Di Indonesia, membicarakan politik tanpa menyebut Nahdlatul Ulama rasanya hampir mustahil. NU bukan sekadar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Ia juga kekuatan sosial, budaya, bahkan politik yang pengaruhnya terasa hingga desa-desa. Karena itu, setiap pemilu, pertanyaan lama selalu muncul: ke mana suara warga Nahdliyin akan bergerak?
Namun sebuah studi menarik dari Burhanuddin Muhtadi dan Adam Kamil dalam jurnal Tashwirul Afkar 2025 berjudul Warga Nahdliyin, Partai Politik, dan Pilihan Presiden 2024: Antara Identitas Keagamaan, Jaringan Organisasi, dan Preferensi Elektoral menunjukkan bahwa politik warga NU hari ini jauh lebih kompleks dibanding bayangan banyak orang.
Selama ini publik sering menganggap “suara NU” sebagai satu blok besar yang mudah diarahkan. Seolah jika seorang kandidat didukung tokoh NU, otomatis warga Nahdliyin akan ikut memilihnya. Tetapi Pemilu 2024 membuktikan kenyataannya tidak sesederhana itu.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara nasional sekitar 54,6 persen Muslim Indonesia mengaku dekat dengan NU. Angka ini jauh melampaui organisasi Islam lainnya. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang diklaim sebagai basis tradisional NU, kedekatan itu bahkan jauh lebih besar lagi.
