Hilang 150 Tahun

Jumat, 09 Oktober 2026

Di sebuah perpustakaan umum di Kiama, New South Wales, Australia, sebuah buku berjudul Antiquities of Athens akhirnya kembali ke rak perpustakaan setelah menghilang sejak sekitar tahun 1870-an. Buku itu ditemukan tersimpan di dalam sebuah kotak teh yang tertanam di balik perapian saat sebuah rumah tua direnovasi. Jika aturan denda pada masa itu masih diberlakukan, peminjamnya seharusnya membayar sekitar 28.000 dolar Australia atau sekitar Rp355 juta. Tentu saja, perpustakaan tidak lagi mengejar dendanya. Yang jauh lebih berharga adalah kembalinya sepotong sejarah.


Peristiwa itu mengundang senyum sekaligus renungan. Sebuah buku ternyata mampu bertahan lebih lama daripada manusia yang pernah meminjamnya. Peminjam terakhir mungkin telah lama meninggal. Rumah tempat buku itu disembunyikan telah berganti penghuni berkali-kali. Pemerintahan telah berganti, perang datang dan pergi, teknologi berubah dari mesin uap menjadi kecerdasan buatan. Namun, buku itu tetap ada, menunggu seseorang menemukannya. Inilah keajaiban buku. Ia bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan kapsul waktu.


Sejarawan Perancis, Lucien Febvre dan Henri-Jean Martin, dalam The Coming of the Book, menunjukkan bahwa sejarah buku sejatinya adalah sejarah peradaban manusia. Buku menyimpan gagasan, pengetahuan, bahkan cara berpikir suatu zaman. Karena itu, hilangnya sebuah buku bukan hanya kehilangan benda, tetapi juga hilangnya sebagian jejak ingatan kolektif.


Perpustakaan sejak dahulu dibangun di atas sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat mahal nilainya, yaitu kepercayaan. Tidak seperti toko buku, perpustakaan mempersilakan seseorang membawa pulang buku tanpa membayar harga bukunya. Yang diminta hanya satu, yakni mengembalikannya. Sistem ini bertahan berabad-abad karena adanya keyakinan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab moral terhadap pengetahuan yang dipinjamnya.

Mengawasi Pengawas

Kamis, 08 Oktober 2026

Ada sebuah pertanyaan klasik dalam filsafat politik yang terus relevan hingga hari ini: siapa yang mengawasi para pengawas? Jika polisi diberi kewenangan menggunakan kekuatan atas nama negara, siapa yang memastikan kekuasaan itu tidak berubah menjadi alat penindasan?


Pertanyaan tersebut menjadi inti film Training Day karya sutradara Antoine Fuqua. Dibintangi Denzel Washington dan Ethan Hawke, film ini bukan sekadar kisah polisi mengejar penjahat. Ia adalah studi tentang korupsi kekuasaan, dilema moral, dan tipisnya batas antara penegakan hukum dan kriminalitas.


Film dibuka dengan kedatangan Jake Hoyt, seorang polisi muda yang idealis. Ia mendapat kesempatan bergabung dengan satuan narkotika Los Angeles dan harus menjalani satu hari masa evaluasi bersama detektif senior Alonzo Harris.


Jake datang dengan keyakinan sederhana, bahwa polisi adalah pelindung masyarakat. Namun, sejak pagi hingga malam, keyakinan itu perlahan dihancurkan. Alonzo tidak mengikuti prosedur. Ia memeras bandar narkoba, memanipulasi barang bukti, menggunakan kekerasan di luar batas, bahkan membunuh orang demi kepentingannya sendiri. Semua dilakukan atas nama efektivitas. Baginya, hukum hanyalah alat. Yang penting adalah hasil.

Luka Masa Kecil

Rabu, 07 Oktober 2026

Film Mystic River, karya sutradara Clint Eastwood yang diadaptasi dari novel karya Dennis Lehane, memenangkan dua Piala Oscar. Film tersebut seperti kisah pembunuhan biasa. Namun sesungguhnya, Mystic River adalah tragedi tentang trauma, keadilan, dan bagaimana masa lalu dapat mengendalikan masa depan seseorang.


Cerita bermula pada tahun 1975 ketika tiga anak laki-laki—Jimmy, Sean, dan Dave—sedang bermain di sebuah jalan di Boston. Dua pria yang mengaku polisi datang dan membawa Dave dengan alasan ia melakukan kenakalan. Ternyata mereka bukan polisi, melainkan predator seksual yang menyiksa Dave selama beberapa hari sebelum ia berhasil melarikan diri. Peristiwa singkat itu menjadi titik balik kehidupan ketiga sahabat tersebut. Jimmy tumbuh menjadi mantan narapidana yang menguasai lingkungan tempat tinggalnya. Sean menjadi polisi. Sementara Dave tidak pernah benar-benar pulih dari trauma yang dialaminya.


Dua puluh lima tahun kemudian, putri Jimmy ditemukan terbunuh. Penyelidikan membawa berbagai kecurigaan, terutama kepada Dave yang malam itu pulang ke rumah dengan pakaian berlumuran darah. Tanpa menunggu proses hukum, Jimmy memutuskan mengambil keadilan ke tangannya sendiri. Ia membunuh Dave karena yakin sahabatnya itulah pelaku pembunuhan. Ironisnya, Dave ternyata tidak bersalah. Pembunuh sebenarnya adalah dua remaja lain yang bertindak secara impulsif. Namun kebenaran datang terlambat. Nyawa Dave telah melayang.


Di sinilah kekuatan Mystic River. Film ini tidak hanya berbicara tentang siapa pembunuhnya, tetapi mengapa manusia sering mengambil keputusan yang menghancurkan ketika dikuasai kemarahan dan prasangka.

Bahasa Diplomasi

Selasa, 06 Oktober 2026

Upacara pemakaman biasanya dipahami sebagai ruang berkabung. Di sana orang datang untuk mengantar yang wafat dengan doa, penghormatan, dan kenangan. Namun pemakaman Ayatollah Ali Khamenei pada Juli 2026 menunjukkan bahwa sebuah prosesi kematian juga dapat berubah menjadi panggung diplomasi internasional. Yang berbicara bukan pidato resmi, bukan konferensi pers, melainkan potongan-potongan ayat Al-Qur'an.


Setiap delegasi yang datang memperoleh bacaan ayat yang berbeda. China mendengar ayat tentang pertolongan. Hamas memperoleh ayat mengenai orang-orang yang menepati janji. Hizbullah disambut ayat tentang ketabahan menghadapi kekalahan. Arab Saudi justru memperoleh ayat yang dalam berbagai kitab tafsir berkaitan dengan Perang Badar dan Uhud, yang oleh banyak pengamat dibaca sebagai teguran politik.


Apakah semua itu kebetulan? Sulit mempercayainya.


Dalam tradisi politik Iran, simbol hampir tidak pernah dipilih secara acak. Sejak Revolusi Islam 1979, bahasa agama menjadi bahasa negara. Ayat Al-Qur'an, hadis, maupun kisah Karbala bukan hanya menjadi materi ceramah keagamaan, melainkan juga menjadi instrumen komunikasi politik.

Kebetulan dan Kebenaran

Senin, 05 Oktober 2026

Imbuhan sering dianggap sekadar aksesori tata Bahasa. Padahal, dalam bahasa Indonesia, imbuhan dapat bekerja seperti belokan tajam di jalan raya. Kata yang semula tampak searah dapat tiba-tiba menuju tujuan makna yang berbeda. “Betul” dan “benar”, misalnya, tampak seperti saudara kembar. Keduanya lazim dipakai bergantian untuk menyatakan sesuatu yang tidak salah. Namun, ketika diberi imbuhan, keduanya tidak selalu lagi berjalan beriringan. Dari sana kita belajar bahwa kebetulan tidak sama dengan kebenaran.


Dalam percakapan sehari-hari, orang bisa mengatakan, “Jawabanmu betul,” atau “Jawabanmu benar.” Kedua kalimat itu sama-sama dapat diterima. Kata “betul” dan “benar” sama-sama menunjuk pada kesesuaian antara pernyataan dengan fakta, antara jawaban dengan soal, atau antara tindakan dengan aturan. Keduanya juga dapat berarti tidak bohong, tidak keliru, dan tidak menyimpang dari keadaan yang sesungguhnya.


Namun, bahasa tidak berhenti pada kata dasar. Ketika “betul” memperoleh imbuhan ke-an, lahirlah “kebetulan”. Ketika “benar” memperoleh imbuhan yang sama, lahirlah “kebenaran”. Secara bentuk, keduanya tampak serupa: sama-sama kata benda, sama-sama berawalan ke- dan berakhiran -an. Akan tetapi, maknanya justru berjarak jauh.


“Kebetulan” menunjuk pada sesuatu yang terjadi tanpa direncanakan, tanpa disengaja, atau datang secara tidak terduga. “Saya kebetulan bertemu dia di pasar,” misalnya, tidak berarti pertemuan itu benar atau sesuai fakta. Kalimat itu justru menyatakan bahwa pertemuan tersebut tidak dirancang sebelumnya. Ada unsur kejadian acak di sana, seolah dua orang yang berjalan di jalur masing-masing mendadak berpapasan.

Resep Panjang Umur

Minggu, 04 Oktober 2026

Ada sesuatu yang menarik dari orang-orang tua di desa-desa Italia. Mereka tidak tampak seperti sedang menjalani program hidup sehat. Tidak ada kesan bahwa setiap pagi mereka sibuk menghitung kalori, mengukur langkah, atau mengejar target kebugaran di aplikasi telepon genggam. Mereka hanya menjalani kehidupan sebagaimana adanya. Pergi ke pasar, berjalan melewati jalan berbatu, memasak makanan dari kebun sendiri, berbincang dengan tetangga, menjaga cucu, dan sesekali berkumpul memanggang roti. Namun, justru dari kehidupan yang tampak sederhana itu tersimpan pelajaran penting tentang umur panjang.


Campodimele, sebuah desa di wilayah Lazio, Italia, adalah salah satu contohnya. Desa ini dikenal karena banyak penduduk lanjut usianya tetap aktif dan mandiri. Lansia masih sanggup mengayuh sepeda melewati jalan menanjak dan berjalan kaki dalam aktivitas sehari-hari. Lingkungan tempat tinggal mereka seolah menjadi “gym” alami. Untuk berbelanja saja, tubuh sudah diajak bergerak. Hal menariknya, aktivitas fisik tersebut tidak diperlakukan sebagai olahraga yang terpisah dari kehidupan. Bergerak adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.


Di zaman sekarang, kita justru sering memisahkan keduanya. Duduk berjam-jam di depan komputer, naik kendaraan untuk jarak yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, lalu malam harinya pergi ke pusat kebugaran untuk “membayar” kekurangan gerak. Kita hidup semakin praktis, tetapi tubuh justru semakin jarang digunakan.


Pelajaran berikutnya datang dari meja makan. Warga desa-desa tersebut banyak mengonsumsi makanan yang tumbuh di sekitar mereka. Ada sayuran, kacang-kacangan, serealia, rempah, serta minyak zaitun. Daging bukan selalu menjadi menu utama. Makanan olahan berlebihan juga bukan bagian dominan dari kehidupan mereka.


Tetapi yang lebih penting bukan semata-mata apa yang mereka makan, melainkan bagaimana mereka makan. Makan berlangsung lebih lama. Meja makan menjadi tempat berbincang. Pasar bukan hanya tempat membeli bahan makanan, tetapi juga ruang bertemu. Oven roti komunitas bukan sekadar alat memasak, melainkan tempat warga berkumpul. Dengan kata lain, makanan sekaligus menjadi perekat sosial. Di sinilah rahasia umur panjang itu terasa lebih menarik. Kesehatan ternyata tidak selalu berada di dalam piring. Sebagiannya justru berada di sekitar meja makan.

Pengadilan Sudut Kamera

Sabtu, 03 Oktober 2026

Di jalan Desa Kutawis, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, sebuah pikap pengangkut telur mengalami kecelakaan tunggal pada sore hari tanggal 28 Juni 2026. Muatannya, sekitar 1,3 ton telur, berserakan di jalan. Dalam waktu singkat, potongan video peristiwa itu menyebar di media sosial. Yang tampak dalam rekaman adalah warga mengambil telur di tengah situasi kacau, sementara sopir dan penumpangnya disebut masih terjebak di dalam kabin.


Video pendek itu segera bekerja seperti biasa. Membangkitkan kemarahan, melahirkan vonis, dan menjadikan sebuah desa sebagai terdakwa di ruang sidang digital. Warga Kutawis dicap tidak berperikemanusiaan. Purbalingga, melalui satu kejadian, seolah sedang dipaksa menjawab tuduhan tentang merosotnya gotong royong di kampung-kampung Jawa.


Namun, seperti banyak perkara yang lahir dari layar telepon, rekaman itu hanya membawa satu fragmen. Ia memperlihatkan tindakan yang memang keliru, yakni mengambil barang milik orang lain saat pemiliknya sedang tertimpa musibah. Namun, tidak seluruh peristiwa diperlihatkan. Dalam mediasi yang difasilitasi Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif pada beberapa hari kemudian, muncul cerita lain. Ternyata ada warga yang mengevakuasi korban, membantu menarik kendaraan, membersihkan telur dari jalan agar tidak membahayakan pengguna jalan, bahkan mengatur lalu lintas.


Dua kenyataan itu tidak saling membatalkan. Mengambil telur tetap salah. Menolong korban tetap patut dihargai. Persoalannya, media sosial hampir selalu menyukai satu kenyataan yang paling mudah memancing emosi. Seolah, tindakan buruk beberapa orang jauh lebih laku dibanding kerja sunyi banyak orang yang menolong tanpa pamrih dan tanpa kamera.

Talenta ASN

Jumat, 02 Oktober 2026

Dalam dunia birokrasi, kita mengenal begitu banyak istilah yang terdengar meyakinkan. Sebagian bahkan “berbau” bahasa asing. Manajemen talenta, merit system, kompetensi, profiling, talent pool, hingga pengembangan karier. Semuanya tampak modern. Dokumennya lengkap, aplikasinya tersedia, indikatornya disusun, dan grafiknya bisa ditampilkan dalam rapat. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan. Apakah semua itu benar-benar membuat birokrasi bekerja lebih baik?


Pertanyaan tersebut menjadi inti kegelisahan M. Ridwan Radief dalam artikelnya di Kompas edisi 1 September 2026 berjudul ASN, Birokrasi, dan Talenta di Atas Kertas. Kritik ASN Pemerintah Kabupaten Gowa tersebut sebenarnya menyentuh persoalan yang sangat mendasar, bahwa birokrasi Indonesia mungkin semakin pandai mengukur aparatur, tetapi belum tentu semakin berhasil menggunakan kemampuan aparatur untuk menyelesaikan masalah masyarakat.


Sebagai seorang ASN, saya memahami kegelisahan itu. Tidak sedikit aparatur yang memiliki pendidikan tinggi, mengikuti berbagai pelatihan, memperoleh sertifikat kompetensi, bahkan mendapatkan predikat kinerja “sangat baik”. Namun, ketika organisasi menghadapi persoalan nyata, belum tentu orang-orang yang paling banyak sertifikatnya menjadi pihak yang paling mampu menawarkan solusi.


Di sinilah kita perlu membedakan antara kompetensi administratif dan kompetensi substantif. Kompetensi administratif mudah dibuktikan melalui dokumen, seperti sertifikat, hasil tes, riwayat pelatihan, SK penugasan, atau nilai SKP (Sasaran Kerja Pegawai). Sebaliknya, kompetensi substantif terlihat dari kemampuan seseorang memahami masalah, mengambil keputusan, membangun kolaborasi, dan menghasilkan perubahan. Masalahnya, birokrasi sering kali lebih mudah menghitung yang pertama daripada mengukur yang kedua.

 

Label

coretan (300) kepegawaian (180) serba-serbi (150) oase (104) hukum (101) pustaka (71) saat kuliah (71) tentang ngawi (65) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)