Saya tersenyum ketika membaca esai Umar Kayam yang terbit di majalah TEMPO pada tahun1980. Judulnya terdengar mewah: La Culotte Noire de Pasar Ngawi. Kalau tidak tahu isinya, mungkin orang mengira itu tentang mode dari Paris. Padahal, yang diceritakan hanyalah celana komprang hitam yang dijual di Pasar Ngawi. Di situlah letak kecerdasan Umar Kayam. Ia mampu mengubah benda yang tampaknya sepele menjadi bahan renungan tentang cara kita memandang dunia.
Umar Kayam bukan sekadar sastrawan. Ia adalah budayawan yang gemar mengamati kehidupan sehari-hari. Lahir di Ngawi pada tahun 1932, ia menulis tentang kampung, pasar, keluarga, dan masyarakat dengan bahasa yang ringan, tetapi selalu mengandung makna. Ia tidak suka berkhotbah. Ia lebih memilih bercerita. Dan justru lewat cerita itulah kritik-kritiknya terasa lebih mengena.
Dalam esai itu, Umar Kayam pulang ke kota kelahirannya. Ia menyusuri Pasar Ngawi yang masih dipenuhi alat pertanian, jajanan tradisional, dan pakaian para petani. Di salah satu los pasar, matanya tertumbuk pada celana hitam longgar yang biasa dipakai orang bekerja di sawah. Ia membeli dua. Alasannya sederhana. Celana itu nyaman dipakai. Longgar, tidak gerah, dan cocok untuk cuaca tropis.
Namun sesampainya di rumah, sesuatu yang lucu terjadi. Putrinya yang masih kuliah justru menyukai celana itu. Ia memakainya saat bermain bersama teman-temannya. Ternyata teman-temannya juga suka. Mereka menganggap modelnya unik, keren, bahkan ingin ikut membeli. Bayangkan. Celana petani yang sehari-hari tergantung di pasar tradisional, mendadak berubah menjadi barang yang dianggap modis.
