Ada sebuah melodi yang jika terdengar di sore hari yang mendung, seketika mampu menarik paksa ingatan kita pada sosok pria dengan garis wajah yang tegas namun menyimpan kelelahan. Ialah lagu “Titip Rindu Buat Ayah” karya musisi Ebiet G. Ade. Melalui liriknya, Ebiet memotret ayah bukan sebagai pahlawan super yang tak terkalahkan, melainkan sebagai manusia biasa yang “keringatnya mengucur deras dan napasnya kadang tersengal” demi memikul beban keluarga.
Lagu itu sebuah pengakuan jujur tentang cinta yang sering kali tidak tersampaikan lewat kata-kata. Ayah, dalam tradisi kita, sering kali menjadi sosok yang paling sedikit bicaranya namun paling banyak pengorbanannya. Lirik “di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa” seolah menjadi pengingat bahwa di balik ketenangan seorang ayah, ada badai yang ia redam sendiri agar anak-anaknya tetap bisa tidur nyenyak. Cinta ayah adalah cinta yang sunyi, yang tidak menuntut balasan, dan sering kali baru kita pahami maknanya justru saat kita sendiri telah beranjak dewasa.
Jika lagu Ebiet memberikan kita ruang untuk merenung, film “The Pursuit of Happyness” memberikan kita visualisasi yang nyata tentang sejauh mana seorang ayah sanggup berkorban. Film yang diangkat dari kisah nyata Chris Gardner ini adalah monumen bagi ketulusan cinta seorang ayah.
Berlatar di San Francisco, Amerika Serikat tahun 1981, kita diperkenalkan pada Chris Gardner (diperankan oleh Will Smith), seorang salesman cerdas namun kurang beruntung. Ia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli stok alat pemindai kepadatan tulang portabel. Masalahnya, alat itu dianggap sebagai barang yang tidak terlalu dibutuhkan oleh para dokter.
