Dalam sejarah Indonesia, ada banyak nama besar yang terus diulang. Namun, ada juga tokoh yang justru bekerja di ruang sunyi. Ia memastikan republik berdiri bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan kata-kata. Asa Bafagih adalah salah satunya. Kisah hidupnya mengingatkan kita bahwa republik ini juga dibangun oleh keberanian seorang wartawan yang tahu kapan harus menyiarkan kebenaran, dan kapan harus melindungi sumbernya.
Saat banyak orang mengenang Sukarno, Hatta, atau Adam Malik, nama Asa Bafagih nyaris tak terdengar. Padahal, justru di ruang redaksi kantor berita Domei (yang kelak menjadi Antara) ia memegang peran penting dalam menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh penjuru negeri, bahkan ke luar negeri. Ia menerima diktat teks proklamasi melalui telepon dari Adam Malik, lalu meneruskannya agar dapat diselipkan ke jaringan morse-cast yang lolos dari sensor Jepang. Dari kerja sunyi itu, dunia mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka.
Di sini, kita melihat satu watak penting pers, yakni keberanian. Jurnalisme bukan sekadar menulis berita, melainkan kemampuan membaca momentum sejarah. Asa Bafagih menunjukkan bahwa informasi, bila dikelola dengan tepat, bisa menjadi alat perjuangan yang sama pentingnya dengan bambu runcing. Proklamasi tidak cukup dibacakan. Ia harus disiarkan, dipercaya, lalu menjadi fakta politik. Dalam konteks itu, pers adalah jembatan antara peristiwa dan legitimasi.
Namun keteguhan Asa tidak berhenti di masa revolusi 1945. Delapan tahun kemudian, ia kembali berhadapan dengan negara. Kali ini yang ia hadapi bukan penjajah, melainkan pemerintah republik sendiri. Sebagai pemimpin redaksi Pemandangan, ia menerbitkan berita tentang rencana investasi asing yang dianggap membocorkan rahasia negara. Ketika diperiksa, ia menolak membuka identitas sumber. Ia memilih menanggung risiko hukum daripada mengkhianati etika profesinya. Dari sinilah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai “Peristiwa Asa Bafagih”, salah satu tonggak awal hak ingkar wartawan di Indonesia.
