Artefak Budaya

Sabtu, 28 Maret 2026

Ada sesuatu yang diam-diam hilang dari tradisi lebaran kita, yaitu kartu ucapan. Bukan sekadar benda kecil berisi tulisan “Selamat Idul Fitri”, kartu lebaran sesungguhnya adalah artefak budaya. Ia menyimpan selera estetika, perkembangan teknologi, bahkan cara pandang umat terhadap Islam itu sendiri. Artikel karya Aryono berjudul “Keindahan dalam Kartu Lebaran” yang dimuat Historia edisi 3 Juni 2019 mengajak kita melihat kartu lebaran bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai arsip visual yang hidup.


Menariknya, nilai kartu lebaran hari ini justru meningkat ketika ia mulai ditinggalkan. Kolektor seperti Mikke Susanto menunjukkan bahwa kartu-kartu lama kini bisa bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Ini bukan sekadar soal kelangkaan, tapi juga karena kartu tersebut merekam jejak zaman. Ia seperti foto lama: sederhana, tapi penuh cerita.


Jika ditarik lebih jauh, kartu lebaran adalah turunan dari tradisi kartu pos yang berkembang sejak era kolonial. Pengaruh Eropa, khususnya Belanda, membawa kebiasaan berkirim ucapan ke Hindia Belanda. Seiring berkembangnya mesin cetak, kartu ucapan menjadi bagian dari gaya hidup kaum terdidik. Di sini, kita melihat bahwa sejak awal, kartu lebaran sudah berada di persimpangan antara budaya lokal dan modernitas global.


Namun, yang paling menarik adalah bagaimana desain kartu lebaran berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ini bukan sekadar soal estetika, melainkan cerminan cara masyarakat memahami Islam.


Pada era 1950-an, kartu lebaran didominasi lukisan manual dengan tema kehidupan sehari-hari: sungkem, bersalaman, atau suasana pedesaan. Teksnya pun masih menggunakan ejaan lama seperti “Sjawalan” atau “Hari Raja”. Di sini, Islam tampil sebagai praktik sosial. Tentang hubungan antarmanusia, tentang kesantunan. Belum ada penekanan kuat pada simbol-simbol visual keagamaan seperti yang kita kenal sekarang.


Masuk ke tahun 1960-an dan 1970-an, mulai terjadi pergeseran. Teknologi fotografi hadir, meski masih hitam putih. Tema kartu mulai menampilkan objek seperti masjid, bunga, hingga figur manusia. Bahkan, selebritas seperti Titik Sandhora dan Muchsin Alatas menjadi ikon kartu lebaran. Ini menarik, karena lebaran tidak lagi hanya soal spiritualitas, tetapi juga budaya populer. Ada semacam “komersialisasi rasa religius” yang mulai tumbuh.


Pada era 1980-an hingga 1990-an, teknologi semakin maju. Kartu menjadi lebih berwarna, mengilap, bahkan dilapisi plastik. Desain grafis komputer mulai mengambil alih peran lukisan tangan. Visualnya semakin ramai, variatif, dan kadang lebih dekoratif daripada reflektif. Di titik ini, kartu lebaran mulai mengikuti logika industri kreatif. Ia menarik perhatian, bukan sekadar menyampaikan makna.


Dari perjalanan ini, muncul satu temuan penting, yaitu cara visualisasi Islam berubah. Dulu, menurut Mikke, Islam lebih digambarkan melalui nilai (kesantunan, kebersamaan, dan tradisi sosial). Bahkan, tidak ditemukan representasi perempuan berjilbab dalam kartu-kartu lama. Sementara sekarang, simbol visual seperti jilbab, masjid, atau ornamen Timur Tengah menjadi lebih dominan.


Kartu lebaran juga menunjukkan bagaimana teknologi memengaruhi cara kita bersilaturahmi. Dulu, kartu seolah sebagai pengganti kehadiran. Ia dikirim dengan niat, ditulis dengan tangan, dan diterima dengan perasaan. Seperti ditulis oleh penyair D. Zawawi Imron, bahwa kartu lebaran adalah bentuk beranjangsana jarak jauh. Ada kehangatan yang tidak tergantikan.


Kini, peran itu diambil alih oleh pesan digital. Cepat, murah, dan praktis. Tapi, sering kali terasa generik. Ucapan yang sama bisa dikirim ke ratusan orang dalam sekali klik. Di sini, kita dihadapkan pada paradoks. Komunikasi semakin mudah, tapi makna personalnya justru menipis.


Pada akhirnya, kartu lebaran mengajarkan bahwa keindahan tidak hanya terletak pada desainnya, tetapi juga pada konteks yang melahirkannya. Ia adalah pertemuan antara seni, teknologi, dan religiositas. Ia berubah karena masyarakat berubah.


Mungkin kartu lebaran tidak lagi populer hari ini. Namun, melihatnya kembali seperti membuka album lama. Kita tidak hanya melihat gambar, tetapi juga membaca cara berpikir sebuah zaman. Dan dari situ, kita bisa bertanya: apakah cara kita merayakan lebaran hari ini masih menyimpan keindahan yang sama, atau justru kehilangan maknanya di tengah kecepatan dunia digital?

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (215) kepegawaian (174) serba-serbi (91) hukum (89) oase (82) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)