Ada satu adegan yang terus membekas setelah saya menamatkan serial Korea Black Out. Bukan adegan pembunuhan, bukan pula pengungkapan pelaku. Yang paling mengganggu justru ketika Go Jeong-woo, tokoh utama serial ini, pulang ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama sepuluh tahun.
Ia sudah menjalani hukuman. Namun hukumannya ternyata belum selesai. Warga masih memandangnya sebagai pembunuh. Tetangga menjauhinya. Masa depannya hancur. Dan yang paling menyakitkan, Jeong-woo sendiri tidak pernah benar-benar yakin mengapa hidupnya harus berakhir seperti itu.
Black Out berkisah tentang seorang siswa teladan yang diterima di sekolah kedokteran. Masa depannya cerah. Namun setelah sebuah malam yang berakhir dengan blackout akibat mabuk, ia dituduh membunuh teman perempuannya. Tanpa ingatan yang utuh tentang kejadian malam itu, Jeong-woo tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke kampung halamannya untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah dirinya benar-benar pelaku?
Premis ini sebenarnya sederhana. Tetapi kekuatan Black Out tidak terletak pada misteri pembunuhannya. Kekuatan serial ini justru berada pada pertanyaan yang lebih mengganggu: bagaimana jika sistem hukum dan masyarakat sama-sama meyakini sesuatu yang ternyata keliru?
