Dua tahun lalu, saya menerima amanah sebagai Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi. Sampai hari ini, kadang saya masih bertanya dalam diam: bagaimana mungkin seorang lulusan hukum dan administrasi publik, yang delapan belas tahun bertugas di dunia non-teknologi informasi, tiba-tiba harus berbicara tentang firewall, SSL, malware, enkripsi, dan keamanan siber?
Banyak orang mungkin membayangkan mutasi jabatan dalam birokrasi seperti perpindahan meja kerja semata. Pindah ruangan, perubahan stempel, berganti rekan kerja, lalu hidup berjalan seperti biasa. Nyatanya tidak sesederhana itu. Ada mutasi yang terasa seperti pindah rumah. Ada pula yang rasanya seperti dipindahkan ke negeri asing dengan bahasa yang tidak pernah kita pelajari. Saya kira saya mengalami hal yang kedua.
Selama belasan tahun di Badan Kepegawaian dan Bakesbangpol, serta berkesempatan tugas belajar S2 dari Bappenas, dunia saya adalah regulasi, kepegawaian, kebijakan publik, tata kelola, literasi, dan sumber daya manusia. Saya terbiasa membaca aturan, menyusun administrasi, berurusan dengan dinamika aparatur (sipil, militer), dan memahami organisasi dari sisi perilaku serta kebijakan. Dunia itu bukan tanpa masalah, tetapi setidaknya saya mengenali medannya. Lalu saya masuk ke bidang persandian dan keamanan informasi.
Di awal masa jabatan, saya seperti siswa baru yang terlambat masuk kelas. Orang-orang berbicara tentang serangan siber, hardening, vulnerability, phishing, hingga istilah-istilah teknis yang terdengar seperti bahasa planet lain. Saya mengikuti sosialisasi daring maupun luring, membuka presentasi, menyimak penjelasan narasumber, tetapi jujur saja: sering kali saya hanya memahami sebagian kecilnya. Ada rasa aneh yang sulit dijelaskan.
Bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena saya sadar sedang berada di bidang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan latar pendidikan maupun pengalaman kerja. Kadang saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar berkompeten untuk berada di sini? Pertanyaan itu tidak selalu nyaman.
Apalagi ketika kenyataan organisasi ikut berbicara. Anggaran terbatas. Sebagian staf juga tidak berlatar belakang IT. Sementara ancaman digital tidak menunggu kesiapan birokrasi. Dunia siber bergerak cepat, sedangkan kami sering harus berhitung bahkan untuk pengadaan perangkat lunak yang harganya mahal dan sebagian (mungkin semuanya) bergantung pada produk impor.
Dalam situasi seperti itu, saya merasa seperti diminta menjaga sebuah bangunan besar dengan senter kecil di tangan. Namun saya juga sadar, mengeluh tidak pernah cukup menyelesaikan persoalan. Karena itu saya memegang satu pepatah sederhana: daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Mungkin karena itulah saya bertahan sampai hari ini. Saya mulai bergerak dari apa yang saya bisa.
Saya menggandeng psikolog dan relawan TIK untuk edukasi pencegahan cyberbullying di sekolah-sekolah. Saya mengajak dosen menjadi narasumber sosialisasi kesadaran keamanan siber bagi ASN. Kami membuat flyer keamanan digital secara rutin di media sosial kantor, agar manfaatnya dirasakan masyarakat. Saya menulis artikel di website dinas, mencoba menjelaskan isu keamanan siber dan lain-lain dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Kami juga menggandeng konsultan IT untuk membantu penyusunan regulasi dan standar operasional agar setidaknya bidang ini memiliki fondasi tata kelola yang lebih tertata.
Barangkali langkah ini belum sempurna. Namun setidaknya ada lilin yang menyala.
Akhirnya, saya semakin memahami satu hal: keamanan siber bukan semata urusan mesin dan kabel. Ia juga soal manusia. Soal kebiasaan buruk memakai password yang sama, soal ASN maupun masyarakat yang mudah tertipu tautan palsu, soal budaya digital yang mungkin lebih lemah daripada teknologi itu sendiri.
Di titik itu saya sedikit menemukan gambaran. Barangkali karena saya memang lebih akrab dengan manusia daripada perangkat. Kalau ditanya bagian pekerjaan apa yang paling saya nikmati, jawabannya sederhana: edukasi publik dan menulis. Juga, dunia literasi.
Saya menyukai momen ketika isu rumit bisa diterjemahkan menjadi bahasa yang dipahami orang biasa. Saya menikmati proses membaca, mengamati, dan menganalisis fenomena, lalu menulisnya menjadi artikel atau esai. Jauh lebih menikmati dibanding mendengar webinar atau mengikuti rapat yang dipenuhi istilah teknis dan asing yang membuat otak cepat lelah, seperti virtual private network, security information and event management, distributed denial of service, security operations center, penetration testing.
Dan di situlah saya mulai jujur pada diri sendiri. Mungkin masalahnya bukan semata soal kompetensi. Bisa jadi ada soal kecocokan. Saya bisa menjalankan jabatan ini. Saya bisa bertahan. Tetapi ada perasaan yang sulit dibohongi: bidang ini bukan seperti bahasa yang terlalu saya akrabi atau pahami. Saya tidak malu mengakuinya.
Karena menjadi ASN, menurut saya, bukan berarti harus pura-pura nyaman di semua tempat. Kita memang dituntut siap ditempatkan di mana saja. Tetapi kesiapan tidak sama dengan menutup mata terhadap kecocokan kompetensi dan ruang tumbuh.
Kalau suatu hari ada kesempatan mutasi, saya mungkin akan menyambutnya dengan lega. Bukan karena ingin melarikan diri dari amanah. Bukan pula karena menganggap beberapa tahun ini sia-sia. Justru sebaliknya, bidang ini mengajari saya banyak hal: tentang kerendahan hati di hadapan pengetahuan baru, tentang bekerja dalam keterbatasan, dan tentang menerima bahwa tidak semua tugas datang sesuai dengan peta hidup yang kita bayangkan.
Tetapi saya mulai merasa ada tempat-tempat lain di birokrasi yang mungkin lebih dekat dengan energi dan kemampuan saya. Tempat di mana saya tidak sekadar menyalakan lilin kecil, melainkan bisa membantu menyalakan lampu yang lebih terang.
Sampai hari itu datang, saya akan tetap bekerja seperti biasa. Menjalankan amanah dengan kemampuan yang ada, belajar semampunya, dan menjaga agar lilin itu tidak padam.
Karena kadang hidup tidak meminta kita menjadi matahari. Kadang ia hanya meminta kita menjaga nyala kecil agar ruang yang gelap tidak sepenuhnya kehilangan cahaya.


0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya