Sakerah dan Maduro

Minggu, 18 Januari 2026

 Berbicara tentang “Maduro” dan “Madura” mungkin terdengar seperti plesetan lidah bagi sebagian orang. Namun, jika kita menggali lebih dalam, ada dua sosok yang mewakili nama-nama tersebut dengan karakter yang sama-sama “keras”, dalam arti yang positif maupun penuh kontroversi. Di satu sisi, kita memiliki Sakerah, legenda pejuang rakyat dari tanah Madura yang menjadi simbol keberanian melawan penindasan kolonial. Di sisi lain, ada Nicolas Maduro, mantan supir bus yang menjadi Presiden Venezuela, sosok yang kini tengah berjuang mempertahankan kekuasaannya di tengah gempuran krisis global dan tekanan Amerika Serikat.


Dua sosok ini, meski dipisahkan oleh samudera dan waktu yang membentang berabad-abad, menawarkan cerita tentang perlawanan, harga diri, dan bagaimana sebuah nama bisa menjadi identitas yang sangat kuat.


Mari kita mulai dari tanah garam, Madura. Nama Sakerah (atau Pak Sakera) bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia sosok nyata, seorang mandor perkebunan tebu di Bangil pada abad ke-19 yang tidak tahan melihat rakyatnya diperas oleh kompeni Belanda. Sakerah merupakan representasi dari harga diri orang Madura yang sangat tinggi, sebuah prinsip yang dalam bahasa lokal disebut sebagai Pote Tolang (lebih baik putih tulang daripada putih mata atau menanggung malu).


Sakerah tidak membawa pena atau diplomasi di mejanya. Ia membawa celurit. Baginya, ketidakadilan harus dipangkas seakar-akarnya. Gayanya yang khas dengan baju pesa'an garis merah-putih dan kumis baplang menjadi ikon identitas budaya Madura. Sakerah dicintai karena ia berpihak pada yang lemah, meski pada akhirnya ia harus gugur di tiang gantungan setelah dikhianati rekannya sendiri. Di mata orang Madura, Sakerah menjadi pahlawan lokal yang membuktikan bahwa martabat tidak bisa dibeli dengan upah tebu.


Kini, mari terbang ke Caracas, Venezuela. Di sana, kita menemukan Nicolas Maduro. Jika Sakerah adalah mandor yang memihak buruh, Maduro benar-benar berangkat dari kelas buruh, ia seorang supir bus dan pemimpin serikat pekerja. Sejarah mencatatnya sebagai loyalis Hugo Chavez yang berhasil duduk di kursi kepresidenan sejak 2013.


Namun, berbeda dengan Sakerah yang namanya harum sebagai pahlawan di hati rakyatnya, Maduro berada di posisi yang jauh lebih rumit. Ia memimpin negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, namun rakyatnya harus berjuang melawan hiperinflasi yang gila-gilaan. Bagi para pendukungnya, Maduro mungkin dielu-elukan sebagai “Sakerah-nya Venezuela”, sosok yang berani melawan imperialisme Amerika Serikat. Bahkan baru-baru ini, pada awal 2026, dunia dikejutkan oleh kabar serangan militer AS ke Venezuela dan klaim penangkapan Maduro atas tuduhan narkopolitik. Maduro sering menyebut dirinya “Putra Chavez” yang tak akan pernah menyerah, sebuah narasi perlawanan yang sangat kental.


Secara kebetulan, ada benang merah yang menarik antara Sakerah dan Maduro. Pertama, latar belakang akar rumput. Keduanya bukan lahir dari keturunan raja. Sakerah adalah pekerja perkebunan, Maduro adalah supir bus. Sakerah dan Maduro naik ke panggung sejarah karena dianggap mewakili suara rakyat kecil yang terpinggirkan. Kedua, kumis sebagai simbol. Ini mungkin terdengar lucu, tapi kumis tebal Sakerah dan kumis ikonik Maduro seolah menjadi simbol otoritas dan “kejantanan” politik di wilayah masing-masing. Dan yang ketiga, musuh yang sama. Sakerah melawan kolonialisme Belanda secara fisik, sedangkan Maduro membangun narasinya dengan melawan apa yang ia sebut sebagai “kolonialisme modern” atau intervensi asing dari Amerika Serikat.


Perbedaan mendasar dari keduanya terletak pada akhir ceritanya. Sakerah menjadi legenda karena pengorbanannya yang tulus. Ia mati untuk rakyatnya. Sementara itu, Nicolas Maduro masih menjadi subjek perdebatan sejarah yang panas. Banyak yang mempertanyakan apakah perlawanannya benar-benar untuk rakyat Venezuela, atau sekadar untuk mempertahankan kekuasaan di tengah penderitaan ekonomi rakyatnya sendiri.


Jika Sakerah menggunakan celurit untuk membela buruh tebu, Maduro menggunakan retorika politik dan kekuatan militer untuk bertahan dari sanksi internasional. Sakerah adalah pahlawan yang dikhianati teman, sementara Maduro sering dituding mengkhianati janji kemakmuran bagi rakyatnya.


Menyandingkan Sakerah dan Maduro memberi kita perspektif unik tentang makna perlawanan. Di Madura, semangat Sakerah tetap hidup dalam setiap helai baju pesa'an dan keberanian masyarakatnya. Di Venezuela, nama Maduro mungkin akan dikenang sebagai pemimpin yang keras kepala dalam menghadapi badai sejarah yang paling dahsyat. Pada akhirnya, sejarah akan menuliskan siapa yang benar-benar berjuang demi rakyat dan siapa yang hanya berjuang demi narasi. Satu hal yang pasti, baik di tanah Madura maupun di Caracas, nama-nama ini membuktikan bahwa keberanian—entah itu berujung pada pahlawan atau kontroversi—selalu memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (179) kepegawaian (173) serba-serbi (86) saat kuliah (71) hukum (69) oase (68) pustaka (63) tentang ngawi (60) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)