"Wong Jawa" Memaknai Lapar

Minggu, 22 Maret 2026

Tulisan Heri Priyatmoko tentang Puasa di Mata “Wong Jawa” di Kompas edisi 7 Maret 2025 mengajak kita melihat ibadah puasa dari sudut yang berbeda: bukan sekadar kewajiban religius, tetapi juga laku budaya. Puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus, melainkan juga soal bagaimana manusia menata diri, memahami hidup, dan menjaga harmoni dengan lingkungan sekitarnya.


Dalam perspektif Jawa, puasa terasa lebih “hening”. Ia tidak selalu riuh dengan simbol atau penegasan identitas, melainkan hadir sebagai laku batin. Orang Jawa mengenal berbagai bentuk tirakat—mutih, ngebleng, hingga ngrowot—yang pada dasarnya adalah latihan menahan diri. Puasa dalam Islam kemudian seperti menemukan “rumah” kulturalnya: sebuah praktik spiritual yang sejalan dengan tradisi pengendalian diri yang sudah lebih dulu hidup.


Yang menarik, puasa dalam pandangan ini tidak berhenti pada aspek fisik. Lapar bukan sekadar rasa di perut, tetapi juga jalan untuk memahami batas. Ketika seseorang menahan makan dan minum, ia sedang belajar tentang cukup. Dalam dunia yang serba berlebihan hari ini, pelajaran tentang “cukup” justru terasa semakin relevan.


Tulisan Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma tersebut juga menyinggung bagaimana orang Jawa memaknai waktu sahur dan berbuka. Ada dimensi kebersamaan yang kental, tetapi juga ada ruang refleksi yang sunyi. Dalam keheningan itulah, puasa menjadi lebih personal. Ia bukan sekadar ritual kolektif, tetapi perjalanan masing-masing individu untuk berdamai dengan dirinya sendiri.


Namun, jika kita tarik ke konteks sekarang, ada perubahan yang cukup terasa. Puasa hari ini sering kali menjadi lebih ramai. Media sosial dipenuhi konten makanan berbuka, tempat buka bersama (bukber) yang “estetik”, hingga diskon besar-besaran. Tidak ada yang salah dengan itu, tentu saja. Tetapi kadang kita lupa bahwa inti puasa justru terletak pada pengendalian diri, bukan perayaan konsumsi.


Di sinilah perspektif “wong Jawa” menjadi semacam pengingat. Bahwa puasa bukan tentang seberapa meriah kita merayakannya, tetapi seberapa dalam kita menjalaninya. Bahwa lapar bukan musuh yang harus segera dikalahkan, melainkan guru yang mengajarkan kesabaran.


Tulisan Heri juga secara halus menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak selalu bertentangan dengan ajaran agama. Justru sebaliknya, keduanya bisa saling menguatkan. Islam datang dengan nilai-nilai universal, sementara budaya lokal memberi cara untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya adalah pengalaman beragama yang lebih membumi dan terasa dekat.


Namun, ada juga hal yang patut kita renungkan. Dalam beberapa kasus, tradisi bisa berubah menjadi formalitas. Tirakat dilakukan, tetapi maknanya perlahan hilang. Puasa dijalankan, tetapi hanya sebatas menahan lapar tanpa menyentuh sisi batin. Ini bukan hanya terjadi dalam budaya Jawa, tetapi juga dalam kehidupan modern secara umum.


Karena itu, yang penting bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi memahami esensinya. Mengapa orang Jawa dulu menjalankan tirakat? Apa yang mereka cari dari rasa lapar? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar kita tidak sekadar meniru bentuk, tetapi juga menangkap maknanya.


Di tengah kehidupan yang serba cepat, puasa sebenarnya menawarkan jeda. Ia memberi ruang untuk berhenti sejenak, menata ulang prioritas, dan melihat hidup dengan lebih jernih. Dalam bahasa sederhana, puasa mengajarkan kita untuk tidak selalu “mengejar”, tetapi juga “menahan”.


Akhirnya, membaca Puasa di Mata “Wong Jawa” seperti diajak pulang ke cara pandang yang lebih tenang. Bahwa ibadah tidak harus selalu gaduh. Bahwa kedalaman sering kali justru lahir dari kesederhanaan. Dan mungkin, di situlah letak kekuatan puasa, bukan pada seberapa kuat kita menahan lapar, tetapi pada seberapa jauh kita memahami arti dari menahan itu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (212) kepegawaian (174) serba-serbi (91) hukum (89) oase (80) saat kuliah (71) pustaka (63) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)