Pada awal abad ke-21, sebuah serial televisi Amerika mengajukan pertanyaan yang terdengar seperti fiksi ilmiah: bagaimana jika ada mesin yang mampu mengetahui hampir segala sesuatu tentang manusia?
Pertanyaan itu menjadi jantung cerita Person of Interest, serial yang tayang pada 2011 hingga 2016. Kisahnya berpusat pada Harold Finch, seorang jenius komputer yang menciptakan sistem kecerdasan buatan bernama The Machine. Dengan mengumpulkan miliaran data digital, mesin itu mampu mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi menjadi korban atau pelaku kejahatan sebelum peristiwa terjadi.
Bagi penonton masa kini, premis tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan. Kita hidup di era media sosial, kamera pengawas, dan kecerdasan buatan. Namun jika dilihat dari perspektif sejarah, Person of Interest sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih tua daripada komputer, yakni hasrat kekuasaan untuk mengetahui sebanyak mungkin tentang manusia.
Sesungguhnya sejarah pengawasan modern dapat ditelusuri jauh sebelum lahirnya internet. Pada akhir abad ke-18, filsuf Inggris, Jeremy Bentham, memperkenalkan gagasan Panopticon, sebuah rancangan penjara berbentuk melingkar dengan menara pengawas di tengah. Para tahanan tidak pernah tahu kapan mereka sedang diawasi. Karena merasa selalu mungkin diawasi, mereka akan mendisiplinkan diri sendiri.
