Ketika Takhta Butuh Tawa

Jumat, 16 Januari 2026

Pernahkah Anda membayangkan seorang presiden yang sedang pening memikirkan utang negara, tiba-tiba harus berdiri di depan mikrofon untuk melontarkan lelucon? Kedengarannya kontradiktif. Presiden identik dengan kaku, protokoler, dan wajah serius yang seolah memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Sementara komedi? Ia antitesis dari kekakuan. Ia cair, nakal, dan sering kali menertawakan hal yang dianggap sakral.


Namun, sejarah mencatat bahwa hubungan antara kursi kekuasaan dan panggung tawa ternyata jauh lebih mesra daripada yang kita duga. Humor bukan sekadar selingan, melainkan alat politik yang sangat ampuh.


Mari kita bicara tentang kesehatan mental. Ada ungkapan, humor itu menyehatkan. Bagi seorang pemimpin, tertawa bukan hanya soal lucu-lucuan, melainkan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Di tengah tekanan kebijakan yang dihujat publik, humor menjadi katarsis yang mendinginkan suasana.


Di Indonesia, kita punya maestro humor dalam balutan jubah kepresidenan: Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bagi Gus Dur, humor bukan sekadar bumbu, melainkan senjata. Beliau sering menggunakan lelucon untuk menyentil lawan politik tanpa membuat mereka kehilangan muka sepenuhnya. Ingat celotehan khasnya, “Gitu saja kok repot?” Itulah puncak dari sikap santai di tengah badai. Humor Gus Dur membuktikan bahwa pemimpin yang bisa menertawakan diri sendiri adalah pemimpin yang sudah selesai dengan ego pribadinya.


Relasi presiden dan komedi mencapai level paling ekstrem pada sosok Volodymyr Zelenskyy. Sebelum menjadi simbol perlawanan Ukraina melawan Rusia, Zelenskyy adalah seorang komedian populer. Ironisnya, ia menjadi presiden sungguhan berawal dari perannya sebagai presiden fiksi dalam serial komedi berjudul "Servant of the People".


Serial ini meledak karena rakyat Ukraina sudah muak dengan korupsi dan kekakuan elit politik lama. Mereka melihat sosok guru sejarah yang sederhana (diperankan Zelenskyy) yang tiba-tiba terpilih jadi presiden dan mendobrak segala aturan kolot. Garis antara fiksi dan kenyataan menjadi kabur ketika Zelenskyy benar-benar mencalonkan diri dan menang telak.


Kasus Zelenskyy menunjukkan bahwa di era modern, rakyat lebih memercayai komedian yang tulus daripada politisi yang berpura-pura. Kemampuan komedian untuk membaca kegelisahan rakyat dan menyampaikannya lewat tawa ternyata menjadi modal kampanye yang sangat efektif. Komedi adalah bentuk empati yang dikemas dalam tawa.


Fenomena komedian yang terjun ke politik praktis sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai belahan dunia, panggung komedi seringkali menjadi kawah candradimuka sebelum seseorang maju ke kursi pemerintahan. Ada Beppe Grillo di Italia atau Jimmy Morales di Guatemala.


Mengapa komedian sering kali laku saat pemilu? Jawabannya sederhana: autentisitas. Seorang komedian dilatih untuk bicara jujur tentang keganjilan sosial. Ketika rakyat sudah lelah dengan janji manis yang dibungkus bahasa teknokratis yang rumit, kejujuran seorang komedian terasa seperti oase. Mereka bicara bahasa pasar, bukan bahasa birokrasi yang serba tidak jelas.


Namun, transisi dari tukang melucu menjadi pengambil kebijakan tentu tidak mudah. Komedi butuh kelenturan, sedangkan birokrasi butuh ketegasan. Tantangan terbesarnya adalah ketika masalah bangsa tidak lagi bisa diselesaikan dengan punchline. Di sinilah kedewasaan politik seorang komedian diuji.


Ada sebuah ungkapan bahwa politik itu terlalu serius jika hanya diserahkan kepada politisi. Humor berfungsi sebagai penyeimbang. Presiden yang punya selera humor tinggi cenderung lebih fleksibel dan memiliki perspektif yang lebih luas.


Humor memiliki fungsi-fungsi krusial dalam kepemimpinan, misalnya memanusiakan kekuasaan. Rakyat merasa lebih dekat dengan pemimpin yang bisa tertawa bareng, bukan yang selalu berdiri di balik barikade pengawal. Selain itu humor berfungsi sebagai alat diplomasi. Dalam negosiasi internasional, sebuah lelucon yang tepat bisa mencairkan ketegangan diplomatik yang kaku. Dan terakhir, humor memungkinkan seorang presiden menerima atau menyampaikan kritik tanpa harus memicu konflik terbuka yang destruktif.


Pada akhirnya, presiden dan komedi adalah dua sisi dari koin yang sama: keduanya bicara tentang manusia. Politik bicara tentang bagaimana mengatur manusia, sedangkan komedi bicara tentang bagaimana memahami keanehan-keanehan manusia.


Seorang presiden yang tidak bisa tertawa mungkin presiden yang paling berbahaya, karena ia menganggap dirinya Tuhan yang tidak boleh salah. Sebaliknya, pemimpin yang menghargai humor sadar bahwa kekuasaan hanyalah panggung sementara, dan hidup ini seserius apa pun masalahnya selalu menyisakan ruang untuk sebuah tawa.


Jadi, jangan heran jika suatu saat nanti akan lebih banyak lagi komedian yang duduk di kursi kekuasaan. Karena di dunia yang semakin gila ini, mungkin kita memang butuh seseorang yang tahu cara menertawakannya agar kita tidak ikut gila.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (177) kepegawaian (173) serba-serbi (86) saat kuliah (71) hukum (69) oase (68) pustaka (63) tentang ngawi (60) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)