“Berperang” Melawan Emu

Selasa, 13 Oktober 2026

Pada tahun 1932, Australia pernah menghadapi “musuh” yang barangkali tidak pernah terbayangkan oleh seorang jenderal, yakni burung emu.


Sekitar 20.000 ekor emu memasuki kawasan pertanian gandum di Australia Barat. Tanaman rusak. Para petani mengeluh. Pemerintah kemudian mengirim personel militer lengkap dengan dua senapan mesin Lewis dan ribuan butir amunisi untuk mengendalikan kawanan tersebut. Dari sinilah lahir cerita yang kemudian terkenal sebagai “Emu War”, perang Australia melawan emu.


Namanya memang menggelikan. Tetapi di balik kisah yang sering dijadikan bahan lelucon itu terdapat pelajaran serius tentang kebijakan public. Ketika pemerintah salah membaca masalah, kewenangan dan sumber daya sebesar apa pun belum tentu menghasilkan solusi.


Operasi dimulai pada 2 November 1932. Pasukan yang dipimpin Major G.P.W. Meredith menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan perhitungan. Emu ternyata bukan sasaran yang mudah. Burung besar yang tidak bisa terbang itu mampu berlari cepat, bergerak lincah, dan—yang paling menyulitkan—segera berpencar ketika ditembaki.

Hakim Menghadapi Hukum

Senin, 12 Oktober 2026

Dalam tradisi hukum Romawi dikenal istilah iudex, orang yang diberi kewenangan untuk memutus perkara. Dari kata itulah kita mengenal istilah judge dalam bahasa Inggris dan judex dalam tradisi hukum modern. Indonesia mengenalnya sebagai hakim. Hakim bukan sekadar orang yang dianggap bijaksana, melainkan pejabat yang memegang kekuasaan negara. Karena itu, ada paradoks yang menarik. Hakim mengadili manusia, tetapi hakim sendiri adalah manusia.


Paradoks tersebut menjadi cerita utama The Judge (2014), film karya sutradara David Dobkin, tentang seorang ayah yang menjadi hakim dan putranya yang menjadi pengacara. Joseph Palmer merupakan hakim senior di sebuah kota kecil Indiana. Puluhan tahun ia duduk di bangku pengadilan dan dikenal keras dalam menegakkan hukum. Putranya, Hank Palmer, adalah pengacara sukses di Chicago. Hubungan keduanya buruk dan mereka lama tidak bertemu.


Kematian ibu Hank yang notabene istri Joseph mempertemukan mereka kembali. Usai pemakaman, cerita beralih ke perkara hukum ketika Joseph dituduh menabrak dan sengaja membuat mati seorang mantan narapidana yang pernah dijatuhinya hukuman. Masalahnya, Joseph tidak mengingat kejadian tersebut. Hakim itu akhirnya harus berhadapan dengan pengadilan. Dan pengacaranya adalah anaknya sendiri.


Film kemudian bergerak dari drama keluarga ke persoalan yang lebih menarik. Bagaimana hukum bekerja ketika orang yang biasanya berada di meja hakim tiba-tiba menjadi pihak yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya?

'Privilese' di Balik Penjara

Minggu, 11 Oktober 2026

Pada Juli 2018, sebuah kamar di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, menjadi berita nasional. Di balik jeruji, kamar narapidana korupsi Fahmi Darmawansyah dilengkapi pendingin udara, televisi, kulkas, lemari, tempat tidur, bahkan kamar mandi dengan water heater. Beberapa hari sebelumnya, KPK menangkap Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husein dalam operasi tangkap tangan.


KPK menduga fasilitas tersebut bukan diperoleh secara cuma-cuma. Ada uang dan mobil yang diduga diberikan agar Fahmi memperoleh fasilitas khusus sekaligus kemudahan keluar-masuk lapas. KPK kala itu menyebut informasi awal tarif fasilitas tertentu mencapai Rp200 juta hingga Rp500 juta per kamar. Perkara tersebut kemudian berujung pada proses hukum terhadap pejabat lapas dan pihak pemberi.


Sukamiskin menjadi sebuah ironi. Seseorang memang kehilangan kebebasannya ketika masuk penjara, tetapi ternyata tidak selalu kehilangan seluruh privilese yang sebelumnya dimilikinya. Uang dan jaringan sosial masih dapat menemukan ruang di balik tembok.


Delapan tahun kemudian, nama lapas lain kembali menyita perhatian. Ia bernama Lapas Cibinong. Pada 23 September 2026, Ombudsman RI melakukan inspeksi mendadak dan menemukan sejumlah bangunan di dalam kompleks Lapas Cibinong yang menyerupai rumah tinggal. Ada sofa, televisi, kulkas, meja makan, pendingin ruangan, serta fasilitas lain. Ombudsman juga menemukan warga binaan berada di kawasan tersebut. Sebelumnya, tim Ombudsman mengaku sempat ditolak memasuki area tertentu.

Kuda Lumping

Sabtu, 10 Oktober 2026

Setiap kali suara kendang dan gong mulai berdentum dari sudut kampung, orang-orang segera berdatangan. Anak-anak berlarian sambil membawa jajanan. Pedagang es dan mainan ikut merapat. Para orang tua mencari tempat berteduh di bawah pohon atau emper rumah. Tak lama kemudian, penari-penari dengan kuda anyaman bambu memasuki arena. Pertunjukan kuda lumping pun dimulai.


Pemandangan seperti ini masih dijumpai di berbagai daerah di Jawa, terutama ketika musim hajatan, bersih desa, sedekah bumi, atau peringatan hari kemerdekaan. Di tengah derasnya hiburan digital, kesenian rakyat ini ternyata belum kehilangan penontonnya. Justru sebaliknya, ia tetap menjadi magnet yang mampu mengumpulkan ratusan bahkan ribuan orang.


Fenomena itu menarik. Mengapa sebuah kesenian tradisional yang telah berusia ratusan tahun masih mampu mengalahkan daya tarik gawai dan media sosial, setidaknya selama beberapa jam? Jawabannya tidak semata-mata terletak pada unsur hiburannya.


Sejarawan seperti Clifford Geertz pernah menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Jawa tidak bisa dipisahkan dari berbagai simbol, ritual, dan pertunjukan komunal. Sebuah pertunjukan bukan hanya tontonan, melainkan juga ruang tempat masyarakat membangun kebersamaan. Dalam konteks itu, kuda lumping bukan sekadar tari. Ia adalah peristiwa sosial.

Hilang 150 Tahun

Jumat, 09 Oktober 2026

Di sebuah perpustakaan umum di Kiama, New South Wales, Australia, sebuah buku berjudul Antiquities of Athens akhirnya kembali ke rak perpustakaan setelah menghilang sejak sekitar tahun 1870-an. Buku itu ditemukan tersimpan di dalam sebuah kotak teh yang tertanam di balik perapian saat sebuah rumah tua direnovasi. Jika aturan denda pada masa itu masih diberlakukan, peminjamnya seharusnya membayar sekitar 28.000 dolar Australia atau sekitar Rp355 juta. Tentu saja, perpustakaan tidak lagi mengejar dendanya. Yang jauh lebih berharga adalah kembalinya sepotong sejarah.


Peristiwa itu mengundang senyum sekaligus renungan. Sebuah buku ternyata mampu bertahan lebih lama daripada manusia yang pernah meminjamnya. Peminjam terakhir mungkin telah lama meninggal. Rumah tempat buku itu disembunyikan telah berganti penghuni berkali-kali. Pemerintahan telah berganti, perang datang dan pergi, teknologi berubah dari mesin uap menjadi kecerdasan buatan. Namun, buku itu tetap ada, menunggu seseorang menemukannya. Inilah keajaiban buku. Ia bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan kapsul waktu.


Sejarawan Perancis, Lucien Febvre dan Henri-Jean Martin, dalam The Coming of the Book, menunjukkan bahwa sejarah buku sejatinya adalah sejarah peradaban manusia. Buku menyimpan gagasan, pengetahuan, bahkan cara berpikir suatu zaman. Karena itu, hilangnya sebuah buku bukan hanya kehilangan benda, tetapi juga hilangnya sebagian jejak ingatan kolektif.


Perpustakaan sejak dahulu dibangun di atas sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat mahal nilainya, yaitu kepercayaan. Tidak seperti toko buku, perpustakaan mempersilakan seseorang membawa pulang buku tanpa membayar harga bukunya. Yang diminta hanya satu, yakni mengembalikannya. Sistem ini bertahan berabad-abad karena adanya keyakinan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab moral terhadap pengetahuan yang dipinjamnya.

Mengawasi Pengawas

Kamis, 08 Oktober 2026

Ada sebuah pertanyaan klasik dalam filsafat politik yang terus relevan hingga hari ini: siapa yang mengawasi para pengawas? Jika polisi diberi kewenangan menggunakan kekuatan atas nama negara, siapa yang memastikan kekuasaan itu tidak berubah menjadi alat penindasan?


Pertanyaan tersebut menjadi inti film Training Day karya sutradara Antoine Fuqua. Dibintangi Denzel Washington dan Ethan Hawke, film ini bukan sekadar kisah polisi mengejar penjahat. Ia adalah studi tentang korupsi kekuasaan, dilema moral, dan tipisnya batas antara penegakan hukum dan kriminalitas.


Film dibuka dengan kedatangan Jake Hoyt, seorang polisi muda yang idealis. Ia mendapat kesempatan bergabung dengan satuan narkotika Los Angeles dan harus menjalani satu hari masa evaluasi bersama detektif senior Alonzo Harris.


Jake datang dengan keyakinan sederhana, bahwa polisi adalah pelindung masyarakat. Namun, sejak pagi hingga malam, keyakinan itu perlahan dihancurkan. Alonzo tidak mengikuti prosedur. Ia memeras bandar narkoba, memanipulasi barang bukti, menggunakan kekerasan di luar batas, bahkan membunuh orang demi kepentingannya sendiri. Semua dilakukan atas nama efektivitas. Baginya, hukum hanyalah alat. Yang penting adalah hasil.

Luka Masa Kecil

Rabu, 07 Oktober 2026

Film Mystic River, karya sutradara Clint Eastwood yang diadaptasi dari novel karya Dennis Lehane, memenangkan dua Piala Oscar. Film tersebut seperti kisah pembunuhan biasa. Namun sesungguhnya, Mystic River adalah tragedi tentang trauma, keadilan, dan bagaimana masa lalu dapat mengendalikan masa depan seseorang.


Cerita bermula pada tahun 1975 ketika tiga anak laki-laki—Jimmy, Sean, dan Dave—sedang bermain di sebuah jalan di Boston. Dua pria yang mengaku polisi datang dan membawa Dave dengan alasan ia melakukan kenakalan. Ternyata mereka bukan polisi, melainkan predator seksual yang menyiksa Dave selama beberapa hari sebelum ia berhasil melarikan diri. Peristiwa singkat itu menjadi titik balik kehidupan ketiga sahabat tersebut. Jimmy tumbuh menjadi mantan narapidana yang menguasai lingkungan tempat tinggalnya. Sean menjadi polisi. Sementara Dave tidak pernah benar-benar pulih dari trauma yang dialaminya.


Dua puluh lima tahun kemudian, putri Jimmy ditemukan terbunuh. Penyelidikan membawa berbagai kecurigaan, terutama kepada Dave yang malam itu pulang ke rumah dengan pakaian berlumuran darah. Tanpa menunggu proses hukum, Jimmy memutuskan mengambil keadilan ke tangannya sendiri. Ia membunuh Dave karena yakin sahabatnya itulah pelaku pembunuhan. Ironisnya, Dave ternyata tidak bersalah. Pembunuh sebenarnya adalah dua remaja lain yang bertindak secara impulsif. Namun kebenaran datang terlambat. Nyawa Dave telah melayang.


Di sinilah kekuatan Mystic River. Film ini tidak hanya berbicara tentang siapa pembunuhnya, tetapi mengapa manusia sering mengambil keputusan yang menghancurkan ketika dikuasai kemarahan dan prasangka.

Bahasa Diplomasi

Selasa, 06 Oktober 2026

Upacara pemakaman biasanya dipahami sebagai ruang berkabung. Di sana orang datang untuk mengantar yang wafat dengan doa, penghormatan, dan kenangan. Namun pemakaman Ayatollah Ali Khamenei pada Juli 2026 menunjukkan bahwa sebuah prosesi kematian juga dapat berubah menjadi panggung diplomasi internasional. Yang berbicara bukan pidato resmi, bukan konferensi pers, melainkan potongan-potongan ayat Al-Qur'an.


Setiap delegasi yang datang memperoleh bacaan ayat yang berbeda. China mendengar ayat tentang pertolongan. Hamas memperoleh ayat mengenai orang-orang yang menepati janji. Hizbullah disambut ayat tentang ketabahan menghadapi kekalahan. Arab Saudi justru memperoleh ayat yang dalam berbagai kitab tafsir berkaitan dengan Perang Badar dan Uhud, yang oleh banyak pengamat dibaca sebagai teguran politik.


Apakah semua itu kebetulan? Sulit mempercayainya.


Dalam tradisi politik Iran, simbol hampir tidak pernah dipilih secara acak. Sejak Revolusi Islam 1979, bahasa agama menjadi bahasa negara. Ayat Al-Qur'an, hadis, maupun kisah Karbala bukan hanya menjadi materi ceramah keagamaan, melainkan juga menjadi instrumen komunikasi politik.

 

Label

coretan (300) kepegawaian (180) serba-serbi (154) oase (104) hukum (101) pustaka (71) saat kuliah (71) tentang ngawi (65) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)