Gaza yang Terluka

Minggu, 01 Maret 2026

Gaza hari ini bukan sekadar nama wilayah di peta. Ia telah berubah menjadi simbol penderitaan manusia yang berlangsung terlalu lama, terlalu nyata, dan terlalu sering diabaikan. Cerita-cerita dari lapangan, seperti yang dialami Mohammad Sager, Yassin Marouf, atau Haneen al-Mabhouh, memperlihatkan wajah perang yang paling telanjang. Ada kelaparan, amputasi anggota badan, kehilangan keluarga, dan masa depan yang hancur.

 

Di satu sisi, dunia melihat konflik ini melalui angka. Puluhan ribu korban tewas, ribuan orang kehilangan anggota tubuh, dan puluhan ribu lainnya menunggu perawatan medis yang tak kunjung datang. Namun, di sisi lain, perang di Gaza adalah kisah manusia. Kisah tentang ayah yang mempertaruhkan nyawa demi sekantong tepung, pemuda yang kehilangan kaki, atau ibu yang kehilangan seluruh anaknya dalam satu malam.

 

Kisah Sager menggambarkan betapa bantuan kemanusiaan di Gaza bahkan bisa berubah menjadi jebakan maut. Ia merangkak di pinggir jalan agar tak tertembak, hanya demi makanan untuk anak-anaknya. Namun, pulang dengan tangan kosong. Keesokan hari, ia kembali lagi, bukan karena berani, melainkan karena lapar yang tak bisa ditunda.

 

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa perang di Gaza bukan hanya soal pertempuran militer, tetapi juga soal kontrol atas kehidupan sehari-hari warga sipil. Ketika akses makanan, obat, dan bantuan dibatasi, maka kelaparan dan penyakit menjadi senjata tak kasatmata.

 

Dilaporkan, lebih dari 70.000 warga Gaza telah tewas sejak konflik memuncak pada Oktober 2023, dan ribuan lainnya mengalami amputasi. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan 5.000–6.000 orang kehilangan anggota tubuh, seperempat di antaranya adalah anak-anak.  Angka ini menunjukkan bahwa dampak perang tidak berhenti pada korban tewas. Banyak yang selamat, tetapi harus hidup dengan luka permanen, tanpa fasilitas kesehatan memadai, tanpa alat prostetik, dan tanpa harapan yang jelas.

 

Kasus Yassin Marouf adalah gambaran tragisnya. Ia kehilangan satu kaki, dan kaki satunya terancam diamputasi karena tak bisa mendapat perawatan yang layak. Ia bahkan tak mampu membeli obat penghilang rasa sakit. Hidupnya terhenti di sebuah tenda, di antara keluarga yang juga terluka. Begitu pula Haneen al-Mabhouh, yang kehilangan keempat anaknya sekaligus akibat serangan udara. Hidupnya kini hanya diisi mimpi sederhana: bisa berjalan lagi, bisa menggendong bayi, dan bisa hidup seperti manusia biasa.

 

Namun, di balik tragedi ini, ada persoalan yang lebih dalam dari sekadar kekerasan fisik. Jurnalis Israel Gideon Levy menyebut tiga faktor yang membuat kekejaman terhadap warga Palestina bisa terus berlangsung. Pertama, keyakinan sebagai “umat terpilih” yang dipelintir menjadi pembenaran moral. Kedua, narasi bahwa Israel selalu menjadi korban, bahkan ketika bertindak sebagai penjajah. Ketiga, dehumanisasi sistematis terhadap rakyat Palestina.

 

Ketika suatu kelompok tidak lagi dipandang sebagai manusia setara, maka rasa bersalah bisa lenyap. Kekerasan menjadi rutinitas. Bahkan, dilaporkan, sebagian tentara Israel dengan bangga memamerkan tindakan mereka di media sosial.

 

Di titik inilah konflik Gaza berubah menjadi persoalan kemanusiaan global. Protes bermunculan di berbagai kota dunia, dari Paris hingga New York. Aktivis, dokter, hakim, hingga seniman bersuara menentang apa yang mereka sebut sebagai kejahatan kemanusiaan. Namun, tekanan moral itu sering terbentur realitas politik. Dewan Keamanan PBB berulang kali gagal mengambil langkah tegas karena veto negara besar.

 

Di tengah kehancuran itu, kehidupan tetap berusaha berjalan. Di antara tenda pengungsian, gadis-gadis Gaza berlatih tinju untuk mengatasi trauma perang. Mereka tidak punya ring yang layak, tidak punya peralatan lengkap, tetapi mereka punya harapan. Tinju bagi mereka bukan sekadar olahraga. Ia menjadi terapi, pelampiasan emosi, sekaligus simbol bahwa hidup belum sepenuhnya kalah.

 

Gaza, pada akhirnya, adalah cermin bagi dunia. Ia memperlihatkan bagaimana perang modern tidak lagi sekadar tentang tank dan roket, tetapi juga tentang blokade, kelaparan, amputasi, trauma, dan generasi yang tumbuh tanpa masa depan yang jelas. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang atau kalah, melainkan sampai kapan dunia membiarkan tragedi kemanusiaan ini berlangsung tanpa perubahan nyata.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (204) kepegawaian (173) serba-serbi (87) hukum (84) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (63) tentang ngawi (61) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)