Pelajaran tentang Rapuhnya Kekuasaan

Senin, 27 April 2026

Sejarah sering kali kita warisi dalam bentuk narasi besar yang megah. Majapahit, misalnya, hampir selalu hadir sebagai lambang kejayaan Nusantara, dengan wilayah luas, persatuan yang kokoh, dan tokoh-tokoh besar yang seolah bergerak tanpa cela. Namun, ulasan Yudhi Andoni atas buku Majapahit: Intrik, Pengkhianatan, dan Peperangan di Kerajaan Terbesar Indonesia karya Herald van der Linde mengajak kita melihat lapisan yang lebih dalam, bahwa di balik kebesaran sebuah imperium, selalu ada ruang rapuh yang bernama konflik internal.


Di sinilah sejarah menjadi sesuatu yang menarik, karena ia tidak lagi hanya berbicara tentang kemenangan dan simbol, tetapi juga tentang watak dasar kekuasaan. Sebuah bangunan politik yang tampak kukuh dari luar bisa saja menyimpan retakan dari dalam. Retakan itu sering bukan berasal dari musuh yang datang dari seberang, melainkan dari lingkaran terdekat penguasa, yaitu para pembantu utama, elite istana, tokoh militer, hingga mereka yang mula-mula ikut mendirikan fondasi kekuasaan.


Pembacaan semacam ini membuat Majapahit terasa relevan lintas zaman. Kekuasaan, dalam bentuk apa pun, selalu menghadapi tantangan yang sama, bagaimana menjaga keseimbangan antara kepercayaan, loyalitas, dan kebutuhan untuk mengonsolidasikan otoritas.


Dalam kerangka itu, Gajah Mada tampil lebih kompleks. Ia tidak hanya hadir sebagai mahapatih besar yang identik dengan Sumpah Palapa, tetapi juga sebagai aktor politik yang memahami betul seni membaca momentum. Sosoknya dalam buku tersebut digambarkan bukan semata sebagai pemersatu, melainkan sebagai figur yang bergerak di tengah faksionalisme, mengelola kepentingan, bahkan mengambil langkah-langkah keras demi memastikan arah kekuasaan tetap terkendali.

Di Antara Kaisar Bugil dan Raja Lalim

Minggu, 26 April 2026

Dalam hidup, kadang kita tidak sedang memilih yang baik dan yang buruk. Kita justru dipaksa memilih dua keburukan yang sama-sama bikin sesak. Pilih atasan yang keras tapi masih bisa ditebak, atau pemimpin yang tampak polos namun hidup di dunia khayalnya sendiri? Dilema semacam ini terasa dekat sekali dengan esai Lynda Ibrahim di Kompas edisi 10 April 2026 berjudul Kaisar Bugil Versus Raja Lalim.


Analogi itu menarik karena terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama dunia kerja dan birokrasi. Ada tipe pemimpin yang cerdas, ambisius, tetapi kejam. Ia tahu apa yang diinginkan, tahu siapa yang harus disingkirkan, dan tahu bagaimana kekuasaan dipakai untuk memastikan semua orang tunduk. Ini jenis “raja lalim” yang menakutkan, tetapi setidaknya masih bisa dibaca. Kita tahu ke mana arah anginnya.


Kalau dia hanya peduli angka, orang akan sibuk mempercantik laporan. Kalau dia suka pencitraan, bawahan berlomba membuat panggung. Memang tidak sehat, tetapi ada pola yang bisa dikenali. Dalam situasi seperti ini, orang-orang masih bisa menyusun strategi bertahan, seperti menyesuaikan langkah, menghindari ranjau, dan menjaga jarak aman dari wilayah yang sensitif.


Masalah yang lebih rumit justru datang dari “kaisar bugil”. Ia bukan selalu orang jahat. Bahkan kadang terlihat ramah, penuh semangat, dan punya banyak ide. Tetapi idenya lahir bukan dari pemahaman, melainkan dari ilusi. Ia merasa sedang memecahkan masalah besar, padahal yang disentuh hanya gejalanya. Ia yakin sedang membuat perubahan, padahal hanya mengganti bungkus. Itulah pelajaran yang dikisahkan oleh Hans Christian Andersen dalam The Emperor’s New Clothes.

Nilai TKA

Sabtu, 25 April 2026

Kalau membaca data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, kita seperti melihat peta Indonesia dalam bentuk angka. Bedanya, yang tampak bukan gunung, sungai, atau jalan, melainkan jarak mutu pendidikan antar daerah.


Angkanya mudah dibaca. Yang tertinggi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat rata-rata 63,18 persen, sementara yang terendah Provinsi Papua Pegunungan berada di 42,08 persen. Selisihnya lebih dari 20 poin. Dalam bahasa sederhana, kalau angka itu dibayangkan seperti nilai ulangan skala 100, rata-rata siswa DIY ada di angka 63, sedangkan Papua Pegunungan di angka 42.


TKA sendiri adalah tes yang dipakai untuk melihat kemampuan akademik siswa secara lebih terukur, terutama pada tiga pelajaran utama, yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Jadi, persentase dalam TKA bisa dibaca sebagai rata-rata capaian siswa dari 100 poin. Makin tinggi angkanya, makin baik rata-rata penguasaan materi siswa di daerah tersebut. Namun, yang lebih penting dari angka itu bukan soal siapa juara pertama dan siapa juru kunci. Yang menarik justru cerita di baliknya.


Data ini kembali menunjukkan pola lama pendidikan kita, bahwa daerah dengan ekosistem belajar kuat, seperti Yogyakarta, Jakarta, Jawa Tengah, atau Bali, cenderung berada di atas. Sementara wilayah yang menghadapi tantangan geografis, keterbatasan guru, dan fasilitas sekolah yang belum merata masih tertinggal. Ini bukan semata soal anak-anak di satu daerah lebih cerdas daripada daerah lain. Jauh lebih rumit dari itu.

Warisan Kartini: Ketekunan Membaca, Kejernihan Menulis, dan Menyebarkan Gagasan

Jumat, 24 April 2026

Di Indonesia, banyak tokoh atau pahlawan yang dikenang lewat patung, nama jalan, atau tanggal peringatan. Kartini berbeda, karena melampaui hal tersebut. Ia hidup dalam kalimat. Ia bertahan dalam lembar-lembar surat, berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain, lalu menemukan pembaca baru di setiap zaman. Karena itu, Kartini tidak pernah benar-benar selesai menjadi sejarah. Ia selalu lahir kembali setiap kali tulisannya dibaca ulang.


Di situlah sisi paling menarik dari kehidupan Kartini. Usianya memang singkat, hanya 25 tahun, tetapi pikirannya memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada hidup biologisnya. Ia seolah membuktikan bahwa manusia bisa pergi, tetapi gagasan yang ditulis dengan kejujuran dan kejernihan akan terus mencari jalannya sendiri.


Kartini tumbuh di Jepara, di lingkungan priyayi yang tertata oleh adat, hierarki, dan tata krama yang ketat. Dari ruang keluarga itulah kepekaan sosialnya tumbuh. Ia menyaksikan bagaimana status menentukan penghormatan, bagaimana perempuan dibatasi ruang geraknya, dan bagaimana nasib sering kali diputuskan lebih dulu oleh garis keturunan. Pengalaman itu tidak menjadikannya pasrah. Sebaliknya, ia mengolahnya menjadi kegelisahan intelektual yang terus bergerak.


Yang membuat Kartini begitu hidup hingga hari ini adalah kebiasaannya menulis surat. Sejak tahun 1899 sampai 1904, ia berkirim surat kepada J.H. Abendanon dan sahabat-sahabatnya di Belanda. Surat-surat itu memuat lebih dari sekadar suara hati seorang perempuan muda. Di sana ada cerita tentang keluarganya, hubungan hangat dengan saudara-saudaranya, pandangannya tentang pendidikan, kegelisahan atas keadaan masyarakat, hingga cita-cita besar untuk mengangkat martabat bangsa Jawa melalui pengetahuan.

Viral Dulu, OTT Kemudian

Kamis, 23 April 2026

Di zaman digital, suara warga tidak lagi mengenal batas geografis. Seorang pekerja migran di Taiwan dapat lebih cepat mengetahui jalan berlubang di kampungnya di Tulungagung dibanding pejabat yang kantornya hanya berjarak beberapa kilometer dari lokasi. Ironi kecil semacam ini bukan lagi anekdot, melainkan potret baru demokrasi kita. Yang jauh terasa dekat, yang dekat justru terlalu jauh.


Fenomena Suci, pekerja migran asal Tulungagung yang berani mengkritik pejabat daerah melalui media sosial, layak dibaca lebih dari sekadar viralitas sesaat. Ia menunjukkan perubahan besar dalam hubungan antara warga, pemerintah, dan ruang publik. Kini, panggung kritik tidak lagi dimonopoli forum resmi, musyawarah desa, atau surat pembaca media massa. Sebuah video singkat dari luar negeri dapat menjelma menjadi kanal kontrol sosial yang pengaruhnya tak kalah kuat.


Di sinilah metafora lagu lawas grup Iklim dari Malaysia, Suci dalam Debu, terasa begitu relevan. Nama Suci yang melekat pada sosok ini seakan bertemu secara kebetulan dengan “debu” ruang digital: riuh komentar, silang pendapat, klarifikasi pejabat, hingga penghakiman warganet yang sering bergerak lebih cepat daripada fakta. Namun, seperti lirik lagu itu, sesuatu yang jernih kadang tersembunyi di balik permukaan yang berdebu.


Yang jernih dari fenomena ini adalah keberanian warga biasa untuk mengambil peran dalam pengawasan publik. Suci bukan pejabat, bukan anggota lembaga pengawas, dan bukan pula aktivis yang dibesarkan oleh panggung politik. Ia hanya warga yang memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan kegelisahan atas kondisi kampung halaman. Dalam demokrasi yang sehat, suara semacam ini seharusnya dibaca sebagai energi sosial, bukan semata gangguan.

Pangeran Jawa Penjelajah Dunia

Rabu, 22 April 2026

Ada orang yang hidupnya lurus seperti rel kereta. Ia sekolah, bekerja, pensiun, lalu selesai. Tapi hidup Raden Mas Panji Sosrokartono justru seperti peta pengembaraan yang penuh belokan tak terduga. Ia lahir sebagai anak priyayi Jawa, tumbuh menjadi intelektual kosmopolitan, sempat berada di jantung sejarah dunia sebagai wartawan perang dan penerjemah, lalu menutup hidup sebagai sosok spiritual yang dicari banyak orang. Sulit mencari tokoh Indonesia lain yang hidupnya seluas itu, dari Jepara ke Leiden, dari ruang diplomasi Eropa ke rumah penyembuhan di Bandung.


Yang membuat Sosrokartono menarik bukan hanya karena ia kakak R.A. Kartini. Justru, jika Kartini dikenal sebagai cahaya gagasan emansipasi, Sosrokartono adalah contoh lain dari kegelisahan kaum terpelajar bumiputra awal abad ke-20, yang bergerak di pusat dunia modern, tetapi tak pernah benar-benar lepas dari akar Jawa.


Sejak muda, Kartono memang sudah tampak berbeda. Ia menikmati pendidikan terbaik yang bisa diakses anak bumiputra masa itu, dari Jepara hingga Belanda. Di Leiden, kecerdasannya menonjol bukan sekadar karena prestasi akademik, tetapi karena kemampuan bahasa yang luar biasa. Ia menguasai banyak bahasa timur dan barat, jumlahnya belasan. Pada masa ketika kebanyakan orang bahkan belum sempat melihat dunia di luar karesidenannya, Sosrokartono sudah melintasi batas-batas bangsa lewat kata-kata.


Kemampuan bahasa itu bukan sekadar kebanggaan intelektual. Hal tersebut menjadi modal yang membawanya masuk ke panggung sejarah global. Dalam Perang Dunia I, ia bekerja sebagai wartawan perang untuk The New York Herald Tribune. Bayangkan, seorang lelaki Jawa, lahir di Mayong, Jepara, lalu berada di tengah pusaran perang Eropa, menulis berita tentang perundingan gencatan senjata yang mengakhiri salah satu konflik terbesar dalam sejarah manusia.

Kardinah: Tak Sekadar Adinda Kartini

Selasa, 21 April 2026

Setiap tanggal 21 April, nama Kartini selalu memenuhi ruang-ruang kita. Kutipan suratnya beredar, foto berkebaya muncul di sekolah, dan pidato tentang emansipasi perempuan kembali dibacakan. Namun, di balik gemerlap nama besar itu, ada satu sosok yang nyaris selalu luput dari ingatan. Dialah Raden Ajeng Kardinah, adik Kartini, yang diam-diam meneruskan mimpi kakaknya dengan kerja nyata.


Jika Kartini mewariskan gagasan melalui surat-surat, Kardinah mewujudkannya lewat sekolah, rumah sakit, dan rumah penampungan. Ia seperti bekerja dalam sunyi, tanpa banyak sorotan, tetapi jejaknya benar-benar menyentuh hidup orang banyak.


Barangkali memang tidak mudah hidup di bawah bayang-bayang nama sebesar Kartini. Sejarah biasanya lebih mudah mengingat mereka yang menulis gagasan besar daripada mereka yang tekun mengerjakannya sedikit demi sedikit. Padahal, tanpa orang-orang seperti Kardinah, cita-cita emansipasi bisa saja berhenti sebagai wacana yang indah di atas kertas.


Lahir di Jepara pada 1 Maret 1881, Kardinah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menanamkan kepekaan sosial. Ayahnya, RM Sosroningrat, merupakan Bupati Jepara yang kerap mengajak anak-anaknya melihat langsung penderitaan rakyat. Cara pendidikan seperti ini terasa sederhana, tetapi sangat membentuk wataknya. Empati tidak lahir dari ceramah, melainkan dari melihat kenyataan dengan mata sendiri.

Ruang Bernapas

Senin, 20 April 2026

Siapa yang tidak suka kota yang rapi? Jalan mulus, trotoar bersih, transportasi tertib, layanan publik cepat dan jelas. Bagi banyak orang Indonesia yang sehari-hari berhadapan dengan macet, banjir, dan birokrasi berbelit, gambaran itu terasa seperti mimpi. Kita ingin negara yang teratur.


Dalam sebuah esai lama berjudul Rapi, Goenawan Mohamad memakai simbol “Istana Kristal”—sebuah bangunan kaca raksasa di London abad ke-19—untuk menggambarkan cita-cita modernitas: masyarakat yang serba terukur, rasional, dan efisien. Segalanya transparan. Segalanya bisa dihitung. Tak ada kekacauan.


Bagi sebagian orang, itu adalah masa depan ideal. Tapi ada juga yang merasa gelisah. Sastrawan Rusia, Fyodor Dostoyevsky, melihat Istana Kristal sebagai lambang dunia yang terlalu percaya pada hitungan dan kepastian. Jika semua sudah diatur dan diprediksi, di mana ruang untuk kebebasan manusia?


Pertanyaan itu terasa makin relevan di Indonesia hari ini.

 

Label

coretan (231) kepegawaian (175) hukum (93) serba-serbi (93) oase (89) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)