Pangeran Jawa Penjelajah Dunia

Rabu, 22 April 2026

Ada orang yang hidupnya lurus seperti rel kereta. Ia sekolah, bekerja, pensiun, lalu selesai. Tapi hidup Raden Mas Panji Sosrokartono justru seperti peta pengembaraan yang penuh belokan tak terduga. Ia lahir sebagai anak priyayi Jawa, tumbuh menjadi intelektual kosmopolitan, sempat berada di jantung sejarah dunia sebagai wartawan perang dan penerjemah, lalu menutup hidup sebagai sosok spiritual yang dicari banyak orang. Sulit mencari tokoh Indonesia lain yang hidupnya seluas itu, dari Jepara ke Leiden, dari ruang diplomasi Eropa ke rumah penyembuhan di Bandung.


Yang membuat Sosrokartono menarik bukan hanya karena ia kakak R.A. Kartini. Justru, jika Kartini dikenal sebagai cahaya gagasan emansipasi, Sosrokartono adalah contoh lain dari kegelisahan kaum terpelajar bumiputra awal abad ke-20, yang bergerak di pusat dunia modern, tetapi tak pernah benar-benar lepas dari akar Jawa.


Sejak muda, Kartono memang sudah tampak berbeda. Ia menikmati pendidikan terbaik yang bisa diakses anak bumiputra masa itu, dari Jepara hingga Belanda. Di Leiden, kecerdasannya menonjol bukan sekadar karena prestasi akademik, tetapi karena kemampuan bahasa yang luar biasa. Ia menguasai banyak bahasa timur dan barat, jumlahnya belasan. Pada masa ketika kebanyakan orang bahkan belum sempat melihat dunia di luar karesidenannya, Sosrokartono sudah melintasi batas-batas bangsa lewat kata-kata.


Kemampuan bahasa itu bukan sekadar kebanggaan intelektual. Hal tersebut menjadi modal yang membawanya masuk ke panggung sejarah global. Dalam Perang Dunia I, ia bekerja sebagai wartawan perang untuk The New York Herald Tribune. Bayangkan, seorang lelaki Jawa, lahir di Mayong, Jepara, lalu berada di tengah pusaran perang Eropa, menulis berita tentang perundingan gencatan senjata yang mengakhiri salah satu konflik terbesar dalam sejarah manusia.


Namun kehidupan sering kali juga menyimpan retak-retak kecil yang manusiawi. Sosrokartono bukan tokoh suci tanpa cela. Masa mudanya di Eropa juga diwarnai gaya hidup yang flamboyan, pergaulan luas, dan utang yang menumpuk. Justru sisi inilah yang membuatnya terasa dekat. Ia bukan manusia sempurna, melainkan pribadi cerdas yang juga bergulat dengan ego, pilihan hidup, dan mungkin seorang perantau intelektual yang kesepian.


Kisahnya terasa relevan untuk kita hari ini. Banyak orang Indonesia modern juga mengalami hal serupa: berlari mengejar prestasi global, fasih dengan bahasa dunia, akrab dengan jejaring internasional, tetapi diam-diam bertanya, “Setelah semua ini, pulang ke mana?”


Pertanyaan itu agaknya juga menghampiri Sosrokartono. Setelah berkiprah di Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB), ia memilih pulang ke Hindia Belanda. Menariknya, kepulangan itu bukan jalan mulus menuju jabatan bergengsi. Tawaran menjadi bupati ditolaknya. Seolah-olah, setelah menaklukkan dunia luar, ia justru sedang mencari sesuatu yang lebih sunyi, yakni dunia batin.


Fase inilah yang sering membuat orang terkejut. Sosrokartono yang dulu hidup di ruang konferensi internasional, kemudian dikenal sebagai “Mandor Klungsu”, membuka rumah penyembuhan di Bandung, dan menjadi tokoh kebatinan yang dihormati. Orang datang bukan untuk mendengar pidato bahasa asing, tetapi mencari ketenangan, kesembuhan, dan nasihat hidup.


Bagi sebagian masyarakat modern, perubahan itu mungkin terasa ganjil. Bagaimana mungkin seorang poliglot kelas dunia berakhir di jalan spiritual? Tetapi justru di situlah keutuhan kisahnya. Pengembaraan intelektual yang panjang rupanya membawanya pada kesadaran sederhana. Ilmu yang paling sulit bukanlah menaklukkan bahasa orang lain, melainkan memahami manusia, termasuk dirinya sendiri.


Warisan Sosrokartono karena itu bukan hanya cerita tentang kejeniusan. Yang lebih penting adalah teladan tentang keluasan hidup. Ia menunjukkan bahwa manusia tak harus terjebak dalam satu identitas. Seseorang bisa menjadi intelektual modern sekaligus tetap berpijak pada kebijaksanaan lokal. Bisa menjadi warga dunia tanpa kehilangan rumah batinnya.


Di zaman sekarang, ketika ukuran sukses sering disempitkan menjadi jabatan, gelar, atau popularitas digital, kisah Sosrokartono terasa seperti pengingat yang nyata. Bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus menuju puncak yang terlihat orang. Kadang, yang lebih penting justru keberanian untuk pulang, bukan sekadar ke kampung halaman, tetapi ke diri sendiri.


Mungkin itulah sebabnya kisahnya masih terasa hidup sampai sekarang. Sosrokartono bukan sekadar pangeran Jawa yang pernah mengembara jauh. Ia adalah simbol pencarian manusia yang tak pernah selesai: mencari dunia, lalu mencari makna.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (229) kepegawaian (175) serba-serbi (93) hukum (92) oase (87) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)