Film “Black and Blue” menyuguhkan kisah yang terasa sederhana, tetapi menyimpan ketegangan moral yang dalam. Film ini bercerita tentang seorang polisi muda, Alicia West, yang tanpa sengaja merekam pembunuhan seorang pengedar narkoba oleh polisi Amerika yang korup. Rekaman itu membuatnya menjadi target, bukan hanya bagi para bandar, tetapi juga bagi rekan-rekan sesama polisi yang ingin menutupi kejahatan mereka.
Yang
menarik dari film ini bukan sekadar aksi kejar-kejaran atau tembak-menembak,
melainkan konflik batin tokoh utamanya. Alicia bukan hanya dikejar penjahat,
tetapi juga dikhianati oleh institusi yang seharusnya melindunginya. Ia berdiri
sendirian di antara dua dunia: oknum polisi yang jahat dan masyarakat yang
tidak percaya pada polisi. Film ini secara halus menggambarkan satu pesan
penting, bahwa ketika integritas aparat runtuh, kepercayaan publik ikut runtuh
bersamanya.
Meski
hanya sebuah karya fiksi, cerita dalam film itu terasa sangat dekat dengan
berbagai kasus nyata, termasuk peristiwa yang terjadi di nusantara. Di Bima,
seorang kepala satuan narkoba dipecat setelah terbukti terlibat penyalahgunaan
sabu. Lebih jauh lagi, dalam proses penyidikan muncul keterangan yang menyeret
nama atasannya terkait dugaan aliran uang dari bandar narkoba. Tuduhan itu
tentu masih harus dibuktikan dalam proses hukum, tetapi fakta bahwa aparat
penegak hukum bisa terseret dalam jaringan narkotika cukup memunculkan
keprihatinan.
Jika ditarik garis lurus, film “Black and Blue” dan kasus di Bima memiliki satu benang merah, yakni rapuhnya integritas dalam sistem penegakan hukum. Dalam film, penyelewengan muncul karena solidaritas sempit di antara aparat yang menutupi kejahatan kolega mereka. Sementara dalam kasus nyata, dugaan aliran uang dari bandar narkoba menunjukkan bagaimana kekuatan finansial bisnis haram bisa menggoda atau menekan aparat.
Bisnis narkoba
memang memiliki daya rusak yang luar biasa. Data Badan Narkotika Nasional
selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jumlah pengguna narkoba di
Indonesia berada pada angka jutaan orang. Nilai perputaran uangnya mencapai
puluhan triliun rupiah per tahun. Dengan nilai ekonomi sebesar itu, jaringan narkoba
memiliki sumber daya yang cukup untuk menyusup ke berbagai lapisan, termasuk oknum
aparat penegak hukum.
Dari
perspektif hukum, keterlibatan oknum aparat dalam kasus narkoba merupakan
pelanggaran serius. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika memberikan
ancaman pidana berat, bahkan hukuman mati, bagi pelaku tertentu. Jika aparat
terbukti menyalahgunakan kewenangan atau menerima aliran uang, perkara tersebut
juga bisa masuk dalam ranah tindak pidana korupsi. Artinya, sanksinya tidak
hanya administratif, tetapi juga pidana.
Namun, di
tengah kerasnya aturan hukum, ada satu hal yang sering luput dari perhatian,
yaitu faktor budaya organisasi. Banyak pakar kepolisian menekankan bahwa penyelewengan
tidak hanya lahir dari individu, tetapi juga dari sistem yang membiarkan
praktik tidak sehat berkembang. Jika pengawasan lemah, transparansi rendah, dan
atasan bisa menekan bawahan dengan tuntutan di luar kewajaran, maka potensi
penyimpangan akan selalu ada.
Di sinilah
relevansi film “Black and Blue” terasa. Film itu tidak hanya bercerita tentang
polisi nakal, tetapi juga tentang pentingnya keberanian individu untuk
mempertahankan integritas. Tokoh Alicia West menjadi simbol bahwa satu orang
dengan prinsip kuat masih bisa melawan sistem yang salah, meski harus menghadapi
risiko besar.
Kasus di
Bima tentu berbeda dengan cerita film, karena harus diuji melalui proses hukum
yang objektif. Prinsip praduga tak bersalah tetap harus dijaga. Setiap
keterangan perlu dibuktikan di pengadilan, bukan hanya di ruang publik atau
media sosial. Namun, kasus ini tetap menjadi pengingat bahwa perang melawan
narkotika tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di dalam institusi
penegak hukum itu sendiri.
Pada akhirnya, baik di layar film maupun dalam kehidupan nyata, persoalannya sama, yakni kepercayaan publik. Ketika aparat menjaga integritas, masyarakat akan berdiri di belakang mereka. Tetapi ketika aparat terseret dalam pusaran kejahatan, yang runtuh bukan hanya satu karier, melainkan juga kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Dan kepercayaan, seperti yang ditunjukkan film “Black and Blue”, jauh lebih sulit dipulihkan daripada sekadar memenangkan satu operasi penangkapan.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya