Sejarah sering kali kita warisi dalam bentuk narasi besar yang megah. Majapahit, misalnya, hampir selalu hadir sebagai lambang kejayaan Nusantara, dengan wilayah luas, persatuan yang kokoh, dan tokoh-tokoh besar yang seolah bergerak tanpa cela. Namun, ulasan Yudhi Andoni atas buku Majapahit: Intrik, Pengkhianatan, dan Peperangan di Kerajaan Terbesar Indonesia karya Herald van der Linde mengajak kita melihat lapisan yang lebih dalam, bahwa di balik kebesaran sebuah imperium, selalu ada ruang rapuh yang bernama konflik internal.
Di sinilah sejarah menjadi sesuatu yang menarik, karena ia tidak lagi hanya berbicara tentang kemenangan dan simbol, tetapi juga tentang watak dasar kekuasaan. Sebuah bangunan politik yang tampak kukuh dari luar bisa saja menyimpan retakan dari dalam. Retakan itu sering bukan berasal dari musuh yang datang dari seberang, melainkan dari lingkaran terdekat penguasa, yaitu para pembantu utama, elite istana, tokoh militer, hingga mereka yang mula-mula ikut mendirikan fondasi kekuasaan.
Pembacaan semacam ini membuat Majapahit terasa relevan lintas zaman. Kekuasaan, dalam bentuk apa pun, selalu menghadapi tantangan yang sama, bagaimana menjaga keseimbangan antara kepercayaan, loyalitas, dan kebutuhan untuk mengonsolidasikan otoritas.
Dalam kerangka itu, Gajah Mada tampil lebih kompleks. Ia tidak hanya hadir sebagai mahapatih besar yang identik dengan Sumpah Palapa, tetapi juga sebagai aktor politik yang memahami betul seni membaca momentum. Sosoknya dalam buku tersebut digambarkan bukan semata sebagai pemersatu, melainkan sebagai figur yang bergerak di tengah faksionalisme, mengelola kepentingan, bahkan mengambil langkah-langkah keras demi memastikan arah kekuasaan tetap terkendali.
