Setiap tanggal 2 Mei, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional sambil mengulang nama yang sama, yakni Ki Hajar Dewantara. Ia dikenang sebagai Bapak Pendidikan Nasional, tokoh yang meletakkan fondasi penting bagi sistem pendidikan Indonesia. Namun, ada satu nama yang jarang disebut, padahal jejaknya tak kalah menentukan, yaitu Sutartinah, istri Suwardi Suryaningrat nama awal Ki Hajar Dewantara.
Sejarah sering kali bekerja seperti panggung yang sorot lampunya terlalu fokus ke satu orang. Tokoh utama berdiri di tengah, terang-benderang, sementara yang lain berada di pinggir, gelap, nyaris tak terlihat. Sutartinah adalah salah satu yang berada di area redup itu. Ia kerap disebut sebagai “pendamping”, padahal perannya jauh melampaui itu.
Kisah hidup Sutartinah menunjukkan bahwa perjuangan pendidikan di Indonesia tidak lahir dari satu kepala saja. Ia tumbuh dari percakapan, dari relasi, dari kerja bersama, termasuk yang berlangsung di ruang-ruang domestik yang sering dianggap sepele. Dalam banyak catatan, Sutartinah bukan hanya istri, tetapi juga mitra intelektual. Ia mendorong suaminya untuk menulis, memberi semangat saat tekanan datang, bahkan terlibat dalam komunikasi rahasia ketika gerakan perlawanan terhadap kolonialisme semakin ketat.
Kita sering membayangkan tokoh besar sebagai sosok yang berdiri sendiri, seolah-olah gagasannya muncul dari ruang hening yang steril. Padahal kenyataannya tidak demikian. Gagasan besar sering lahir dari dialog panjang, dari dukungan emosional, dari kehadiran seseorang yang percaya ketika dunia di luar meragukan. Dalam hal ini, Sutartinah memainkan peran penting dalam membentuk arah hidup Ki Hajar.
Salah satu titik krusial adalah ketika Ki Hajar beralih dari jalur politik ke dunia pendidikan. Keputusan ini bukan sekadar strategi, tetapi juga refleksi mendalam tentang cara paling efektif melawan kolonialisme. Pendidikan dipilih sebagai jalan panjang untuk membebaskan manusia. Dan menariknya, perubahan arah ini tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada peran Sutartinah di dalamnya. Ia sebagai pemberi dorongan, sebagai teman berpikir, sebagai penyangga ketika pilihan besar harus diambil.
Dari sini kita bisa melihat bahwa sejarah pendidikan nasional tidak hanya ditopang oleh ide-ide besar, tetapi juga oleh relasi yang memungkinkan ide itu bertahan dan berkembang. Tanpa keberlanjutan, gagasan hanya akan menjadi catatan. Sutartinah memastikan bahwa gagasan itu hidup.
Peran itu semakin jelas setelah Ki Hajar wafat. Sutartinah tidak berhenti di belakang layar. Ia melanjutkan kepemimpinan lembaga pendidikan yang telah dibangun bersama, menjaga nilai-nilai yang mereka yakini, sekaligus memastikan bahwa api pendidikan tetap menyala. Ia juga aktif dalam gerakan perempuan, termasuk dalam momentum penting seperti Kongres Perempuan Indonesia 1928, yang menandai kebangkitan kesadaran perempuan Indonesia.
Kita perlu jujur, bahwa cara kita menulis sejarah masih sangat maskulin. Kita lebih mudah mengingat tokoh dengan pidato besar, tulisan terkenal, atau jabatan formal. Sementara kontribusi yang bersifat “diam-diam”, yang menopang, merawat, dan menjaga, sering kali luput dari ingatan kolektif. Padahal, tanpa kerja-kerja yang tak terlihat itu, banyak gagasan besar tidak akan pernah bertahan lama.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen untuk memperluas cara kita memahami pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan hanya soal kurikulum, sekolah, atau tokoh besar yang namanya diabadikan. Pendidikan juga tentang ekosistem. Tentang siapa yang mendukung, siapa yang menjaga, siapa yang memastikan nilai-nilai itu terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Untuk itu, mengingat Sutartinah bukan sekadar menambahkan satu nama dalam daftar sejarah. Ini adalah upaya untuk melihat pendidikan secara lebih utuh, bahwa di balik setiap tokoh besar, ada jaringan peran yang bekerja bersama, sering kali tanpa pengakuan.
Mungkin sudah saatnya kita merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak hanya mengulang nama yang sudah akrab, tetapi juga membuka ruang bagi nama-nama yang selama ini tersembunyi. Bukan untuk menggantikan, tetapi untuk melengkapi Karena pendidikan, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling dikenal. Melainkan tentang siapa saja yang telah membuatnya tetap berjalan.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya