Artikel “JOMO, Absen ‘Posting’ Itu Seru!” tulisan Neli Triana di Kompas berbicara tentang kelelahan yang sering tidak kita sadari, yakni lelah mengelola citra di media sosial. Kita sibuk memotret, menyunting, menulis caption, lalu menunggu respon. Aktivitas ini tampak ringan, tetapi sebenarnya menguras energi emosional.
Bagi kita
yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), fenomena ini punya lapisan
tambahan. ASN bukan hanya individu biasa di ruang digital. Kita juga membawa
identitas institusi. Apa yang kita unggah bisa dibaca sebagai sikap pribadi
sekaligus representasi lembaga.
Di satu
sisi, media sosial membuka peluang positif. ASN bisa berbagi informasi
kebijakan, menunjukkan kinerja, atau membangun komunikasi dengan masyarakat.
Transparansi atau keterbukaan memang menjadi tuntutan zaman. Kehadiran digital
sering dianggap bagian dari profesionalisme.
Namun di sisi lain, ada tekanan untuk selalu terlihat aktif, produktif, dan sukses. Dokumentasi kegiatan rapat, seminar, kunjungan kerja, hingga penghargaan sering kali menjadi bagian dari portofolio digital. Tanpa sadar, kita masuk dalam ritme yang sama seperti yang digambarkan Neli: sibuk mengelola kesan.
Konsep emotional labour dari Arlie Russell
Hochschild membantu menjelaskan situasi ini. ASN memang dituntut menjaga sikap
dan ekspresi, baik di ruang fisik maupun digital. Kita harus tampak tenang,
profesional, dan positif, bahkan ketika menghadapi tekanan pekerjaan. Media
sosial memperluas panggung itu. Kerja emosional tidak berhenti di kantor. Ia
ikut pulang ke rumah.
Ada juga
dimensi lain yang jarang dibicarakan, yakni ekonomi atensi. Pemikir media
Christian Fuchs menyebut aktivitas daring sebagai bentuk digital labour. Setiap unggahan menjadi bagian dari mesin besar
yang menggerakkan platform. ASN pun tidak lepas dari mekanisme ini. Ketika kita
aktif, kita ikut menyumbang data dan perhatian yang dimonetisasi oleh
perusahaan teknologi.
Masalahnya
bukan pada berbagi informasi. Yang perlu diwaspadai adalah ketika validasi
digital mulai memengaruhi cara kita bekerja. Apakah suatu kegiatan terasa
penting karena dampaknya bagi publik, atau karena potensinya untuk di-posting? Apakah fokus kita tetap pada
pelayanan, atau mulai bergeser pada pencitraan?
Di sinilah
konsep JOMO (joy of missing out) menjadi
relevan. Istilah yang dipopulerkan antara lain oleh Christina Crook dan Anil
Dash ini sederhana. Tidak semua hal perlu dibagikan. Ada kebahagiaan dalam
memilih untuk tidak selalu hadir di linimasa.
JOMO
kebalikan dari FOMO (fear of missing out). Jika FOMO membuat orang cemas
karena takut tertinggal dan merasa harus selalu ikut serta, JOMO justru
mengajak kita tenang dan menikmati pilihan untuk tidak selalu hadir. Dalam
FOMO, kita digerakkan oleh rasa takut kehilangan. Dalam JOMO, kita digerakkan
oleh kesadaran bahwa tidak semua hal perlu diikuti.
Bagi ASN,
JOMO bukan berarti menghindari tanggung jawab komunikasi publik. Ia lebih pada
kemampuan membedakan antara komunikasi yang memang diperlukan dan unggahan yang
sekadar mengikuti arus. Tidak semua rapat harus dipotret. Tidak semua aktivitas
perlu diumumkan.
Sikap ini
juga penting untuk menjaga integritas. Media sosial sering mendorong pencitraan
instan, sementara kerja birokrasi sejatinya kerja jangka panjang yang tidak
selalu spektakuler. Banyak proses administrasi yang membosankan tetapi krusial.
Jika kita terlalu terobsesi pada apa yang terlihat menarik, ada risiko
mengabaikan pekerjaan sunyi yang justru paling menentukan kualitas layanan.
Selain
itu, ASN terikat pada etika dan regulasi. Ujaran, sikap, bahkan tanda suka bisa
ditafsirkan sebagai keberpihakan. Dalam konteks ini, kehati-hatian bukan
sekadar pilihan pribadi, tetapi bagian dari profesionalitas. JOMO membantu kita
menjaga jarak sehat antara peran publik dan kebutuhan personal untuk diakui.
Tentu,
tidak realistis untuk sepenuhnya lepas dari media sosial. Dunia kerja modern
menuntut literasi digital. Namun literasi bukan hanya soal kemampuan
menggunakan aplikasi, melainkan juga kemampuan mengatur diri. Kapan perlu
berbicara, kapan lebih baik diam. Kapan berbagi, kapan menyimpan.
Tulisan
Neli pada akhirnya mengajak kita merebut kembali kendali atas perhatian dan
emosi. Bagi ASN, pesan itu terasa relevan. Dalam tugas melayani masyarakat,
energi kita seharusnya lebih banyak tercurah pada substansi kerja, bukan pada
pengelolaan citra.
Mungkin memang ada saatnya kita memilih untuk tidak memotret, tidak mengunggah, dan tidak mengejar respon. Dalam keheningan tanpa notifikasi, kita bisa lebih fokus pada makna pelayanan itu sendiri. Karena pada akhirnya, nilai kerja ASN tidak ditentukan oleh jumlah likes, melainkan oleh dampak nyata bagi publik.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya