Filsuf dan rohaniwan Franz Magnis-Suseno dalam tulisannya Pancasila, Tidak Kurang Tidak Lebih mengingatkan sesuatu yang penting: Pancasila sangat berharga bagi Indonesia, tetapi nilainya justru akan berkurang jika diposisikan secara keliru. Pancasila perlu dijaga, tetapi tidak perlu disakralkan sampai menyaingi agama atau dijadikan semacam keyakinan yang berdiri di atas semua keyakinan lain. Pandangan itu menarik karena datang dari seseorang yang justru sangat menghargai Pancasila.
Magnis melihat Pancasila sebagai keberhasilan besar bangsa Indonesia. Negara ini terdiri dari ratusan etnis, bahasa, budaya, dan agama. Dalam sejarah dunia, keragaman sebesar itu tidak selalu berakhir damai. Kita bisa melihat pengalaman pahit di sejumlah negara yang tercabik konflik identitas, mulai dari agama hingga etnis.
Indonesia tentu bukan negeri tanpa masalah, tetapi sampai hari ini kita relatif berhasil menjaga satu hal mendasar. Orang Jawa tetap bisa menjadi Jawa, orang Minang tetap Minang, umat Islam tetap teguh pada keyakinannya, umat Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan penganut kepercayaan tetap dapat menjalankan keyakinannya. Di atas keberagaman itu ada satu kesepakatan bersama, yakni lima sila Pancasila.
Di situlah, menurut Magnis, letak peran sejatinya. Pancasila bukan pesaing agama. Ia juga bukan filsafat hidup tunggal yang memaksa semua orang berpikir sama. Pancasila hanyalah lima prinsip dasar yang disepakati bangsa Indonesia untuk hidup bersama. Dan justru karena itulah menjadi sangat penting. Tidak kurang, tetapi juga tidak lebih. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi punya makna besar.
