Gaza hari ini bukan sekadar nama wilayah di peta. Ia telah berubah menjadi simbol penderitaan manusia yang berlangsung terlalu lama, terlalu nyata, dan terlalu sering diabaikan. Cerita-cerita dari lapangan, seperti yang dialami Mohammad Sager, Yassin Marouf, atau Haneen al-Mabhouh, memperlihatkan wajah perang yang paling telanjang. Ada kelaparan, amputasi anggota badan, kehilangan keluarga, dan masa depan yang hancur.
Di satu
sisi, dunia melihat konflik ini melalui angka. Puluhan ribu korban tewas,
ribuan orang kehilangan anggota tubuh, dan puluhan ribu lainnya menunggu
perawatan medis yang tak kunjung datang. Namun, di sisi lain, perang di Gaza
adalah kisah manusia. Kisah tentang ayah yang mempertaruhkan nyawa demi
sekantong tepung, pemuda yang kehilangan kaki, atau ibu yang kehilangan seluruh
anaknya dalam satu malam.
Kisah
Sager menggambarkan betapa bantuan kemanusiaan di Gaza bahkan bisa berubah
menjadi jebakan maut. Ia merangkak di pinggir jalan agar tak tertembak, hanya
demi makanan untuk anak-anaknya. Namun, pulang dengan tangan kosong. Keesokan
hari, ia kembali lagi, bukan karena berani, melainkan karena lapar yang tak
bisa ditunda.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa perang di Gaza bukan hanya soal pertempuran militer, tetapi juga soal kontrol atas kehidupan sehari-hari warga sipil. Ketika akses makanan, obat, dan bantuan dibatasi, maka kelaparan dan penyakit menjadi senjata tak kasatmata.
Dilaporkan,
lebih dari 70.000 warga Gaza telah tewas sejak konflik memuncak pada Oktober
2023, dan ribuan lainnya mengalami amputasi. Organisasi Kesehatan Dunia
memperkirakan 5.000–6.000 orang kehilangan anggota tubuh, seperempat di
antaranya adalah anak-anak. Angka ini
menunjukkan bahwa dampak perang tidak berhenti pada korban tewas. Banyak yang
selamat, tetapi harus hidup dengan luka permanen, tanpa fasilitas kesehatan
memadai, tanpa alat prostetik, dan tanpa harapan yang jelas.
Kasus
Yassin Marouf adalah gambaran tragisnya. Ia kehilangan satu kaki, dan kaki
satunya terancam diamputasi karena tak bisa mendapat perawatan yang layak. Ia
bahkan tak mampu membeli obat penghilang rasa sakit. Hidupnya terhenti di
sebuah tenda, di antara keluarga yang juga terluka. Begitu pula Haneen
al-Mabhouh, yang kehilangan keempat anaknya sekaligus akibat serangan udara.
Hidupnya kini hanya diisi mimpi sederhana: bisa berjalan lagi, bisa menggendong
bayi, dan bisa hidup seperti manusia biasa.
Namun, di
balik tragedi ini, ada persoalan yang lebih dalam dari sekadar kekerasan fisik.
Jurnalis Israel Gideon Levy menyebut tiga faktor yang membuat kekejaman
terhadap warga Palestina bisa terus berlangsung. Pertama, keyakinan sebagai
“umat terpilih” yang dipelintir menjadi pembenaran moral. Kedua, narasi bahwa
Israel selalu menjadi korban, bahkan ketika bertindak sebagai penjajah. Ketiga,
dehumanisasi sistematis terhadap rakyat Palestina.
Ketika
suatu kelompok tidak lagi dipandang sebagai manusia setara, maka rasa bersalah
bisa lenyap. Kekerasan menjadi rutinitas. Bahkan, dilaporkan, sebagian tentara
Israel dengan bangga memamerkan tindakan mereka di media sosial.
Di titik
inilah konflik Gaza berubah menjadi persoalan kemanusiaan global. Protes
bermunculan di berbagai kota dunia, dari Paris hingga New York. Aktivis,
dokter, hakim, hingga seniman bersuara menentang apa yang mereka sebut sebagai
kejahatan kemanusiaan. Namun, tekanan moral itu sering terbentur realitas
politik. Dewan Keamanan PBB berulang kali gagal mengambil langkah tegas karena
veto negara besar.
Di tengah
kehancuran itu, kehidupan tetap berusaha berjalan. Di antara tenda pengungsian,
gadis-gadis Gaza berlatih tinju untuk mengatasi trauma perang. Mereka tidak
punya ring yang layak, tidak punya peralatan lengkap, tetapi mereka punya
harapan. Tinju bagi mereka bukan sekadar olahraga. Ia menjadi terapi,
pelampiasan emosi, sekaligus simbol bahwa hidup belum sepenuhnya kalah.
Gaza, pada
akhirnya, adalah cermin bagi dunia. Ia memperlihatkan bagaimana perang modern
tidak lagi sekadar tentang tank dan roket, tetapi juga tentang blokade,
kelaparan, amputasi, trauma, dan generasi yang tumbuh tanpa masa depan yang
jelas. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang atau kalah, melainkan sampai
kapan dunia membiarkan tragedi kemanusiaan ini berlangsung tanpa perubahan
nyata.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya