Dalam esainya Desakralisasi Pejabat Publik yang dimuat di Historia (7 September 2025), Bonnie Triyana mengingatkan bahwa republik ini lahir bukan hanya untuk mengakhiri kolonialisme, tetapi juga untuk meruntuhkan budaya feodal yang menempatkan pejabat sebagai golongan yang harus disembah. Kisah-kisah tentang wali kota di Belanda yang mencuci mobil sendiri, mantan menteri yang naik angkutan umum, hingga kesederhanaan Johannes Leimena dan Haji Agus Salim menjadi kontras dengan sebagian wajah birokrasi Indonesia hari ini yang masih gemar mempertontonkan simbol-simbol kekuasaan.
Pengamatan Bonnie sesungguhnya menyentuh persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar gaya hidup pejabat. Ia mengajak kita bertanya, apakah republik ini benar-benar telah berhasil mendesakralisasi jabatan publik, atau justru masih mewarisi mentalitas birokrasi kolonial yang menempatkan pejabat sebagai kelas sosial yang berbeda dari rakyat?
Delapan puluh tahun setelah Indonesia merdeka, pertanyaan itu masih terasa relevan. Peristiwa yang belakangan melibatkan sejumlah anggota DPR kembali menghidupkan diskusi lama mengenai hubungan antara pejabat dan masyarakat. Sorotan publik bukan hanya tertuju pada dugaan pelanggaran hukum, melainkan juga pada gaya hidup, privilese, dan jarak sosial yang semakin lebar antara elite dan rakyat.
Fenomena tersebut sesungguhnya memiliki akar sejarah yang panjang. Pada masa kolonial Hindia Belanda, jabatan bupati bukan sekadar posisi administratif. Ia merupakan simbol kekuasaan yang sengaja dipelihara pemerintah kolonial melalui sistem indirect rule. Para bupati tetap mempertahankan atribut kebangsawanan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pemerintah kolonial dalam mengendalikan rakyat.
