Dalam hidup, kadang kita tidak sedang memilih yang baik dan yang buruk. Kita justru dipaksa memilih dua keburukan yang sama-sama bikin sesak. Pilih atasan yang keras tapi masih bisa ditebak, atau pemimpin yang tampak polos namun hidup di dunia khayalnya sendiri? Dilema semacam ini terasa dekat sekali dengan esai Lynda Ibrahim di Kompas edisi 10 April 2026 berjudul Kaisar Bugil Versus Raja Lalim.
Analogi itu menarik karena terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama dunia kerja dan birokrasi. Ada tipe pemimpin yang cerdas, ambisius, tetapi kejam. Ia tahu apa yang diinginkan, tahu siapa yang harus disingkirkan, dan tahu bagaimana kekuasaan dipakai untuk memastikan semua orang tunduk. Ini jenis “raja lalim” yang menakutkan, tetapi setidaknya masih bisa dibaca. Kita tahu ke mana arah anginnya.
Kalau dia hanya peduli angka, orang akan sibuk mempercantik laporan. Kalau dia suka pencitraan, bawahan berlomba membuat panggung. Memang tidak sehat, tetapi ada pola yang bisa dikenali. Dalam situasi seperti ini, orang-orang masih bisa menyusun strategi bertahan, seperti menyesuaikan langkah, menghindari ranjau, dan menjaga jarak aman dari wilayah yang sensitif.
Masalah yang lebih rumit justru datang dari “kaisar bugil”. Ia bukan selalu orang jahat. Bahkan kadang terlihat ramah, penuh semangat, dan punya banyak ide. Tetapi idenya lahir bukan dari pemahaman, melainkan dari ilusi. Ia merasa sedang memecahkan masalah besar, padahal yang disentuh hanya gejalanya. Ia yakin sedang membuat perubahan, padahal hanya mengganti bungkus. Itulah pelajaran yang dikisahkan oleh Hans Christian Andersen dalam The Emperor’s New Clothes.
Dongeng tersebut berkisah tentang seorang kaisar yang sangat gemar pakaian indah, tetapi kurang bijak dalam menilai sesuatu. Suatu hari, datang dua penenun yang mengaku mampu membuat kain luar biasa—konon hanya bisa dilihat oleh orang-orang cerdas dan layak menduduki jabatannya. Tertarik pada keistimewaan itu, sang kaisar memesan pakaian tersebut, tanpa menyadari bahwa para penenun sebenarnya tidak menenun apa pun.
Karena takut dianggap bodoh, para pejabat dan rakyat pura-pura melihat dan memuji “jubah” yang sebenarnya tidak ada. Sang kaisar pun dengan percaya diri mengenakan pakaian khayalan itu dan berparade di hadapan publik. Semua orang ikut memuji, hingga akhirnya seorang anak kecil dengan polos berseru bahwa kaisar sebenarnya telanjang. Saat itulah ilusi yang dibangun runtuh, memperlihatkan betapa kekuasaan yang dikelilingi kepura-puraan dapat menjauh dari kebenaran.
Bayangkan, seorang pemimpin melihat kinerja kantor menurun, lalu buru-buru menyimpulkan bahwa solusinya adalah aplikasi baru. Semua pegawai dipaksa mengisi dashboard, mengunggah data, dan mengikuti rapat evaluasi yang makin panjang. Padahal persoalan utamanya bukan teknologi, melainkan beban kerja yang timpang, SDM yang kurang, atau prosedur yang berbelit. Hasilnya mudah ditebak: energi habis untuk mengurus tampilan, sementara akar masalah tetap utuh. Di titik inilah “kaisar bugil” terasa lebih melelahkan daripada “raja lalim”.
Kalau menghadapi pemimpin yang lalim, kita tahu ia digerakkan oleh hasrat kuasa atau kepentingan tertentu. Namun menghadapi pemimpin yang hidup dalam gelembung pujian, kita berhadapan dengan ketidakpastian. Hari ini ia terobsesi satu program, besok bisa berubah total hanya karena mendengar bisikan orang yang baru ditemuinya saat makan siang.
Yang lebih berbahaya, tipe seperti ini sangat mudah dipengaruhi. Asal egonya dielus, apa pun bisa terdengar seperti gagasan besar. Dalam organisasi, orang-orang oportunis biasanya tumbuh subur di sekitar figur semacam ini. Mereka menjual ilusi, memoles laporan, dan membangun narasi seolah semua baik-baik saja. Sang pemimpin merasa memakai jubah kebesaran, padahal sebenarnya sedang berjalan telanjang di depan kenyataan.
Kita sering menjumpai situasi seperti ini, bukan hanya di istana atau perusahaan besar, tetapi juga di kantor-kantor biasa. Kadang masalah bukan terletak pada niat buruk, melainkan pada kombinasi antara kuasa, minim refleksi, dan lingkungan yang takut berkata jujur.
Yang membuat keadaan makin runyam adalah budaya sungkan. Tidak semua orang berani menjadi bocah kecil dalam dongeng Andersen—orang yang cukup jujur untuk berkata, “Kaisar itu sebenarnya telanjang.” Sebagian memilih diam demi aman, sebagian lain ikut memuji demi posisi.
Padahal organisasi yang sehat justru membutuhkan keberanian semacam itu. Keberanian menguji gagasan, bukan sekadar menyenangkan telinga pemimpin.
Dari esai ini, saya menangkap satu pelajaran sederhana, bahwa kekuasaan tanpa nalar adalah masalah, tetapi kekuasaan tanpa kesadaran diri jauh lebih berbahaya. Sebab yang satu melukai dengan sengaja, sementara yang lain merusak sambil merasa sedang menyelamatkan. Dan sering kali, yang paling melelahkan bukan bekerja di bawah orang jahat, melainkan di bawah orang yang tidak sadar bahwa dirinya sedang salah.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya