Realitas Kasus Narkoba

Jumat, 13 Maret 2026

Film “Black and Blue” menyuguhkan kisah yang terasa sederhana, tetapi menyimpan ketegangan moral yang dalam. Film ini bercerita tentang seorang polisi muda, Alicia West, yang tanpa sengaja merekam pembunuhan seorang pengedar narkoba oleh polisi Amerika yang korup. Rekaman itu membuatnya menjadi target, bukan hanya bagi para bandar, tetapi juga bagi rekan-rekan sesama polisi yang ingin menutupi kejahatan mereka.

 

Yang menarik dari film ini bukan sekadar aksi kejar-kejaran atau tembak-menembak, melainkan konflik batin tokoh utamanya. Alicia bukan hanya dikejar penjahat, tetapi juga dikhianati oleh institusi yang seharusnya melindunginya. Ia berdiri sendirian di antara dua dunia: oknum polisi yang jahat dan masyarakat yang tidak percaya pada polisi. Film ini secara halus menggambarkan satu pesan penting, bahwa ketika integritas aparat runtuh, kepercayaan publik ikut runtuh bersamanya.

 

Meski hanya sebuah karya fiksi, cerita dalam film itu terasa sangat dekat dengan berbagai kasus nyata, termasuk peristiwa yang terjadi di nusantara. Di Bima, seorang kepala satuan narkoba dipecat setelah terbukti terlibat penyalahgunaan sabu. Lebih jauh lagi, dalam proses penyidikan muncul keterangan yang menyeret nama atasannya terkait dugaan aliran uang dari bandar narkoba. Tuduhan itu tentu masih harus dibuktikan dalam proses hukum, tetapi fakta bahwa aparat penegak hukum bisa terseret dalam jaringan narkotika cukup memunculkan keprihatinan.

 

Jika ditarik garis lurus, film “Black and Blue” dan kasus di Bima memiliki satu benang merah, yakni rapuhnya integritas dalam sistem penegakan hukum. Dalam film, penyelewengan muncul karena solidaritas sempit di antara aparat yang menutupi kejahatan kolega mereka. Sementara dalam kasus nyata, dugaan aliran uang dari bandar narkoba menunjukkan bagaimana kekuatan finansial bisnis haram bisa menggoda atau menekan aparat.

 

Bisnis narkoba memang memiliki daya rusak yang luar biasa. Data Badan Narkotika Nasional selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jumlah pengguna narkoba di Indonesia berada pada angka jutaan orang. Nilai perputaran uangnya mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Dengan nilai ekonomi sebesar itu, jaringan narkoba memiliki sumber daya yang cukup untuk menyusup ke berbagai lapisan, termasuk oknum aparat penegak hukum.

 

Dari perspektif hukum, keterlibatan oknum aparat dalam kasus narkoba merupakan pelanggaran serius. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika memberikan ancaman pidana berat, bahkan hukuman mati, bagi pelaku tertentu. Jika aparat terbukti menyalahgunakan kewenangan atau menerima aliran uang, perkara tersebut juga bisa masuk dalam ranah tindak pidana korupsi. Artinya, sanksinya tidak hanya administratif, tetapi juga pidana.

 

Namun, di tengah kerasnya aturan hukum, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu faktor budaya organisasi. Banyak pakar kepolisian menekankan bahwa penyelewengan tidak hanya lahir dari individu, tetapi juga dari sistem yang membiarkan praktik tidak sehat berkembang. Jika pengawasan lemah, transparansi rendah, dan atasan bisa menekan bawahan dengan tuntutan di luar kewajaran, maka potensi penyimpangan akan selalu ada.

 

Di sinilah relevansi film “Black and Blue” terasa. Film itu tidak hanya bercerita tentang polisi nakal, tetapi juga tentang pentingnya keberanian individu untuk mempertahankan integritas. Tokoh Alicia West menjadi simbol bahwa satu orang dengan prinsip kuat masih bisa melawan sistem yang salah, meski harus menghadapi risiko besar.

 

Kasus di Bima tentu berbeda dengan cerita film, karena harus diuji melalui proses hukum yang objektif. Prinsip praduga tak bersalah tetap harus dijaga. Setiap keterangan perlu dibuktikan di pengadilan, bukan hanya di ruang publik atau media sosial. Namun, kasus ini tetap menjadi pengingat bahwa perang melawan narkotika tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di dalam institusi penegak hukum itu sendiri.

 

Pada akhirnya, baik di layar film maupun dalam kehidupan nyata, persoalannya sama, yakni kepercayaan publik. Ketika aparat menjaga integritas, masyarakat akan berdiri di belakang mereka. Tetapi ketika aparat terseret dalam pusaran kejahatan, yang runtuh bukan hanya satu karier, melainkan juga kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Dan kepercayaan, seperti yang ditunjukkan film “Black and Blue”, jauh lebih sulit dipulihkan daripada sekadar memenangkan satu operasi penangkapan. 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (231) kepegawaian (175) hukum (93) serba-serbi (93) oase (89) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)