Ketika Identitas Tak Lagi Cukup

Senin, 15 Juni 2026

Di Indonesia, membicarakan politik tanpa menyebut Nahdlatul Ulama rasanya hampir mustahil. NU bukan sekadar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Ia juga kekuatan sosial, budaya, bahkan politik yang pengaruhnya terasa hingga desa-desa. Karena itu, setiap pemilu, pertanyaan lama selalu muncul: ke mana suara warga Nahdliyin akan bergerak?


Namun sebuah studi menarik dari Burhanuddin Muhtadi dan Adam Kamil dalam jurnal Tashwirul Afkar 2025 berjudul Warga Nahdliyin, Partai Politik, dan Pilihan Presiden 2024: Antara Identitas Keagamaan, Jaringan Organisasi, dan Preferensi Elektoral menunjukkan bahwa politik warga NU hari ini jauh lebih kompleks dibanding bayangan banyak orang.


Selama ini publik sering menganggap “suara NU” sebagai satu blok besar yang mudah diarahkan. Seolah jika seorang kandidat didukung tokoh NU, otomatis warga Nahdliyin akan ikut memilihnya. Tetapi Pemilu 2024 membuktikan kenyataannya tidak sesederhana itu.


Penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara nasional sekitar 54,6 persen Muslim Indonesia mengaku dekat dengan NU. Angka ini jauh melampaui organisasi Islam lainnya. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang diklaim sebagai basis tradisional NU, kedekatan itu bahkan jauh lebih besar lagi.

Luka Kepercayaan

Minggu, 14 Juni 2026

Kanker adalah kata yang sering membuat orang mendadak diam. Ia bukan sekadar penyakit, melainkan pengalaman yang mengubah hidup banyak keluarga. Ketika dokter mengucapkan diagnosis itu, yang hadir bukan hanya urusan medis, tetapi juga ketakutan, ketidakpastian, dan pertanyaan panjang tentang masa depan.


Di Indonesia, cerita tentang kanker tidak sulit ditemukan. Ada keluarga yang menjual aset demi biaya pengobatan, pasien yang bolak-balik rumah sakit lintas kota, atau mereka yang bertahan dengan harapan sederhana: sembuh atau setidaknya memperoleh kesempatan hidup lebih panjang. Di tengah situasi itu, para penyintas kanker sering menjadi sumber inspirasi. Mereka dianggap bukti bahwa manusia bisa melawan rasa sakit dan tetap berdiri. Karena itulah kisah seseorang yang berhasil menaklukkan kanker biasanya mudah menyentuh hati.


Pada awal tahun 2000-an, dunia mengenal sebuah simbol kecil berwarna kuning: gelang LiveStrong. Bentuknya sederhana, hanya gelang silikon dengan tulisan LIVESTRONG. Namun, benda kecil itu pernah menjadi fenomena global.


Gelang itu lahir dari gerakan sosial yang bertujuan mendukung penderita kanker dan menggalang dana penelitian. Harganya murah, mudah dipakai, dan sarat makna. Banyak orang mengenakannya bukan demi gaya, melainkan sebagai tanda solidaritas. Atlet, artis, pelajar, sampai politisi memakainya di pergelangan tangan.

Cerita Duo Mulyadi

Sabtu, 13 Juni 2026

Pada 6 Januari 2010, Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi sebuah peristiwa yang ganjil sekaligus menyedihkan. Saat Tim Nasional sepak bola Indonesia tertinggal dan tampil buruk dalam lanjutan Kualifikasi Piala Asia 2011 melawan Oman, seorang pemuda bernama Hendri Mulyadi tiba-tiba memanjat pagar, menerobos petugas keamanan, lalu berlari masuk ke lapangan.


Ia menggiring bola, menuju gawang Oman, dan melepaskan tendangan ke arah kiper lawan. Tendangan itu pelan. Terlalu pelan. Kiper Oman, Ali Al-Habsi, menangkap bola dengan mudah sambil tersenyum. Penonton tertawa. Aparat keamanan bergerak cepat. Hendri kemudian diamankan.


Banyak orang menganggap peristiwa itu sekadar aksi nekat seorang suporter yang frustrasi. Namun jika dilihat lebih dalam, tindakan Hendri sesungguhnya adalah simbol dari kondisi sepak bola Indonesia saat itu: penuh kekecewaan, kehilangan arah, dan jauh dari harapan publik.


Enam belas tahun kemudian, sejarah menghadirkan kisah yang menarik. Indonesia kembali bertemu Oman. Kali ini dalam FIFA Matchday Juni 2026. Indonesia menang meyakinkan 3-0. Salah satu sorotan pertandingan adalah penampilan penjaga gawang naturalisasi, Emil Audero Mulyadi. Nama belakangnya sama: Mulyadi.

Dari Asas Tunggal ke Tanjung Priok

Jumat, 12 Juni 2026

Salah satu catatan paling kelam di era Orde Baru adalah Tragedi Tanjung Priok 1984. Untuk memahami peristiwa ini, kita perlu mundur sejenak ke awal dekade 1980-an, masa ketika pemerintahan Orde Baru berada pada puncak stabilitas politiknya. Setelah melalui pergolakan politik pada 1960-an dan awal 1970-an, pemerintah di bawah Presiden Soeharto menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama pembangunan.


Dalam konteks itu, Pancasila tidak hanya diposisikan sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai fondasi ideologis yang wajib menjadi titik temu seluruh organisasi sosial dan politik. Lahir kebijakan yang kemudian dikenal sebagai asas tunggal Pancasila.


Melalui berbagai regulasi politik, termasuk Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan tahun 1985 dan kebijakan sebelumnya yang mulai digulirkan sejak awal 1980-an, organisasi masyarakat dan kekuatan politik didorong, bahkan diwajibkan, menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas.


Bagi pemerintah saat itu, kebijakan tersebut dianggap penting untuk menjaga persatuan dan mencegah konflik ideologi seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Indonesia baru melewati trauma politik 1965 dan masih menyimpan kekhawatiran terhadap pertarungan ideologi yang dianggap berpotensi memecah bangsa. Namun seperti banyak kebijakan politik lain, penerimaannya tidak sepenuhnya mulus.

Tak Sekadar Mati Lampu

Kamis, 11 Juni 2026

Ada hal yang baru terasa penting ketika ia tiba-tiba hilang. Listrik salah satunya.


Banyak dari kita mungkin pernah mengeluh saat lampu mati beberapa menit. Sinyal hilang, kipas berhenti, pekerjaan tertunda, atau baterai ponsel tinggal garis merah. Namun pemadaman listrik massal di Sumatra pada Mei 2026 mengingatkan bahwa blackout bukan sekadar urusan lampu padam. Ia bisa menjelma menjadi persoalan keselamatan, ekonomi, bahkan rasa aman masyarakat.


Laporan BBC tentang blackout Sumatra menghadirkan potret yang tidak berhenti pada angka atau gangguan teknis. Ada wajah-wajah manusia di balik gelap itu.


Di Sumatra Utara, dua pekerja toko meninggal akibat keracunan karbon monoksida dari genset yang digunakan saat listrik padam. Seorang remaja juga kehilangan nyawa setelah mandi di sungai karena pompa air rumah tak berfungsi. Di Sumatra Barat, dua remaja meninggal setelah menyalakan genset di ruang tertutup. Sementara di Aceh, warga menghadapi situasi yang lebih panjang: listrik yang kerap padam bertahun-tahun dan kecemasan tambahan terhadap konflik satwa liar saat malam gelap.

Black Out dan Bayang-bayang Sengkon-Karta

Rabu, 10 Juni 2026

Ada satu adegan yang terus membekas setelah saya menamatkan serial Korea Black Out. Bukan adegan pembunuhan, bukan pula pengungkapan pelaku. Yang paling mengganggu justru ketika Go Jeong-woo, tokoh utama serial ini, pulang ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama sepuluh tahun.


Ia sudah menjalani hukuman. Namun hukumannya ternyata belum selesai. Warga masih memandangnya sebagai pembunuh. Tetangga menjauhinya. Masa depannya hancur. Dan yang paling menyakitkan, Jeong-woo sendiri tidak pernah benar-benar yakin mengapa hidupnya harus berakhir seperti itu.


Black Out berkisah tentang seorang siswa teladan yang diterima di sekolah kedokteran. Masa depannya cerah. Namun setelah sebuah malam yang berakhir dengan blackout akibat mabuk, ia dituduh membunuh teman perempuannya. Tanpa ingatan yang utuh tentang kejadian malam itu, Jeong-woo tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke kampung halamannya untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah dirinya benar-benar pelaku?


Premis ini sebenarnya sederhana. Tetapi kekuatan Black Out tidak terletak pada misteri pembunuhannya. Kekuatan serial ini justru berada pada pertanyaan yang lebih mengganggu: bagaimana jika sistem hukum dan masyarakat sama-sama meyakini sesuatu yang ternyata keliru?

Laut Berpagar Konflik

Selasa, 09 Juni 2026

Laut biasanya dibayangkan sebagai ruang terbuka. Namun di sekitar Gaza, laut juga bisa berubah menjadi pagar panjang yang dijaga senjata, diplomasi, dan saling curiga. Di sanalah kisah Global Sumud Flotilla 2.0 berlabuh. Bukan di pelabuhan Gaza yang mereka tuju, melainkan di pusaran tuduhan kekerasan, bantahan, dan perdebatan hukum internasional.


Lebih dari 50 kapal berlayar dari Turki pada pertengahan Mei 2026. Misi mereka, menurut penyelenggara, adalah mengirim bantuan makanan dan medis serta menembus blokade maritim Israel terhadap Gaza. Namun sebelum mendekati pantai, armada itu dicegat Angkatan Laut Israel di perairan sebelah barat Siprus, sekitar 460 kilometer dari Gaza. Para relawan dipindahkan ke kapal Israel, dibawa ke Pelabuhan Ashdod, lalu ditahan dan akhirnya dideportasi. Sebanyak 422 orang dari 41 negara dipulangkan, termasuk sembilan warga Indonesia.


Setelah bebas, sejumlah relawan menyampaikan kesaksian yang mengguncang. Ada yang mengaku dipukul, ditampar, dijambak, diraba, bahkan menjadi korban kekerasan seksual. Penyelenggara flotilla menyebut sedikitnya terdapat 15 kasus kekerasan seksual, termasuk dugaan pemerkosaan. Seorang aktivis Prancis mengaku mengalami perabaan dan pemukulan. Jurnalis Italia yang ikut dalam rombongan menggambarkan fasilitas penahanan sebagai “tempat teror”. Kelompok bantuan hukum berbasis Israel, Adalah, juga menyebut adanya keluhan mengenai kekerasan ekstrem dan cedera serius.


Tetapi di titik inilah kehati-hatian menjadi penting. Sejumlah tuduhan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Otoritas penjara Israel menolak seluruh klaim itu dan menyatakan para tahanan diperlakukan sesuai hukum serta tetap memperoleh layanan medis. Pemerintah Israel juga menyebut flotilla sebagai aksi propaganda yang dianggap membantu kepentingan Hamas.

Duka, Topeng, dan Cerita Palsu

Senin, 08 Juni 2026

Ada ironi yang sulit diabaikan dari kasus Kouri Richins. Seorang ibu muda di Utah, Amerika Serikat, menulis buku tentang menghadapi duka karena kehilangan suami. Buku itu diberi judul Are You With Me? dan dipersembahkan untuk sang suami yang ia sebut sebagai ayah yang hebat dan pasangan yang luar biasa. Namun, di ruang sidang, cerita itu berbelok tajam. Juri justru menyatakan bahwa Kouri adalah pembunuh suaminya sendiri. Kisah ini terasa seperti novel kriminal, tetapi ia nyata.


Pada Maret 2026, panel juri menyatakan Kouri Richins bersalah atas pembunuhan terhadap suaminya, Eric Richins, yang meninggal pada Maret 2022 akibat overdosis fentanyl. Bukan overdosis biasa, melainkan kandungan fentanyl lima kali lipat dosis mematikan yang ditemukan dalam tubuh Eric. Jaksa juga menyebut ada percobaan peracunan sebelumnya melalui makanan, yang membuat korban sempat nyaris meninggal.


Kasus ini menarik perhatian luas bukan hanya karena unsur kejahatannya, melainkan karena lapisan cerita di sekelilingnya. Dua bulan sebelum ditangkap pada tahun 2023, Kouri menerbitkan buku yang bertujuan membantu keluarga dalam menghadapi kehilangan. Dalam wawancara radio, ia bahkan mengatakan buku itu diharapkan menjadi penghiburan bagi keluarganya dan orang lain yang mengalami duka.


Di situlah publik merasa terguncang. Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang kesedihan yang, menurut putusan pengadilan, justru ia ciptakan sendiri?

 

Label

coretan (265) kepegawaian (177) hukum (99) serba-serbi (94) oase (93) saat kuliah (71) pustaka (66) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)