Dulu, televisi mengenalkan politisi kepada publik. Kini keadaannya berbalik, televisi dan media sosial melahirkan orang-orang yang kemudian masuk ke politik. Raffi Ahmad adalah salah satu contohnya. Ia dibesarkan oleh industri hiburan, memiliki jutaan pengikut, membangun bisnis, lalu masuk ke lingkaran kekuasaan. Pada 22 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.
Perjalanan itu memperlihatkan perubahan penting dalam politik Indonesia. Jika dulu popularitas politik harus dibangun melalui organisasi, partai, birokrasi, atau jaringan sosial yang panjang, kini seseorang datang dengan modal yang berbeda, yakni jumlah pengikut. Inilah politik prime time.
Di layer televisi, prime time adalah waktu ketika jumlah penonton berada pada titik tertinggi. Program yang tampil pada jam itu mendapatkan perhatian paling besar dan, karena itu, memiliki nilai ekonomi tinggi. Dalam politik digital, mekanismenya hampir serupa. Orang yang memiliki jutaan pengikut sudah mempunyai “jam tayang” sendiri. Ia tidak perlu menunggu partai membangun popularitasnya dari nol.
Rating dapat mengukur berapa banyak orang menonton. Jumlah pengikut dapat menunjukkan seberapa besar seseorang mampu menarik perhatian. Tetapi keduanya tidak otomatis mengukur kemampuan membuat kebijakan, memahami birokrasi, membaca persoalan publik, atau mempertanggungjawabkan keputusan politik.
