Cermin Zaman

Jumat, 27 Maret 2026

Di tengah derasnya arus pesan instan hari ini, kartu lebaran terasa seperti artefak masa lalu. Sunyi, pelan, tapi menyimpan jejak yang tak sederhana. Tulisan Hendri F. Isnaeni dalam Merdeka Kartu Lebaran di Historia edisi 31 Agustus 2010 mengajak kita melihat bahwa kartu lebaran bukan sekadar media ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, melainkan juga cermin zaman. Bahkan, dalam beberapa fase, menjadi alat politik.


Awalnya, tradisi berkirim kartu memang tidak lahir dari budaya Islam. Ia berakar panjang sejak ribuan tahun lalu, ketika manusia saling bertukar simbol niat baik. Dari batu berbentuk kumbang di Mesir hingga buah kering di Romawi. Tradisi modernnya berkembang setelah John Callcott Horsley menciptakan kartu natal pertama pada abad ke-19. Dari sana, kartu ucapan menjadi industri sekaligus budaya global. Ketika teknologi percetakan dan sistem pos berkembang, kartu menjadi media komunikasi yang bukan hanya personal, tapi juga visual dan simbolik.


Di Hindia Belanda, kartu pos berkembang pesat sejak akhir abad ke-19. Gambar-gambar eksotis seperti Borobudur atau lanskap Jawa bukan hanya menjadi hiasan, tetapi juga narasi visual tentang kolonial. Menariknya, gambar patung pun bahkan pernah dianggap tidak sopan oleh petugas pos di Rotterdam, hingga “diberi pakaian” sebelum sampai ke penerima. Detail kecil ini menunjukkan bahwa kartu pos sejak awal sudah sarat tafsir, sensor, dan kekuasaan.


Lalu bagaimana dengan kartu lebaran? Di sinilah kompleksitas muncul. Tidak semua kalangan Muslim menerima tradisi ini. Ada yang menganggapnya bukan bagian dari ajaran, apalagi jika dikirim oleh non-Muslim. Namun ada pula yang melihatnya sebagai bentuk silaturahmi alternatif, terutama ketika jarak memisahkan. Ini mencerminkan satu hal penting, bahwa tradisi tidak pernah tunggal, ia selalu dinegosiasikan.

Dokumen Pengubah Sejarah

Kamis, 26 Maret 2026

Sejarah sering kali dibayangkan sebagai rangkaian peristiwa besar, seperti perang, revolusi, atau pemberontakan. Namun dalam banyak kasus, perubahan besar dalam kehidupan sebuah bangsa justru bermula dari sesuatu yang tampak sederhana, yaitu melalui selembar dokumen. Surat keputusan, manifesto, atau perjanjian tertentu dapat menjadi titik balik yang mengubah arah kekuasaan. Dalam berbagai zaman dan tempat, dokumen semacam ini kerap lahir di tengah krisis politik, ketika negara sedang mencari jalan keluar dari ketegangan yang sulit diatasi.

 

Salah satu contoh menarik datang dari Rusia pada awal abad ke-20 melalui Manifesto Oktober 1905. Dokumen ini dikeluarkan oleh Tsar Nicholas II pada masa krisis politik yang dikenal sebagai Revolusi Rusia 1905. Saat itu Kekaisaran Rusia diguncang gelombang demonstrasi, pemogokan buruh, serta pemberontakan di berbagai wilayah. Kekuasaan monarki yang selama berabad-abad bersifat absolut mulai menghadapi tekanan besar dari masyarakat.

 

Untuk meredakan krisis tersebut, Tsar mengeluarkan Manifesto Oktober yang menjanjikan sejumlah reformasi politik, termasuk kebebasan sipil dan pembentukan parlemen yang disebut sebagai Duma. Secara formal, dokumen ini dimaksudkan sebagai kompromi politik untuk menenangkan situasi. Namun dampaknya jauh lebih luas. Manifesto menjadi langkah awal perubahan sistem pemerintahan Rusia dari monarki absolut menuju bentuk yang sedikit lebih konstitusional. Namun, reformasi tidak sepenuhnya berhasil menstabilkan negara, dan Rusia akhirnya tetap mengalami revolusi besar pada tahun 1917. Walaupun demikian, Manifesto Oktober tetap dikenang sebagai salah satu titik balik penting dalam sejarah politik Rusia.

 

Jika ditarik lebih dekat ke Nusantara, sejarah juga mencatat peristiwa serupa melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian ini mengakhiri konflik panjang di dalam kerajaan Mataram, yang saat itu dilanda perebutan kekuasaan di kalangan elite kerajaan.

Labirin Administrasi

Rabu, 25 Maret 2026

Di tengah dominasi sinema penuh aksi dan efek visual, film I, Daniel Blake hadir seperti potret kehidupan yang sunyi namun mengguncang. Film yang dirilis pada tahun 2016 dan digarap oleh sutradara Inggris Ken Loach ini tidak menawarkan hiburan spektakuler. Ia justru menyajikan realitas yang terasa dekat, pahit, dan sangat manusiawi.

 

Tokohnya, Daniel Blake, adalah tukang kayu lansia yang hidup sendiri di kota Newcastle. Setelah mengalami serangan jantung, dokter melarangnya bekerja. Ia pun mengajukan tunjangan kesehatan dari negara. Namun alih-alih mendapat bantuan, Daniel justru tersandung oleh sistem administrasi yang berbelit. Penilaian komputer menyatakan ia masih layak bekerja, meskipun kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Sejak saat itu, ia terjebak dalam labirin birokrasi: formulir yang rumit, antrean panjang, serta layanan telepon yang kaku dan tak solutif.

 

Cerita film ini sebenarnya sangat sederhana. Tidak ada konflik besar atau plot berlapis. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya kuat. Penonton diajak merasakan frustrasi Daniel secara perlahan: saat ia kesulitan mengisi formulir daring, saat diperlakukan seperti angka dalam sistem, hingga ketika harga dirinya mulai terkikis oleh prosedur yang tak manusiawi.

 

Film ini bukan sekadar kisah individu, melainkan kritik tajam terhadap sistem kesejahteraan modern yang semakin digital dan terotomatisasi. Daniel, yang terbiasa bekerja secara manual dengan tangan, tiba-tiba harus berhadapan dengan komputer, akun daring, dan istilah teknis yang asing. Ketidakmampuannya mengoperasikan teknologi menjadi simbol dari sistem yang kehilangan sentuhan manusia.

Negara Versus Kartel

Selasa, 24 Maret 2026

Kematian Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho, pemimpin kartel Jalisco New Generation (CJNG), menjadi peristiwa besar dalam perang panjang negara Meksiko melawan narkotika. Operasi militer yang menewaskannya disebut sebagai keberhasilan penting negara. Namun setelah itu, situasi tidak serta-merta tenang. Jalan-jalan diblokade, kendaraan dibakar, dan ketegangan meningkat di berbagai wilayah. Peristiwa ini seolah menegaskan satu hal, bahwa yang dihadapi negara bukan hanya satu orang, melainkan sebuah jaringan besar yang sudah mengakar.

 

Untuk memahami situasi seperti ini, kita bisa bercermin pada film serial Narcos. Serial tersebut mengangkat kisah nyata tentang kebangkitan kartel narkoba di Amerika Latin, terutama sosok Pablo Escobar di Kolombia. Dalam cerita itu, Escobar digambarkan bukan sekadar penjahat, tetapi pemimpin organisasi raksasa dengan jaringan internasional, tentara bersenjata, serta pengaruh hingga ke ranah politik.

 

Yang membuat Narcos terasa relevan adalah cara serial itu menunjukkan bagaimana kartel bisa tumbuh besar. Mereka tidak hanya mengandalkan kekerasan, tetapi juga uang dan pengaruh. Escobar, misalnya, membangun citra sebagai “dermawan” bagi warga miskin dengan membangun rumah dan fasilitas umum. Di sisi lain, ia menyuap pejabat dan mengintimidasi aparat. Negara pun seperti dipaksa berhadapan dengan kekuatan yang bukan sekadar kriminal biasa.

 

Gambaran itu membantu kita memahami kondisi di Meksiko hari ini. Kartel seperti CJNG bukan lagi kelompok kecil yang bergerak diam-diam. Mereka memiliki struktur organisasi yang rapi, akses senjata, dan jaringan bisnis ilegal yang luas. Perdagangan narkotika hanyalah salah satu sumber pemasukan. Di baliknya ada rantai distribusi, pencucian uang, hingga hubungan lintas negara.

Nada Sumbang Orkestra

Senin, 23 Maret 2026

Kabinet baru hampir selalu menghadapi masa-masa penyesuaian. Namun, ketika perbedaan pandangan antarmenteri muncul ke ruang publik hanya dalam hitungan hari, situasinya sering dibaca sebagai tanda bahwa koordinasi belum sepenuhnya matang. Itulah yang tampak dalam polemik antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan dua koleganya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, di awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

 

Perdebatan itu bermula dari pernyataan Menkeu mengenai capaian sektor energi dan serapan anggaran di industri galangan kapal. Bahlil menilai kritik terhadap kenaikan lifting minyak tidak berdasar. Menurut data Kementerian ESDM, lifting minyak pada tahun 2025 mencapai sekitar 605 ribu barel per hari, melampaui capaian tahun sebelumnya sekitar 585 ribu barel per hari, dan menjadi salah satu keberhasilan setelah hampir satu dekade target lifting sulit tercapai.

 

Di sisi lain, Trenggono menanggapi kritik soal serapan anggaran galangan kapal dengan menegaskan bahwa sumber dana berasal dari pinjaman luar negeri, sehingga proses pencairannya tidak sepenuhnya berada dalam kontrol satu kementerian saja. Perdebatan itu lalu berkembang di ruang publik, menimbulkan kesan adanya ketegangan di dalam tim ekonomi.

 

Secara politik, dinamika seperti ini bukan hal baru. Sejak era kabinet parlementer pada tahun 1950-an, perbedaan pandangan antarmenteri sering muncul karena masing-masing memegang mandat sektoral yang kuat. Bahkan pada masa Orde Baru yang dikenal sangat sentralistis pun, perdebatan internal kabinet tetap terjadi, meski biasanya tertutup. Bedanya, dalam era keterbukaan sekarang, perbedaan itu mudah sekali terlihat publik, terutama karena media sosial membuat respon pejabat negara berlangsung hampir sepanjang waktu (real time).

"Wong Jawa" Memaknai Lapar

Minggu, 22 Maret 2026

Tulisan Heri Priyatmoko tentang Puasa di Mata “Wong Jawa” di Kompas edisi 7 Maret 2025 mengajak kita melihat ibadah puasa dari sudut yang berbeda: bukan sekadar kewajiban religius, tetapi juga laku budaya. Puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus, melainkan juga soal bagaimana manusia menata diri, memahami hidup, dan menjaga harmoni dengan lingkungan sekitarnya.


Dalam perspektif Jawa, puasa terasa lebih “hening”. Ia tidak selalu riuh dengan simbol atau penegasan identitas, melainkan hadir sebagai laku batin. Orang Jawa mengenal berbagai bentuk tirakat—mutih, ngebleng, hingga ngrowot—yang pada dasarnya adalah latihan menahan diri. Puasa dalam Islam kemudian seperti menemukan “rumah” kulturalnya: sebuah praktik spiritual yang sejalan dengan tradisi pengendalian diri yang sudah lebih dulu hidup.


Yang menarik, puasa dalam pandangan ini tidak berhenti pada aspek fisik. Lapar bukan sekadar rasa di perut, tetapi juga jalan untuk memahami batas. Ketika seseorang menahan makan dan minum, ia sedang belajar tentang cukup. Dalam dunia yang serba berlebihan hari ini, pelajaran tentang “cukup” justru terasa semakin relevan.


Tulisan Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma tersebut juga menyinggung bagaimana orang Jawa memaknai waktu sahur dan berbuka. Ada dimensi kebersamaan yang kental, tetapi juga ada ruang refleksi yang sunyi. Dalam keheningan itulah, puasa menjadi lebih personal. Ia bukan sekadar ritual kolektif, tetapi perjalanan masing-masing individu untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Rasa yang Mengikat dalam Lebaran

Sabtu, 21 Maret 2026

Lebaran di Indonesia selalu datang dengan wajah yang akrab. Ada suara takbir menggema, meja makan penuh hidangan, dan pintu rumah terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi. Namun di balik suasana hangat itu, lebaran sebenarnya menyimpan cerita yang lebih kaya. Tentang kritik sosial, perubahan zaman, hingga cara orang menjaga hubungan di tengah keterbatasan.


Salah satu cara paling menarik memahami lebaran adalah melalui lagu. Karya Ismail Marzuki berjudul Hari Lebaran bukan sekadar lagu perayaan. Di balik nadanya yang riang, terselip sindiran halus terhadap perilaku masyarakat. Ia mengkritik kebiasaan berlebihan saat lebaran. Mulai dari hura-hura, konsumsi berlebihan, hingga praktik korupsi. Bahkan sejak awal tahun 1950-an, isu korupsi sudah disinggung sebagai sesuatu yang merusak nilai-nilai hari raya.


Menariknya, sindiran itu terasa tetap relevan hingga sekarang. Lebaran kerap berubah menjadi ajang pamer. Pamer baju baru, kendaraan baru, hingga gaya hidup yang kadang melampaui kemampuan. Padahal, esensi lebaran justru terletak pada kesederhanaan dan keikhlasan. Lagu itu seperti pengingat bahwa perayaan tidak selalu harus mewah untuk menjadi bermakna.


Di sisi lain, lebaran juga pernah hadir dalam bentuk yang lebih sunyi dan menyentuh. Tidak semua orang bisa merayakan hari raya dengan bebas bersama keluarga. Dalam catatan sejarah, para tahanan politik pasca-1965 merayakan lebaran dalam kondisi serba terbatas. Mereka tidak bisa bertemu keluarga secara langsung, hanya menerima kiriman makanan dalam besek sebagai pengganti kehadiran orang-orang tercinta.

Tradisi Mudik

Jumat, 20 Maret 2026

Jalan-jalan di Indonesia seperti mengikuti sebuah ritual tahunan setiap menjelang lebaran. Bus, kereta, kapal, hingga sepeda motor dipenuhi orang yang pulang ke kampung halaman. Fenomena ini disebut mudik. Banyak orang menganggapnya sebagai tradisi modern, tetapi jika dilihat dari kacamata sejarah, mudik sebenarnya memiliki akar yang sangat panjang, bahkan jauh sebelum Indonesia menjadi negara.


Jejak awal kebiasaan pulang kampung dapat ditelusuri hingga masa kerajaan di nusantara. Sejarawan memperkirakan praktik yang mirip mudik sudah ada pada masa Kerajaan Majapahit. Ketika wilayah kekuasaan Majapahit sangat luas, raja menempatkan pejabat dan aparat kerajaan di berbagai daerah jauh dari pusat kekuasaan. Pada waktu tertentu mereka kembali ke pusat kerajaan atau ke kampung asal untuk menghadap raja sekaligus bertemu keluarga. Mobilitas pulang-pergi ini sering dianggap sebagai bentuk awal tradisi mudik.


Namun tradisi pulang kampung bahkan mungkin lebih tua lagi. Dalam masyarakat agraris Jawa, para petani yang merantau atau bekerja jauh dari desa sering kembali ke kampung untuk membersihkan makam leluhur dan mengikuti ritual keluarga. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa hubungan emosional dengan kampung halaman sudah menjadi bagian penting dari budaya masyarakat nusantara sejak lama.


Memasuki masa kolonial, kebiasaan pulang kampung semakin terlihat jelas. Pada awal abad ke-20, banyak orang Jawa merantau ke kota-kota seperti Yogyakarta dan Surakarta untuk mencari pekerjaan. Menjelang hari raya, mereka pulang ke desa asal untuk bertemu keluarga dan mempererat hubungan sosial. Tradisi ini begitu kuat sehingga tetap berlangsung bahkan ketika kondisi kesehatan masyarakat sedang buruk.

 

Label

coretan (215) kepegawaian (174) serba-serbi (91) hukum (89) oase (81) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)