juga meminta tolong untuk diantarkan ke Widodaren. Tampaknya kami membutuhkan mobil untuk mengangkut kami sekeluarga jika harus bepergian. Ehm...rumah saja masih ngontrak, boro-boro mau beli mobil, apalagi saya saat ini masih belum bisa mengemudi mobil. Namun siapa tahu, Allah memberikan jalan dari tempat dan waktu yang tidak disangka-sangka. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)