Klaim Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bahwa Rp32,1 triliun anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dicairkan hanya dalam 1,5 bulan memang terdengar impresif. Bahkan, ia menyebut belum pernah ada kementerian atau lembaga yang mencapai angka serupa dalam waktu secepat itu. Namun, dalam kebijakan publik, kecepatan belanja bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Justru, semakin besar dan cepat anggaran digelontorkan, semakin penting pula memastikan efektivitas, akuntabilitas, dan dampak jangka panjangnya.
Program
MBG sendiri memiliki skala yang luar biasa. Pada tahun 2026, total anggarannya
mencapai sekitar Rp335 triliun, dengan 93 persen dana disalurkan langsung ke
daerah melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan target
puluhan juta penerima manfaat, program ini memang dirancang sebagai intervensi
besar untuk mengatasi persoalan gizi, termasuk stunting yang masih berada di kisaran 20 persen lebih.
Dari
perspektif ekonomi makro, klaim bahwa setiap 1 rupiah belanja MBG dapat
menciptakan efek ekonomi hingga tujuh kali lipat terdengar optimistis. Teori multiplier effect memang mengakui bahwa
belanja publik di sektor konsumsi dasar seperti pangan bisa menggerakkan
aktivitas ekonomi lokal. Permintaan terhadap telur, ikan, sayur, hingga susu
meningkat, dan sektor pertanian maupun peternakan ikut terdorong.
Namun,
asumsi multiplier sebesar itu sering
kali diperdebatkan para ekonom. Efek pengganda sangat bergantung pada struktur
ekonomi, rantai pasok lokal, serta tingkat kebocoran anggaran. Jika bahan
pangan banyak didatangkan dari luar daerah, atau bahkan impor, maka dampak
terhadap petani lokal bisa jauh lebih kecil dari yang diproyeksikan. Tanpa data
terbuka tentang sumber pasokan dan harga kontrak, klaim multiplier berlipat-lipat tersebut sulit diverifikasi.
Klaim lain yang cukup mencolok adalah peningkatan nilai tukar petani (NTP) hingga 125 akibat MBG. Secara teori, peningkatan permintaan pangan memang dapat mengangkat harga jual hasil pertanian. Namun, NTP tidak hanya dipengaruhi harga output, tetapi juga biaya produksi. Jika harga pakan, pupuk, atau energi ikut naik akibat lonjakan permintaan, maka kesejahteraan petani belum tentu meningkat secara signifikan.
Lebih
jauh, indikator ekonomi yang dikaitkan dengan MBG, seperti lonjakan pembelian
sepeda motor oleh pegawai SPPG atau pengadaan puluhan ribu kendaraan pikap,
juga perlu dibaca secara hati-hati. Data internal menyebut sekitar 60 persen
pegawai SPPG membeli sepeda motor, dan sekitar 45.000 unit pikap dibutuhkan
untuk operasional dapur. Secara kasatmata, ini memang menunjukkan adanya aktivitas
ekonomi baru. Namun, pembelian kendaraan sering kali berbasis kredit. Artinya,
ia bisa mencerminkan ekspansi utang rumah tangga, bukan peningkatan pendapatan
riil.
Dari sisi
fiskal, besarnya anggaran MBG juga menimbulkan pertanyaan prioritas. Dalam
konteks APBN, Rp 335 triliun bukan angka kecil. Bahkan, beberapa pengamat
menilai program ini berpotensi membebani anggaran negara jika tidak diimbangi
pertumbuhan ekonomi yang cukup. Kekhawatiran ini muncul karena program bersifat
konsumtif dan membutuhkan pendanaan berulang setiap tahun, bukan investasi yang
sekali bangun lalu selesai.
Selain
aspek ekonomi, faktor kualitas pelaksanaan juga menjadi sorotan. Laporan media
menyebut adanya berbagai kasus keracunan makanan sejak program diluncurkan, meski
pemerintah menyatakan proporsinya kecil dibanding total penerima. Ini
menunjukkan bahwa tantangan utama program berskala besar bukan hanya anggaran,
tetapi juga standar keamanan pangan, manajemen logistik, dan pengawasan di
lapangan.
Di sisi
lain, tujuan utama MBG untuk perbaikan gizi dan kualitas sumber daya manusia, memang
memiliki landasan kuat. Studi tentang konsumsi pangan di Indonesia menunjukkan
bahwa masalah gizi tidak selalu disebabkan kemiskinan semata, tetapi juga pola
konsumsi yang kurang sehat. Dalam konteks ini, intervensi negara melalui
program makan bergizi bisa menjadi instrumen kebijakan sosial yang penting.
Namun,
pelajaran dari berbagai negara menunjukkan bahwa program makan gratis hanya
efektif jika terintegrasi dengan kebijakan lain, seperti pendidikan gizi,
sanitasi, layanan kesehatan, dan penguatan produksi pangan lokal. Tanpa
integrasi tersebut, program berisiko menjadi sekadar belanja konsumsi besar
tanpa dampak struktural.
Pada
akhirnya, program MBG memang memiliki potensi ekonomi dan sosial yang
signifikan. Tetapi, besarnya anggaran dan kecepatan pencairan tidak boleh
menjadi satu-satunya indikator keberhasilan. Yang lebih penting adalah apakah
dana tersebut benar-benar memperbaiki kualitas gizi, meningkatkan kesejahteraan
petani, dan menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Tanpa transparansi
data, evaluasi independen, dan pengawasan ketat, klaim keberhasilan program
sebesar apa pun akan selalu menyisakan tanda tanya.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya