Di tengah derasnya arus pesan instan hari ini, kartu lebaran terasa seperti artefak masa lalu. Sunyi, pelan, tapi menyimpan jejak yang tak sederhana. Tulisan Hendri F. Isnaeni dalam Merdeka Kartu Lebaran di Historia edisi 31 Agustus 2010 mengajak kita melihat bahwa kartu lebaran bukan sekadar media ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, melainkan juga cermin zaman. Bahkan, dalam beberapa fase, menjadi alat politik.
Awalnya, tradisi berkirim kartu memang tidak lahir dari budaya Islam. Ia berakar panjang sejak ribuan tahun lalu, ketika manusia saling bertukar simbol niat baik. Dari batu berbentuk kumbang di Mesir hingga buah kering di Romawi. Tradisi modernnya berkembang setelah John Callcott Horsley menciptakan kartu natal pertama pada abad ke-19. Dari sana, kartu ucapan menjadi industri sekaligus budaya global. Ketika teknologi percetakan dan sistem pos berkembang, kartu menjadi media komunikasi yang bukan hanya personal, tapi juga visual dan simbolik.
Di Hindia Belanda, kartu pos berkembang pesat sejak akhir abad ke-19. Gambar-gambar eksotis seperti Borobudur atau lanskap Jawa bukan hanya menjadi hiasan, tetapi juga narasi visual tentang kolonial. Menariknya, gambar patung pun bahkan pernah dianggap tidak sopan oleh petugas pos di Rotterdam, hingga “diberi pakaian” sebelum sampai ke penerima. Detail kecil ini menunjukkan bahwa kartu pos sejak awal sudah sarat tafsir, sensor, dan kekuasaan.
Lalu bagaimana dengan kartu lebaran? Di sinilah kompleksitas muncul. Tidak semua kalangan Muslim menerima tradisi ini. Ada yang menganggapnya bukan bagian dari ajaran, apalagi jika dikirim oleh non-Muslim. Namun ada pula yang melihatnya sebagai bentuk silaturahmi alternatif, terutama ketika jarak memisahkan. Ini mencerminkan satu hal penting, bahwa tradisi tidak pernah tunggal, ia selalu dinegosiasikan.
Masuk ke abad ke-20, kartu lebaran mulai mendapatkan bentuknya sendiri di Indonesia. Namun, yang menarik, sejak awal ia tidak pernah sepenuhnya netral. Pada tahun 1918, misalnya, kartu lebaran yang dibuat oleh perusahaan mesin jahit bukan hanya berisi ucapan, tetapi juga pengingat cicilan. Ini menunjukkan bagaimana kapitalisme dengan cepat menumpang pada ruang emosional dan kultural.
Puncak politisasi kartu lebaran terjadi menjelang dan selama masa pendudukan Jepang. Di tengah krisis global dan tekanan kolonial, kartu lebaran menjadi media propaganda. Jepang, yang berusaha meraih simpati umat Islam, memanfaatkan momen Idul Fitri untuk menyisipkan pesan politik. Bahkan, slogan “Indonesia Merdeka” ikut dicantumkan dalam kartu lebaran. Di sini, kartu bukan lagi sekadar pesan pribadi, melainkan alat mobilisasi harapan kolektif.
Menariknya, harapan itu bersifat ambigu. Di satu sisi, ia memberi semangat kemerdekaan. Di sisi lain, ia bagian dari strategi kekuasaan Jepang. Kartu lebaran, dalam konteks ini, menjadi ruang di mana emosi, agama, dan politik berkelindan.
Fenomena ini tidak berhenti di masa kolonial. Pada era Orde Baru, kartu lebaran kembali menjadi alat perlawanan. Tokoh seperti Sri Bintang Pamungkas menggunakan kartu lebaran untuk menyampaikan pesan politik yang menentang rezim. Akibatnya, kartu yang tampak sederhana itu justru dianggap ancaman oleh negara. Ini menunjukkan bahwa media sekecil apa pun bisa menjadi subversif ketika ia membawa gagasan.
Lalu, bagaimana dengan hari ini? Ketika kartu tebaran tergantikan oleh WhatsApp dan media sosial, kita mungkin kehilangan sesuatu yang lebih dari sekadar benda fisik. Kartu lebaran dulu memiliki “ritme”. Ia ditulis, dikirim, ditunggu. Ada jeda yang memberi ruang refleksi. Sementara pesan digital serba instan, cepat hilang, dan sering kali terasa generik.
Namun, bukan berarti maknanya hilang. Justru, perubahan media ini menantang kita untuk memikirkan ulang esensi silaturahmi. Apakah pesan lebaran hari ini masih memiliki kedalaman, atau sekadar formalitas digital?
Dari perjalanan panjangnya, kartu lebaran mengajarkan satu hal, bahwa media komunikasi tidak pernah netral. Ia selalu membawa nilai, kepentingan, bahkan ideologi. Dari alat silaturahmi, sarana bisnis, hingga instrumen propaganda, kartu lebaran adalah cermin kecil dari dinamika sosial-politik yang lebih besar.
Mungkin kini ia hampir punah, tetapi jejaknya tetap relevan. Sebab, di balik setiap ucapan “Selamat Idul Fitri”, selalu ada cerita tentang siapa kita, apa yang kita harapkan, dan dalam konteks apa kita hidup.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya