Seribu Bayangan di Layar

Jumat, 15 Mei 2026

Ketika kecil, banyak dari kita mengira jurus seribu bayangan milik Naruto Uzumaki hanyalah fantasi yang terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Tapi hari ini, tanpa sadar, kita justru mempraktikkannya setiap saat. Satu orang, banyak akun. Satu identitas, berlapis-lapis persona. Di situlah esai Naufalul Ihya’ Ulumuddin dalam Kompas 3 Mei 2026 menemukan pijakannya. Kita sedang hidup dalam “masyarakat bayangan”.


Gagasan ini terasa relevan, bahkan agak mengganggu. Sebab kita tahu persis bagaimana rasanya menjadi banyak orang dalam satu waktu. Pagi hari kita sebagai pegawai yang santun di grup WhatsApp kantor. Siang hari kita menjadi pembeli cerewet di marketplace. Malam hari, bisa jadi kita berubah menjadi pengamat politik dadakan di kolom komentar. Semua berlangsung tanpa harus benar-benar berpindah tempat. Bahkan tanpa harus sepenuhnya “menjadi diri sendiri”.


Naufalul membaca fenomena ini dengan kacamata Gilles Deleuze dan FĂ©lix Guattari, khususnya konsep “tubuh tanpa organ”. Istilah yang terdengar rumit ini sebenarnya sederhana: manusia tidak lagi terikat pada satu identitas biologis yang utuh. Hasrat, ekspresi, bahkan sisi gelap kita bisa hidup sendiri-sendiri, menjelma dalam akun anonim, second account, atau identitas digital yang kita ciptakan.


Masalahnya, ketika semua orang punya “bayangan” dalam jumlah tak terbatas, kita tidak lagi hidup dalam satu masyarakat yang bisa dihitung dengan angka statistik. Kita hidup dalam masyarakat berlapis, di mana satu orang bisa hadir berkali-kali dengan wajah berbeda. Dunia digital pun menjadi semacam “keramaian tanpa tubuh”. Ia ramai, tapi sulit ditunjuk siapa sebenarnya yang hadir.


Dalam hal ini, esai tersebut mulai terasa provokatif. Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Gadjah Mada ini tidak sekadar mengkritik, tapi juga mengusulkan cara pandang yang tidak biasa: biarkan saja ruang digital menjadi rimba liar hasrat. Jangan berharap terlalu banyak pada tanggung jawab di sana.


Gagasan ini tentu tidak nyaman. Kita terbiasa mendengar seruan sebaliknya. Tentang pentingnya literasi digital, etika bermedia, penegakan hukum siber. Semua itu berangkat dari asumsi bahwa ruang digital bisa dan harus ditertibkan. Tapi Naufalul justru seperti berkata: mungkin kita sedang salah arena. Mungkin kita menuntut tanggung jawab di tempat yang memang sejak awal tidak didesain untuk itu.


Ada benarnya. Coba lihat kolom komentar di media sosial. Ujaran kebencian, fitnah, bahkan kekerasan verbal sering muncul dari akun tanpa wajah. Kita bisa melaporkan, memblokir, atau mengutuknya, tapi besok akun serupa akan muncul lagi. Seperti bayangan yang tak habis-habis.


Dalam konteks ini, “mengejar tanggung jawab di ruang digital” memang sepertinya melelahkan. Kita seperti berlari di treadmill: capek, tapi tidak benar-benar maju. Di sinilah kritik Naufalul terasa tajam, bahwa kita mungkin sedang “ngos-ngosan” mengejar sesuatu yang sulit ditangkap.


Namun, membiarkan ruang digital sepenuhnya menjadi rimba liar juga bukan tanpa risiko. Jika semua dianggap sekadar pelampiasan hasrat, bukankah itu membuka ruang pembenaran bagi kekerasan? Bukankah korban tetap nyata, meski pelakunya adalah “bayangan”?


Di sinilah pembaca perlu bersikap kritis. Gagasan Naufalul menarik sebagai diagnosis, tapi belum tentu bisa dijadikan resep. Ia membantu kita memahami bahwa identitas digital memang cair, anonim, dan sulit dimintai pertanggungjawaban. Tapi bukan berarti kita sepenuhnya menyerah.


Mungkin jalan tengahnya justru ada pada kesadaran yang ia tawarkan: menjadi lebih skeptis. Tidak mudah percaya. Tidak buru-buru bereaksi. Menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar belum tentu representasi utuh dari seseorang.


Sikap ini terasa semakin penting di era kecerdasan buatan, ketika foto, video, bahkan suara bisa dimanipulasi dengan mudah. Dunia digital benar-benar mendekati apa yang disebut Naufalul sebagai “rimba hasrat”. Ia liar, cair, dan sering kali menipu.


Selanjutnya esai ini mengajak kita menggeser cara berpikir. Bukan lagi bertanya “bagaimana menertibkan ruang digital sepenuhnya?”, tetapi “bagaimana kita bersikap waras di dalamnya?” Tanggung jawab, seperti yang ia tekankan, tetap berpijak di dunia nyata. Pada tubuh yang hadir, pada tindakan yang bisa dipertanggungjawabkan.


Sementara itu, di dunia digital, barangkali yang paling masuk akal bukanlah mencari kepastian, melainkan menjaga kewarasan. Karena di tengah ribuan bayangan yang kita ciptakan sendiri, yang paling mudah hilang justru batas antara diri yang nyata dan yang sekadar ilusi.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (243) kepegawaian (176) hukum (95) serba-serbi (94) oase (91) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (18)