Pertengahan Mei 1998 adalah salah satu masa paling gelap dalam sejarah Indonesia modern. Di banyak kota, kemarahan sosial meledak setelah krisis ekonomi berkepanjangan, harga-harga melambung, pengangguran meningkat, dan kepercayaan terhadap rezim Orde Baru runtuh perlahan. Namun di antara semua kota yang terbakar saat itu, Surakarta atau Solo menjadi salah satu titik ledakan paling membara.
Tiga hari di Solo terasa seperti dunia yang runtuh sekaligus kehilangan arah.
Kerusuhan bermula pada tanggal 14 Mei 1998. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus berkumpul di depan Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk menyampaikan duka dan kemarahan atas tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta sehari sebelumnya. Saat itu, kematian mahasiswa Trisakti bukan lagi sekadar berita nasional. Ia menjadi simbol bahwa negara telah kehilangan kemampuan mendengar suara rakyat tanpa kekerasan.
Awalnya demonstrasi berjalan seperti aksi mahasiswa pada umumnya. Tetapi suasana berubah ketika mahasiswa mencoba keluar menuju Jalan Solo–Kartasura dan aparat menghadang dengan barikade. Saling dorong berubah menjadi lempar batu. Aparat membalas dengan gas air mata dan peluru karet. Situasi memanas. Emosi meledak.
Namun yang kemudian terjadi jauh melampaui demonstrasi mahasiswa. Di luar pagar kampus, massa nonmahasiswa mulai berkumpul. Mereka datang membawa kemarahan yang mungkin sudah lama dipendam: kemiskinan, frustrasi ekonomi, rasa ketidakadilan, dan mungkin juga amarah yang tidak lagi punya saluran. Ketika kerumunan membesar, situasi berubah menjadi kekacauan massal yang sulit dikendalikan siapa pun.
Solo yang biasanya bergerak tenang mendadak berubah menjadi kota penuh asap hitam. Pertokoan dijarah. Showroom mobil dibakar. Bank dirusak. Pusat-pusat perdagangan menjadi sasaran amuk massa. Matahari Singosaren dibakar setelah dijarah habis-habisan. Di berbagai sudut kota, ban-ban bekas dibakar di tengah jalan. Kendaraan terbakar. Asap memenuhi langit kota Bengawan.
Yang mengerikan, kerusuhan tidak berhenti ketika malam datang. Justru pada malam hingga dini hari tanggal 15 Mei, kekacauan semakin brutal. Kawasan Beteng dan Gladag menjadi pusat kehancuran baru. Beteng Plaza, pusat grosir, bank, hingga toko-toko di sekitarnya dibakar massa. Kerusuhan kemudian menjalar ke Pasar Legi, Sumber, Nusukan, hingga hampir seluruh penjuru kota. Solo lumpuh total.
Dalam waktu hanya tiga hari, kerusakan yang ditimbulkan luar biasa besar. Puluhan pusat perbelanjaan dan ratusan toko rusak atau terbakar. Ratusan mobil dan sepeda motor hangus. Aktivitas ekonomi berhenti mendadak. Kota yang sebelumnya sedang berambisi menjadi “kota internasional” berubah menjadi puing dan abu.
Tetapi angka-angka kerusakan sebenarnya bukan bagian paling menyedihkan dari tragedi itu. Yang paling menyakitkan adalah manusia-manusia yang terjebak di dalamnya. Puluhan orang meninggal dunia. Sebagian terpanggang hidup-hidup di dalam bangunan yang terbakar. Ada yang meninggal di Ratu Luwes, ada pula di toko-toko kawasan Coyudan. Mereka mungkin bukan demonstran. Mereka mungkin hanya pekerja, penjaga toko, atau orang biasa yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Tragedi Mei 1998 di Solo memperlihatkan satu kenyataan pahit. Ketika negara terlalu lama menutup ruang kritik dan membiarkan ketimpangan membusuk, ledakan sosial bisa berubah menjadi amarah tanpa arah.
Karena itu, kerusuhan Mei tidak bisa dilihat hanya sebagai tindakan kriminal massa. Ia adalah akumulasi panjang dari krisis ekonomi, represi politik, ketidakpercayaan terhadap aparat, dan rasa frustrasi yang menumpuk bertahun-tahun. Ketika kran tekanan dibuka sedikit saja, ledakannya menghancurkan segalanya, termasuk masyarakat kecil yang sebenarnya tidak ikut menikmati kekuasaan.
Yang ironis, rakyat kecil pula yang akhirnya paling menderita. Setelah kerusuhan usai, sekitar puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan akibat toko dan pusat usaha yang hancur. Banyak keluarga mendadak kehilangan penghasilan. Kota membutuhkan waktu lama untuk bangkit kembali.
Hari ini, lebih dari dua dekade berlalu, Solo telah berubah. Jalanan kembali ramai. Pusat perdagangan berdiri lagi. Anak-anak muda memenuhi kafe dan kampus. Tetapi sejarah Mei 1998 tetap penting diingat, bukan untuk membuka luka lama, melainkan agar bangsa ini tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebab sebuah kota tidak pernah tiba-tiba terbakar. Api besar biasanya muncul setelah terlalu banyak kemarahan dipendam, terlalu banyak suara dibungkam, dan terlalu lama rakyat merasa tidak didengar.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya