Di balik bantuan yang meringankan kayuhan, ada soal yang lebih besar: mengapa begitu banyak lansia masih harus bertaruh tenaga di jalanan?
Penyerahan ratusan becak listrik kepada para pengayuh becak di beberapa daerah memunculkan banyak reaksi. Bantuan yang disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional dan dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto itu dipuji oleh sebagian orang sebagai bentuk kepedulian terhadap pekerja kecil. Namun di sisi lain, muncul pula pertanyaan kritis: mengapa banyak penerima bantuan justru berusia sangat lanjut, bahkan ada yang mendekati 90 tahun?
Perdebatan ini sebenarnya membuka percakapan yang lebih luas tentang satu realitas sosial di Indonesia, yakni masih banyak lansia yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pemandangan kakek-kakek yang mengayuh becak di jalanan kota bukan hal baru. Di banyak tempat, mereka tetap bekerja meski usia sudah sangat senja.
Pemandangan seorang kakek berusia 80 tahun menerima becak listrik memang mudah mengundang haru. Kita spontan membayangkan betapa ringannya beban yang selama ini dipikul kakinya. Jalan menanjak yang biasanya menguras napas kini dibantu tenaga baterai. Kayuhan yang dulu berat kini sedikit lebih bersahabat dengan tubuh yang tak lagi muda.
Tetapi rasa haru itu hanya bertahan sejenak. Setelahnya muncul pertanyaan yang jauh lebih mengusik: mengapa pada usia setua itu ia masih harus mencari nafkah di jalan raya? Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya membuka lapisan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar bantuan alat. Becak listrik memang menyelesaikan soal tenaga, tetapi ia sekaligus memantulkan wajah masa tua Indonesia yang belum benar-benar selesai.
Data statistik menunjukkan lebih dari separuh lansia Indonesia masih bekerja. Jumlahnya sekitar 17,5 juta orang, dan mayoritas berada di sektor informal. Mereka adalah petani, pedagang kecil, buruh lepas, tukang parkir, hingga pengemudi becak yang tetap berjuang di tengah panas, debu, dan hiruk pikuk kendaraan kota.
Angka itu memberi satu pesan yang gamblang: bagi banyak orang Indonesia, masa tua belum tentu menjadi masa beristirahat. Sering kali ia justru menjadi babak lain dari perjuangan hidup. Banyak pekerja informal menjalani usia produktif tanpa pernah tersentuh sistem pensiun. Penghasilan mereka habis untuk kebutuhan hari itu juga. Tidak ada cukup ruang untuk menabung, apalagi menyiapkan jaminan hari tua. Ketika usia bertambah dan tenaga mulai melemah, kebutuhan hidup tetap berjalan tanpa kompromi.
Karena itu, pemandangan seorang kakek mengemudikan becak bukan sekadar cerita tentang etos kerja. Di sana ada kisah yang lebih dalam. Tentang orang-orang kecil yang menua lebih cepat daripada hadirnya perlindungan sosial.
Dalam konteks itulah becak listrik terasa relevan. Bantuan ini menyentuh persoalan paling konkret yang mereka hadapi, yakni beban fisik. Setidaknya tubuh yang sudah renta tidak lagi dipaksa bekerja sekeras masa muda. Solusinya sederhana, tetapi manfaatnya langsung terasa.
Namun, kita juga perlu jujur bahwa ini baru menyentuh lapisan permukaan. Becak listrik membantu lansia tetap kuat bekerja, tetapi belum menjawab mengapa mereka masih harus bekerja pada usia yang semestinya lebih banyak diisi dengan istirahat, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar menikmati pagi tanpa tergesa mencari penumpang.
Memang, tidak semua lansia bekerja karena keterpaksaan. Ada yang memilih tetap aktif agar tubuh tidak cepat lemah. Ada yang merasa lebih tenang jika masih memiliki penghasilan sendiri. Ada pula yang sekadar ingin tetap merasa berguna. Semua itu sangat manusiawi.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika ruang hidup yang tersedia bagi lansia justru ruang yang keras: jalan raya yang panas, bising, penuh polusi, dan berisiko tinggi. Itu bukan ruang yang ideal bagi tubuh yang semakin rapuh oleh usia.
Dalam hal ini, becak listrik menghadirkan dua wajah sekaligus. Ia adalah simbol perhatian yang konkret, tetapi pada saat yang sama juga cermin bahwa perlindungan lansia kita masih menyisakan pekerjaan rumah yang panjang.
Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat menua. Jumlah lansia akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Jika perlindungan bagi pekerja informal tidak diperkuat, pemandangan lansia yang tetap bekerja keras di jalanan akan menjadi semakin biasa. Dan, justru ketika sesuatu yang tidak ideal terasa biasa, di situlah kita perlu mulai gelisah.
Sebab yang dibutuhkan para lansia bukan hanya alat agar mereka tetap mampu bekerja. Yang lebih penting adalah memastikan mereka tidak terus dipaksa bekerja keras hanya untuk mempertahankan hidup. Becak listrik memang meringankan kayuhan, tetapi pertanyaan yang lebih penting tetap tinggal di kepala kita: apakah kita sedang menolong para lansia menikmati masa senja, atau sekadar membuat mereka lebih kuat bertahan dalam kerasnya hari tua?

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya