Perang sering kali berubah lebih cepat daripada cara manusia membayangkannya. Pada awal abad ke-20, banyak jenderal masih percaya kavaleri berkuda akan menjadi penentu kemenangan. Namun Perang Dunia I justru membuktikan bahwa senapan mesin dan artileri telah mengubah wajah peperangan. Dua puluh tahun kemudian, kapal perang raksasa yang menjadi kebanggaan banyak negara kembali kehilangan pamornya setelah pesawat tempur dan kapal induk menunjukkan dominasinya dalam Perang Dunia II. Sejarah mengajarkan bahwa perang selalu bergerak mengikuti revolusi teknologi.
Novel Ghost Fleet: A Novel of the Next World War karya P. W. Singer dan August Cole mengajak pembaca membayangkan revolusi berikutnya. Berbeda dengan novel perang pada umumnya yang dipenuhi dentuman meriam dan heroisme di medan tempur, Ghost Fleet menawarkan skenario yang lebih sunyi sekaligus menggelisahkan. Perang dunia berikutnya, menurut imajinasi kedua penulis, tidak diawali oleh ledakan bom, melainkan oleh layar komputer yang tiba-tiba gelap, satelit yang kehilangan kendali, jaringan listrik yang lumpuh, dan sistem komunikasi militer yang tak lagi dapat dipercaya.
Di sinilah letak kekuatan novel tersebut. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah thought experiment, tentang bagaimana teknologi mengubah konsep peperangan. Ia adalah semacam simulasi dalam bentuk cerita tentang bagaimana jika perang besar berikutnya berlangsung ketika teknologi digital telah menjadi tulang punggung kehidupan negara.
Sejak lama, sejarah memperlihatkan bahwa negara yang mampu menguasai teknologi baru hampir selalu memperoleh keunggulan strategis. Bangsa Mongol menaklukkan Eurasia berkat mobilitas pasukan berkudanya. Inggris menguasai lautan melalui revolusi kapal uap dan industri. Amerika Serikat memenangkan Perang Teluk 1991 melalui apa yang kemudian dikenal sebagai Revolution in Military Affairs, yakni penggunaan satelit, senjata berpemandu presisi, dan jaringan informasi yang terintegrasi.
