Prestasi Olahraga Di Ngawi

Rabu, 04 Agustus 2010


Satu lagi cerita tentang prestasi olahraga di Ngawi. Selain gagalnya Ngawi mengirimkan wakil di Popda Jatim dan perjuangan Kartika Isna yang menjuarai tenis Piala Walikota Surabaya saya masih mempunyai cerita yang lain. Silakan dikonfirmasi jika ada kekeliruan.
Yang pertama, Pemkab Ngawi menganggarkan milyaran rupiah untuk merenovasi stadion. Harapannya dengan bagusnya Stadion Ketonggo, stadion kebanggaan rakyat Ngawi yang terletak di Jalan Ahmad Yani, maka juga akan membuat bagus juga prestasi olahraga di Ngawi. Tapi saya merasa aneh, yang diprioritaskan pertama untuk dibangun di stadion tersebut ternyata toko yang terletak di area stadion bagian depan (sisi barat). Sebaliknya fasilitas penunjang olahraga yang terletak di dalam tidak mendapat prioritas. Jangan-jangan Stadion Ketonggo mau dirubah menjadi Pasar Ketonggo. Mudah-mudahan renovasi stadion tahap berikutnya untuk memperbaiki dan menyediakan fasilitas olahraga.
Yang kedua, gagalnya kesebelasan Persinga, tim sepakbola kebanggaan rakyat Ngawi menembus Divisi I. Tentunya tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk membiayai kesebelasan Persinga, termasuk dari APBD. Para pejabat pemerintahan pun meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan dananya untuk mengurus Persinga, hingga pengerahan pegawai Pemkab untuk menyaksikan pertandingan Persinga di luar kota. Mudah-mudahan cabang olahraga lain pun juga mendapatkan perhatian yang sama.
Yang ketiga, kalau tidak salah, pada masa Pilkada Ngawi, organisasi suporter Persinga, yakni Pastimania, mendukung salah satu calon peserta Pilkada, bahkan ikut serta berkampanye. Ah gaya-gaya Orba ternyata masih belum hilang juga. Kenapa tidak ada yang mengingatkan ya? Kalau boleh usul jadikan saja organisasi suporter itu menjadi parpol.
Yang keempat, dalam turnamen olahraga, misalnya bulutangkis, masih saja ditemui atlet bon-bonan dari luar daerah. Sebenarnya turnamen olahraga seperti itu bisa digunakan untuk menjaring atlet-atlet daerah yang berprestasi, terutama mulai dari usia dini. Mereka inilah yang diberikan pembinaan sehingga menjadi matang dan siap ditandingkan di level propinsi bahkan nasional. Namun sebagian orang hanya mengutamakan hasil, bukan proses. Dengan mengebon atlet dari luar daerah yang sudah jadi, tidak usah capek-capek menjadi juara 1. Tapi konsekuensinya daerah kekurangan atlet berprestasi. Mudah-mudahan pepatah,”Berakit-rakit dahulu berenang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian”, menjadi entry point pembinaan olahraga di Ngawi.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (171) coretan (126) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)