Sepatu mungkin hanya benda biasa. Letaknya sering tercecer di teras rumah, menumpuk di rak depan pintu, terkadang baru dicari empunya beberapa menit menjelang berangkat ke sekolah atau berangkat ke kantor. Tetapi dalam sejarah manusia, sepatu menyimpan cerita yang panjang. Sejak ribuan tahun lalu, manusia membuat alas kaki dari kulit binatang, jerami, atau kayu demi melindungi kaki dari panas, batu, dan cuaca buruk. Dari kebutuhan sederhana itu, sepatu perlahan berkembang menjadi bagian dari peradaban.
Lama-kelamaan, sepatu bukan lagi sekadar pelindung kaki. Ia menjadi penanda status sosial. Di Eropa abad pertengahan, bangsawan memakai sepatu kulit mahal, sementara rakyat biasa sering bertelanjang kaki. Sampai hari ini pun sebenarnya tidak banyak berubah. Orang bisa ditebak kelas sosialnya dari sepatu yang dipakai. Sepatu kulit mengilap di ruang rapat, sneakers mahal di mal, atau sandal jepit lusuh di pasar tradisional.
Padahal fungsi awal sepatu tetap sederhana, yakni membuat manusia bisa berjalan lebih aman dan nyaman. Namun bagi anak sekolah, sepatu sering punya makna yang lebih dalam. Banyak anak merasa percaya dirinya naik hanya karena memakai sepatu baru saat tahun ajaran dimulai. Sebaliknya, ada juga yang diam-diam minder karena sepatu mulai menganga di bagian depan atau warnanya kusam karena sering terkena air hujan.
Generasi 1990-an mungkin masih ingat bagaimana sepatu sekolah dipakai sampai solnya tipis. Ada yang dijahit berkali-kali di tukang sol pinggir jalan. Ada yang disemir setiap Minggu malam supaya Senin pagi terlihat “masih bagus”. Tidak sedikit pula adik yang memakai sepatu warisan kakaknya. Ukurannya kadang kebesaran, tetapi tetap dipakai sambil diberi tambahan kertas di ujung depan.
Karena itu, sepatu sebenarnya bukan cuma barang. Ia menyimpan rasa percaya diri, gengsi kecil masa sekolah, sekaligus keadaan ekonomi keluarga.
Menariknya, sepatu juga pernah menjadi simbol kemarahan politik dunia. Tahun 2008, Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush, dilempar sepatu oleh jurnalis Irak, Muntadhar al-Zaidi, dalam konferensi pers di Baghdad. Dalam budaya Timur Tengah, melempar sepatu merupakan bentuk penghinaan besar. Dunia sempat menertawakan kejadian itu, tetapi peristiwa tersebut menunjukkan satu hal, bahwa benda sederhana seperti sepatu ternyata bisa membawa makna emosional yang sangat kuat.
Makna itu terasa sangat menyentuh dalam sinema Children of Heaven. Film karya Majid Majidi tersebut hanya bercerita tentang sepatu yang hilang. Zahra kehilangan sepatu sekolahnya, lalu kakaknya, Ali, harus bergantian memakai sepatu yang sama agar mereka tetap bisa sekolah.
Konfliknya sederhana sekali. Tetapi justru karena sederhana, film dari Iran ini terasa nyata. Tidak ada adegan miskin yang dibuat berlebihan. Tidak ada tangisan dramatis. Yang ada hanyalah dua anak kecil yang panik karena tahu orang tua mereka tidak punya uang untuk membeli sepatu baru.
Salah satu adegan paling dramatis adalah ketika Ali berlari sekencang mungkin sepulang sekolah agar Zahra tidak terlambat masuk kelas siang. Penonton ikut tegang hanya karena urusan sepatu. Dari situ kita sadar, bagi keluarga miskin, barang kecil bisa menjadi sumber kecemasan besar. Film ini seperti mengingatkan bahwa kemiskinan sering tidak hadir dalam bentuk kelaparan atau rumah yang roboh. Kadang ia hadir dalam bentuk anak yang malu karena sepatunya rusak.
Yang menarik, Children of Heaven menunjukkan bahwa anak-anak miskin sering belajar menjadi dewasa dengan terlalu cepat. Mereka memahami kondisi orang tua, belajar mengalah, dan menyimpan keinginan sendiri agar tidak membebani keluarga.
Karena itu, polemik anggaran pengadaan sepatu siswa Sekolah Rakyat sebesar sekitar Rp700 ribu per pasang di Kementerian Sosial beberapa waktu lalu langsung memancing reaksi keras masyarakat. Banyak orang merasa angka tersebut terlalu tinggi untuk ukuran sepatu sekolah. Belakangan, sang menteri menjelaskan bahwa angka itu masih berupa pagu awal yang nantinya akan disesuaikan lewat mekanisme lelang terbuka. Sementara itu, merk sepatu lokal Stradenine yang sempat disebut-sebut justru mengaku tidak mengetahui keterkaitannya dengan proyek tersebut dan menyebut harga produknya berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp300 ribu.
Tetapi publik telanjur bereaksi. Sebab masyarakat tidak membaca angka hanya sebagai urusan administrasi. Mereka membandingkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dengan harga sepatu anak di pasar. Dengan penghasilan bulanan. Dengan pengalaman masa kecil mereka sendiri. Di negeri yang masih memiliki banyak anak datang ke sekolah dengan sepatu mulai sobek di bagian depan, angka Rp700 ribu memang terdengar sensitif.
Polemik ini bukan semata soal mahal atau murahnya sepatu. Ini soal empati. Soal apakah negara benar-benar memahami bagaimana rakyat kecil memandang kebutuhan sederhana. Sebab bagi sebagian pejabat, sepatu mungkin hanya item anggaran. Tetapi bagi banyak keluarga, sepatu tetap menjadi barang yang dibeli dengan pertimbangan panjang.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya