Pada awalnya, banyak pengamat mengira konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran hanyalah babak baru dari permusuhan panjang kedua negara yang telah berlangsung sejak Revolusi Islam Iran 1979. Namun, perkembangan pada pertengahan tahun 2026 menunjukkan bahwa konflik tersebut telah melampaui hubungan bilateral. Serangan Ukraina terhadap kapal Iran di Laut Kaspia, aksi Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi di Laut Merah, hingga keterlibatan Rusia melalui dukungan intelijen memperlihatkan bahwa perang telah berubah menjadi konflik yang melibatkan banyak aktor dengan kepentingan berbeda.
Sejarah mencatat bahwa perang besar bukan hanya konflik antara dua pihak. Perang Dunia I, misalnya, bermula dari pembunuhan Archduke Franz Ferdinand di Sarajevo pada tahun 1914, tetapi dalam hitungan minggu berkembang menjadi perang global akibat jaringan aliansi militer. Perang Korea (1950-1953) juga berubah menjadi arena persaingan Amerika Serikat, China, dan Uni Soviet. Begitu pula Perang Suriah sejak tahun 2011 yang akhirnya menjadi medan perebutan pengaruh Rusia, Amerika Serikat, Iran, Turki, hingga berbagai kelompok bersenjata nonnegara.
Konflik AS-Iran tampaknya sedang mengikuti pola sejarah tersebut. Yang berubah bukan sekadar jumlah negara yang terlibat, melainkan karakter peperangannya.
Iran selama beberapa dekade membangun apa yang oleh banyak analis disebut sebagai Axis of Resistance, yakni jaringan kelompok proksi yang tersebar di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman. Strategi ini memungkinkan Teheran memproyeksikan kekuatan tanpa harus selalu mengerahkan militernya secara langsung. Ketika Amerika Serikat meningkatkan tekanan militer, kelompok-kelompok seperti Houthi di Yaman menjadi perpanjangan tangan yang mampu mengganggu kepentingan lawan.
