Di sebuah perpustakaan umum di Kiama, New South Wales, Australia, sebuah buku berjudul Antiquities of Athens akhirnya kembali ke rak perpustakaan setelah menghilang sejak sekitar tahun 1870-an. Buku itu ditemukan tersimpan di dalam sebuah kotak teh yang tertanam di balik perapian saat sebuah rumah tua direnovasi. Jika aturan denda pada masa itu masih diberlakukan, peminjamnya seharusnya membayar sekitar 28.000 dolar Australia atau sekitar Rp355 juta. Tentu saja, perpustakaan tidak lagi mengejar dendanya. Yang jauh lebih berharga adalah kembalinya sepotong sejarah.
Peristiwa itu mengundang senyum sekaligus renungan. Sebuah buku ternyata mampu bertahan lebih lama daripada manusia yang pernah meminjamnya. Peminjam terakhir mungkin telah lama meninggal. Rumah tempat buku itu disembunyikan telah berganti penghuni berkali-kali. Pemerintahan telah berganti, perang datang dan pergi, teknologi berubah dari mesin uap menjadi kecerdasan buatan. Namun, buku itu tetap ada, menunggu seseorang menemukannya. Inilah keajaiban buku. Ia bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan kapsul waktu.
Sejarawan Perancis, Lucien Febvre dan Henri-Jean Martin, dalam The Coming of the Book, menunjukkan bahwa sejarah buku sejatinya adalah sejarah peradaban manusia. Buku menyimpan gagasan, pengetahuan, bahkan cara berpikir suatu zaman. Karena itu, hilangnya sebuah buku bukan hanya kehilangan benda, tetapi juga hilangnya sebagian jejak ingatan kolektif.
Perpustakaan sejak dahulu dibangun di atas sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat mahal nilainya, yaitu kepercayaan. Tidak seperti toko buku, perpustakaan mempersilakan seseorang membawa pulang buku tanpa membayar harga bukunya. Yang diminta hanya satu, yakni mengembalikannya. Sistem ini bertahan berabad-abad karena adanya keyakinan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab moral terhadap pengetahuan yang dipinjamnya.
