Di Indonesia, banyak tokoh atau pahlawan yang dikenang lewat patung, nama jalan, atau tanggal peringatan. Kartini berbeda, karena melampaui hal tersebut. Ia hidup dalam kalimat. Ia bertahan dalam lembar-lembar surat, berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain, lalu menemukan pembaca baru di setiap zaman. Karena itu, Kartini tidak pernah benar-benar selesai menjadi sejarah. Ia selalu lahir kembali setiap kali tulisannya dibaca ulang.
Di situlah sisi paling menarik dari kehidupan Kartini. Usianya memang singkat, hanya 25 tahun, tetapi pikirannya memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada hidup biologisnya. Ia seolah membuktikan bahwa manusia bisa pergi, tetapi gagasan yang ditulis dengan kejujuran dan kejernihan akan terus mencari jalannya sendiri.
Kartini tumbuh di Jepara, di lingkungan priyayi yang tertata oleh adat, hierarki, dan tata krama yang ketat. Dari ruang keluarga itulah kepekaan sosialnya tumbuh. Ia menyaksikan bagaimana status menentukan penghormatan, bagaimana perempuan dibatasi ruang geraknya, dan bagaimana nasib sering kali diputuskan lebih dulu oleh garis keturunan. Pengalaman itu tidak menjadikannya pasrah. Sebaliknya, ia mengolahnya menjadi kegelisahan intelektual yang terus bergerak.
Yang membuat Kartini begitu hidup hingga hari ini adalah kebiasaannya menulis surat. Sejak tahun 1899 sampai 1904, ia berkirim surat kepada J.H. Abendanon dan sahabat-sahabatnya di Belanda. Surat-surat itu memuat lebih dari sekadar suara hati seorang perempuan muda. Di sana ada cerita tentang keluarganya, hubungan hangat dengan saudara-saudaranya, pandangannya tentang pendidikan, kegelisahan atas keadaan masyarakat, hingga cita-cita besar untuk mengangkat martabat bangsa Jawa melalui pengetahuan.
