Belakangan ini pocong tampaknya sedang naik panggung lagi. Ia tidak keluar dari layar bioskop atau cerita ronda malam, melainkan dari media sosial. Ada video CCTV buram, rekaman jalan kampung yang remang-remang, hingga unggahan tentang “pocong begal” yang konon berkeliaran pada malam hari.
Cerita itu menyebar cepat. Dari Tangerang, Bekasi, dan Jakarta, lalu melompat ke sejumlah daerah di Jawa Timur. Warganet saling berbagi video, menambahkan cerita, dan menyisipkan peringatan bernada darurat. Seperti biasa, tombol “bagikan” bekerja lebih cepat daripada verifikasi.
Yang menarik, pocong modern ini justru banyak yang tertangkap. Di Kediri, misalnya, tiga remaja diamankan setelah berkeliaran dengan kostum pocong demi membuat konten media sosial. Di tempat lain, polisi menemukan video editan, pengamen berkostum pocong, hingga laporan yang tidak terbukti. Aparat di sejumlah daerah pun meminta masyarakat tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.
Namun, persoalannya mungkin bukan lagi apakah pocong itu nyata atau palsu. Pertanyaan yang lebih menarik ialah: mengapa cerita seperti ini begitu mudah dipercaya?
