Dalam sejarah ekonomi Indonesia, ada satu perdebatan yang rasanya seperti sinetron panjang. Antara industrialisasi atau agraris? Antara mesin pabrik atau cangkul? Antara pabrik semen atau sawah padi? Dan jika dua tokoh ekonomi Indonesia zaman awal kemerdekaan masih hidup hari ini, kemungkinan mereka akan kembali berdebat di podcast ekonomi, mungkin dengan judul dramatis: “Indonesia Harus Jadi Negara Pabrik atau Negara Sawah?” Kedua tokoh tersebut adalah Sumitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara.
Perdebatan
ini bukan gosip akademik semata. Pada awal tahun 1950-an, keduanya beradu
argumen tentang arah pembangunan Indonesia. Sumitro, ekonom yang dikenal
progresif dan nasionalis, mendorong industrialisasi melalui kebijakan seperti Program
Benteng, yang bertujuan melahirkan pengusaha pribumi dan mengurangi dominasi
ekonomi asing.
Di sisi
lain, Sjafruddin mengangkat alis, mungkin sambil menghela napas panjang seperti
akuntan negara yang melihat laporan anggaran minus. Ia berargumen bahwa
Indonesia sebaiknya memperkuat sektor agraria terlebih dahulu sebelum bermimpi
terlalu jauh membangun industri besar. Menurutnya, Indonesia memiliki
keunggulan alami di sektor pertanian dan sumber daya alam yang bisa diekspor
dengan biaya relatif murah.
Dengan kata lain, kalau Sumitro melihat masa depan Indonesia penuh pabrik, Sjafruddin melihatnya penuh sawah yang produktif. Perdebatan mereka sebenarnya sederhana. Apakah Indonesia harus lompat ke industrialisasi, atau berjalan dulu lewat jalan agraria?
Namun di
balik kesederhanaan itu ada persoalan besar. Indonesia baru saja merdeka.
Struktur ekonominya masih warisan colonial. Kita mengekspor bahan mentah dan
mengimpor barang jadi. Dalam sistem seperti itu, negara penghasil bahan mentah
biasanya tetap miskin, sementara negara industri menjadi kaya. Itulah yang
membuat Sumitro khawatir. Ia melihat industrialisasi sebagai cara keluar dari
“jebakan bahan mentah” yang diwariskan kolonialisme.
Kalau
dianalogikan secara sederhana, menurut Sumitro, Indonesia tidak boleh selamanya
hanya menjual pisang lalu membeli keripik pisang dari luar negeri. Namun
Sjafruddin punya kekhawatiran berbeda. Industrialisasi yang terlalu cepat,
menurutnya, bisa membuat negara kehilangan pijakan ekonomi. Ia bahkan
menyinggung contoh Argentina yang sektor pertaniannya sempat merosot akibat
industrialisasi yang terlalu agresif. Kalau diterjemahkan dalam bahasa
sehari-hari: jangan sampai negara yang dulu terkenal sebagai lumbung pangan
malah harus impor beras sambil selfie
di depan pabrik.
Menariknya,
perdebatan itu tidak berakhir dengan saling blokir WhatsApp, karena memang
belum ada WhatsApp pada tahun 1952. Keduanya tetap saling menghormati. Bahkan
di akhir hidupnya, Sumitro mengakui bahwa sebagian kritik Sjafruddin memang ada
benarnya. Perubahan struktur ekonomi tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa,
karena pembangunan memerlukan waktu panjang, bahkan lintas generasi.
Di sinilah
ironi sejarah muncul. Lebih dari tujuh puluh tahun setelah polemik itu,
Indonesia masih berdebat tentang hal yang sama. Setiap kali harga pangan naik,
kita kembali ingat bahwa negara ini agraris. Tapi setiap kali ingin mengejar
negara maju, kita kembali bicara industrialisasi. Kita seperti seseorang yang
diet tapi tetap memesan dessert. Ingin
sehat, tapi juga ingin manis.
Di banyak
forum kebijakan, debat ini bahkan sering tampil dalam bentuk yang lebih modern:
hilirisasi atau swasembada pangan? Pabrik baterai atau sawah beras? Smelter nikel atau irigasi desa? Padahal
jika membaca kembali polemik Sumitro dan Sjafruddin dengan tenang, jawabannya
sebenarnya sudah disinggung oleh Sumitro sendiri. Industrialisasi tidak harus
menggantikan agraria, melainkan melengkapinya.
Artinya,
sawah dan pabrik bukan musuh bebuyutan. Mereka seharusnya seperti pasangan
duet: yang satu menanam bahan baku, yang lain mengolahnya menjadi produk
bernilai tambah. Masalahnya, dalam praktik kebijakan publik, kita sering
memperlakukan keduanya seperti dua kubu sepak bola yang harus saling
mengalahkan. Akibatnya, diskusi ekonomi Indonesia kadang terasa seperti debat
klasik di warung kopi:
“Negara
kita agraris!”
“Tidak,
kita harus industri!”
Padahal mungkin jawabannya lebih sederhana, yakni negara ini bisa menjadi keduanya, asal kebijakannya tidak seperti menu restoran yang berubah setiap lima tahun. Jika polemik Sumitro dan Sjafruddin mengajarkan sesuatu, mungkin itu adalah satu hal yang cukup lucu sekaligus serius, bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan ide pembangunan. Yang sering kurang hanyalah kesabaran menjalankan ide itu lebih lama dari satu masa jabatan.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya