Pada 17 Maret 2026, harian Kompas memuat sebuah opini menarik berjudul Manusia Mesin karya Fidelis Regi Waton. Tulisan ini bukan sekadar membahas teknologi atau robot, tetapi mengajak pembaca merenungkan posisi manusia di tengah dunia modern yang semakin dikuasai mesin dan sistem teknologi. Dengan pendekatan filsafat yang cukup dalam, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.
Untuk membuka pembahasannya, Fidelis mengangkat contoh dari film fiksi ilmiah Ex Machina karya Alex Garland. Film ini berkisah tentang robot humanoid bernama Ava yang tampak sangat cerdas dan hampir tidak dapat dibedakan dari manusia. Dalam cerita tersebut, robot justru mampu memanipulasi manusia dan akhirnya membunuh penciptanya. Kisah ini sering dipakai sebagai peringatan bahwa teknologi yang diciptakan manusia suatu saat bisa melampaui kendali penciptanya sendiri.
Namun gagasan tentang “manusia buatan” sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum teknologi modern berkembang, imajinasi manusia sudah dipenuhi cerita serupa. Fidelis menyebut kisah mitologi tentang Pygmalion yang jatuh cinta pada patung ciptaannya sendiri hingga patung itu hidup. Dalam tradisi Yahudi juga dikenal legenda Golem, makhluk dari tanah liat yang dihidupkan melalui ritual magis. Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa sejak lama manusia memiliki hasrat menciptakan sesuatu yang menyerupai dirinya.
Dari sinilah pengajar filsafat di Hochschule für Katholische Theologie Köln, Jerman ini kemudian masuk pada pertanyaan yang lebih filosofis: apakah manusia pada akhirnya hanya sebuah mesin?
Pertanyaan ini pernah dijawab secara ekstrem oleh filsuf Prancis abad ke-18, Julien Offray de La Mettrie. Dalam bukunya L'Homme Machine, ia berpendapat bahwa manusia pada dasarnya hanyalah mesin biologis yang sangat kompleks. Pikiran, perasaan, dan kesadaran dianggap sebagai hasil kerja organ tubuh semata, terutama otak. Jika demikian, manusia tidak berbeda jauh dari mekanisme mesin yang bekerja menurut hukum fisika.
Pandangan seperti ini memang memengaruhi cara berpikir modern. Banyak orang mulai melihat manusia sebagai sistem biologis yang dapat dijelaskan sepenuhnya melalui sains. Tetapi menurut Fidelis, pendekatan semacam ini berisiko mereduksi manusia. Jika manusia dianggap sekadar mesin, maka konsep kebebasan, tanggung jawab moral, dan empati menjadi sulit dijelaskan.
Masalah ini semakin terasa dalam dunia industri modern. Dalam sistem produksi massal, manusia sering diperlakukan seperti komponen mesin. Mereka harus bekerja mengikuti ritme teknologi dan aturan efisiensi. Kreativitas dan individualitas kadang terpinggirkan demi produktivitas.
Fenomena ini digambarkan secara satir dalam film klasik Modern Times karya Charlie Chaplin. Dalam film tersebut, tokoh Chaplin bekerja di sebuah pabrik dengan gerakan berulang yang sama sepanjang hari. Ia bahkan digambarkan terseret masuk ke dalam roda mesin, seolah-olah manusia benar-benar menjadi bagian dari sistem mekanis itu sendiri. Adegan ini menjadi simbol kuat tentang bagaimana dunia industri bisa “menelan” manusia.
Fedelis mengingatkan bahwa situasi serupa masih relevan hingga sekarang, bahkan mungkin semakin kuat. Di era digital, manusia tidak hanya berhadapan dengan mesin di pabrik, tetapi juga dengan algoritma, sistem otomatis, dan kecerdasan buatan. Banyak keputusan penting semakin dipengaruhi oleh sistem teknologi, dari ekonomi hingga kehidupan sosial.
Jika tidak berhati-hati, manusia bisa perlahan kehilangan kendali dan justru mengikuti logika mesin. Kehidupan diatur oleh efisiensi, kecepatan, dan produktivitas, sementara nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, kebebasan, dan tanggung jawab moral menjadi terpinggirkan.
Karena itu, Fidelis menawarkan gagasan yang disebut sebagai restorasi humanitas, yaitu upaya mengembalikan manusia pada hakikatnya sebagai makhluk yang memiliki hati nurani dan kebebasan. Teknologi tentu penting dan membawa banyak manfaat. Mesin dapat membantu pekerjaan manusia dan meningkatkan kualitas hidup. Namun teknologi seharusnya tetap menjadi alat, bukan penguasa.
Pesan dari opini Fidelis sejatinya cukup sederhana tetapi mendalam. Manusia boleh menciptakan mesin yang semakin canggih, tetapi jangan sampai manusia sendiri berubah menjadi mesin. Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, menjaga nilai kemanusiaan justru menjadi tantangan terbesar zaman ini.
Demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia melemah perlahan—melalui pembiaran, melalui ketakutan, melalui diam. Dan mungkin, justru dari kasus-kasus seperti inilah kita bisa melihat apakah arah perjalanan itu masih bisa diperbaiki, atau justru mulai menyimpang.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya