Buku, Masa Kecil, dan Impian

Rabu, 20 Mei 2026

Saya sering berpikir, mungkin hubungan saya dengan buku bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan, bahkan sebelum saya benar-benar memahami dunia.


Saat duduk di bangku taman kanak-kanak, saya sudah bisa membaca. Saya tidak ingat persis bagaimana prosesnya. Yang saya ingat hanya satu: membaca terasa menyenangkan. Huruf-huruf yang bagi sebagian anak mungkin tampak membingungkan, bagi saya justru seperti pintu kecil menuju banyak tempat yang belum pernah saya datangi. Mungkin karena itulah saya tumbuh menjadi anak yang akrab dengan bacaan.


Ibu saya seorang guru Sekolah Dasar. Saya masih ingat, sepulang mengajar, ibu sering membawa buku-buku untuk saya baca. Cerita anak, pengetahuan umum, majalah, apa saja yang tersedia di perpustakaan sekolahnya. Buku-buku itu seperti tamu rutin di rumah kami. Buku-buku itu lalu berpindah ke tangan saya dan habis dibaca satu per satu, sebelum dikembalikan ke sekolah.


Sementara bapak bekerja di sebuah instansi pemerintah di luar kota. Ada satu kebiasaan beliau yang sampai hari ini masih saya kenang: setiap pulang kantor sering membawa koran.


Bagi sebagian anak, mungkin koran adalah benda membosankan—penuh tulisan kecil dan berita orang dewasa. Tetapi tidak bagi saya yang masih SD. Koran itu selalu saya baca sampai habis. Dari halaman depan sampai iklan-iklannya. Saya membaca berita politik yang mungkin belum seluruhnya saya pahami, olahraga, cerita kriminal, bahkan rubrik kecil di sudut halaman. Saya kira di situlah pelajaran penting itu dimulai: membaca tidak selalu harus mengerti semuanya lebih dulu. Kadang, membaca justru cara kita perlahan belajar memahami dunia.


Rumah kami bukan rumah dengan perpustakaan besar. Tetapi ada satu kekayaan yang tak saya sadari waktu itu: suasana yang akrab dengan bacaan. Kecintaan itu lalu membawa saya ke tempat-tempat yang mungkin tidak lazim bagi anak-anak. Salah satunya Pasar Punthuk di Kota Madiun. Pasar loak itu bagi banyak orang mungkin hanya deretan barang bekas. Tetapi bagi saya, ia seperti tambang harta karun. Saya sering datang ke sana mencari buku-buku bekas. Ada sensasi yang sulit dijelaskan saat mengobrak-abrik tumpukan buku tua lalu menemukan bacaan menarik dengan harga murah.


Buku-buku bekas selalu punya cerita ganda. Ada cerita di dalam isinya, dan ada cerita tentang siapa yang pernah memilikinya. Kadang saya menemukan nama pemilik lama di halaman depan, lipatan kecil di sudut kertas, atau coretan pensil yang entah dibuat siapa. Saya membayangkan buku itu telah menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai di tangan saya.


Masa SMP memberi pengalaman yang berbeda. Sepulang sekolah, saya bersama teman-teman sering naik sepeda menuju lapak persewaan buku dekat Pasar Besar Kota Madiun. Rasanya seperti ritual kecil yang kami tunggu-tunggu. Kami menghabiskan waktu membaca koran, majalah, komik, atau buku apa saja yang tersedia. Kadang akhir pekan habis di sana tanpa terasa. Lalu pulangnya kami menyewa beberapa buku.


Hari-hari itu terasa sederhana, tetapi sekarang saya menyadari betapa pentingnya pengalaman tersebut. Kami hidup di masa ketika hiburan belum seramai sekarang. Tidak ada media sosial, tidak ada video pendek yang membuat perhatian mudah tercerai-berai. Buku menjadi teman bermain sekaligus ruang berpetualang.


Saya membaca komik, cerita anak, dan tentu saja novel petualangan seperti Lima Sekawan atau Trio Detektif. Novel petualangan bagi saya bukan sekadar kisah misteri. Ia mengajarkan keberanian, ketelitian, dan imajinasi. Tokoh-tokohnya sering hidup lebih lama dalam kepala saya daripada beberapa pelajaran sekolah. Saya belajar bahwa membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk cara kita merasakan hidup.


Mungkin karena terlalu mencintai dunia itu, saat SD saya pernah melakukan sesuatu yang kalau dipikir sekarang terasa lucu sekaligus menggemaskan. Saat liburan sekolah, saya bersama teman-teman sekampung mendirikan persewaan buku kecil-kecilan. Modalnya sederhana: buku-buku yang ada di rumah. Kebanyakan, atau mungkin malah semuanya, milik saya.


Kami menyewakan komik, novel silat, cerita anak, majalah—pokoknya bacaan yang disukai anak-anak. Saya lupa berapa tarif sewanya waktu itu, tetapi yang saya ingat, persewaan kecil itu benar-benar menghasilkan uang.


Tentu bukan soal jumlah uangnya yang penting. Yang membekas justru pengalaman bahwa buku ternyata bisa menjadi ruang pertemuan, menghadirkan kegembiraan, bahkan menggerakkan aktivitas sosial sederhana. Barangkali tanpa sadar, benih mimpi itu sudah tumbuh sejak kecil.


Hari ini, setelah dewasa dan bekerja sebagai aparatur sipil negara di sebuah instansi pemerintah daerah di Ngawi, saya sering memikirkan kembali hubungan saya dengan buku. Tugas birokrasi tentu penting. Ada tanggung jawab kepada negara yang harus dijalankan melalui pekerjaan sehari-hari. Tetapi saya juga percaya, pengabdian kepada masyarakat tidak selalu hanya melalui meja kantor dan dokumen administrasi. Ada bentuk kontribusi lain yang mungkin tampak kecil, tetapi diam-diam penting, yakni menjaga budaya membaca.


Saya melihat zaman berubah sangat cepat. Anak-anak hari ini tumbuh di tengah gawai dan banjir informasi. Membaca sering kalah oleh hiburan instan. Buku kadang dianggap terlalu lambat dibanding layar yang bergerak cepat.


Saya tidak anti-teknologi. Saya sendiri menikmati kemudahan digital. Tetapi saya percaya ada sesuatu yang tidak boleh hilang, yaitu kemampuan duduk dengan tenang, membaca dengan sabar, dan memberi waktu bagi pikiran untuk bekerja.


Karena itu, saya memiliki satu obsesi yang sampai sekarang belum padam: mendirikan rumah baca. Saya membayangkan tempat yang sederhana tetapi menyenangkan. Rak-rak buku yang mudah dijangkau siapa saja. Anak-anak datang bukan karena diwajibkan, melainkan karena merasa nyaman. Dan mimpi itu berkembang lebih jauh.


Suatu hari nanti, saya ingin mendirikan sebuah kafe. Bukan hanya tempat makan dan minum, tetapi juga ruang literasi. Istri saya yang pandai memasak mengelola menu kuliner. Saya mengelola buku dan kegiatan literasinya.


Di sana ada buku-buku yang bisa dibaca, ada bedah buku, diskusi komunitas baca atau menulis, lomba-lomba, mungkin juga ruang kecil tempat anak-anak menemukan kegembiraan yang dulu pernah saya rasakan.


Mungkin bagi sebagian orang mimpi itu terdengar terlalu sederhana atau terlalu kecil. Tetapi saya belajar dari buku-buku yang menemani hidup saya, bahwa perubahan besar sering lahir dari tempat-tempat kecil.


Saya hanyalah seorang birokrat biasa di kota kecil. Namun saya percaya, sebuah bangsa tidak dibangun hanya dengan kebijakan yang muluk atau gedung yang megah. Ia juga dibangun oleh anak-anak yang menemukan kegembiraan membaca, oleh orang-orang yang mau berbagi pengetahuan, dan oleh ruang-ruang kecil tempat gagasan bertumbuh.


Saya sadar membangun budaya baca bukan pekerjaan singkat. Tetapi saya percaya setiap kecintaan selalu bermula dari kebiasaan sederhana. Dan kalau saya boleh menelusuri kembali akar kecintaan itu, semuanya bermula dari rumah, dari buku-buku yang dibawa ibu, koran-koran yang dibawa bapak, serta pasar loak dan lapak persewaan pada masa kecil. 


Semua itu ternyata bisa meninggalkan jejak panjang dalam hidup seseorang. Karena itu saya percaya, menjaga budaya membaca sejatinya adalah menjaga api kecil harapan. Agar ia tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (290) kepegawaian (179) hukum (101) oase (101) serba-serbi (101) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (63) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)