Ayah Mengantar Sekolah

Senin, 13 Juli 2026

Awal 1970-an adalah masa ketika musik pop Indonesia tumbuh bersama perubahan sosial yang cepat. Radio transistor menjadi benda penting di rumah-rumah, lagu-lagu baru menyebar dari kota ke kota melalui siaran Radio Republik Indonesia, dan majalah musik ikut membentuk selera generasi muda. Di tengah dominasi Jakarta sebagai pusat industri rekaman, band-band dari daerah mulai datang membawa warna sendiri. Mereka bukan hanya memainkan ulang lagu-lagu Barat atau lagu band yang lebih dahulu terkenal, melainkan mulai menulis pengalaman mereka sendiri dalam bahasa pop Indonesia.


Dari Medan, muncul The Mercy’s. Kelompok ini mula-mula merintis jalan seperti banyak band lain pada zamannya: tampil dari pesta ke pesta, memainkan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga penonton, lalu perlahan membangun nama melalui panggung radio dan pertunjukan. Ketika lagu Tiada Lagi diputar di RRI Medan, nama mereka mulai terangkat. Pada tahun 1971, The Mercy’s hijrah ke Jakarta, kota yang pada masa itu menjadi pintu masuk menuju studio rekaman, televisi, dan pasar musik nasional.


Dalam formasi yang paling dikenang, The Mercy’s diisi oleh Erwin Harahap pada gitar, Rinto Harahap pada bass dan vokal, Reynold Panggabean pada drum, Charles Hutagalung pada kibor dan vokal, serta Albert Sumlang pada saksofon. Mereka menjadi bagian dari gelombang musik pop Indonesia yang produktif pada dekade 1970-an. Seperti Koes Plus, kelompok musik yang sangat besar pengaruhnya pada masa itu, The Mercy’s rajin merilis album. Dalam setahun, mereka dapat menghasilkan lebih dari satu album, dengan lagu-lagu yang mudah dinyanyikan, lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan melodi yang cocok untuk radio.


Namun musik pop Indonesia pada masa itu tidak hanya berisi kisah cinta yang ringan. Banyak lagu menyimpan cerita tentang keluarga, kehilangan, kesepian, dan perubahan hidup. Musik menjadi tempat pengalaman pribadi diolah menjadi sesuatu yang dapat dirasakan bersama. Di antara lagu-lagu The Mercy’s yang panjang umur, lagu berjudul Ayah menempati tempat khusus.


Lagu itu muncul dalam album The Mercy’s Volume IV, diciptakan dan dinyanyikan oleh Rinto Harahap. Ia lahir dari pengalaman yang tidak sederhana. Rinto menulis Ayah untuk mengenang ayahnya, James Warren Harahap, seorang bankir asal Sumatra Utara yang pernah mengalami perkara hukum bernuansa politik pada masa awal Orde Baru. Keluarga yang sebelumnya hidup berkecukupan kemudian memasuki masa sulit. James jatuh sakit dan meninggal ketika anak-anaknya sedang membangun hidup dan karier musik di Jakarta.


Karena itu, Ayah tidak terdengar seperti lagu yang sekadar dibuat untuk mengejar pasar. Ia seperti surat seorang anak kepada ayah yang sudah tidak dapat lagi diajak berbicara. Kalimat “Lihatlah, hari berganti, namun tiada seindah dulu” menyimpan kesadaran bahwa hidup sebuah keluarga dapat berubah begitu cepat. Sementara bagian refrein yang memohon perjumpaan kembali, walau hanya dalam mimpi, menyentuh pengalaman yang sangat universal, yakni kerinduan kepada orang tua yang telah pergi.


Lagu itu kemudian memperoleh Piringan Emas dan ikut mengukuhkan nama The Mercy’s. Bertahun-tahun setelahnya, Ayah kembali populer ketika dibawakan ulang oleh penyanyi generasi berikutnya, termasuk Ariel Noah dan Candil. Perjalanan lagu itu menunjukkan bahwa musik populer dapat melampaui zamannya. Pendengar yang tidak mengenal sejarah keluarga Harahap tetap dapat merasakan kepedihan yang sama, karena hampir setiap orang memiliki kenangan tentang ayah: sosok yang kadang pendiam, sering sibuk, tetapi kehadirannya baru terasa sangat besar ketika ia tidak lagi ada.


Kisah lagu Ayah terasa relevan ketika kita berbicara tentang Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah atau GAMAS. Di Kabupaten Ngawi, gerakan ini diimbaukan kepada pegawai laki-laki di lingkungan pemerintah daerah, termasuk dengan kemungkinan fleksibilitas waktu kerja bagi ayah yang memiliki anak usia sekolah. Himbauan itu merupakan bagian dari upaya mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.


Sekilas, mengantar anak ke sekolah tampak sebagai urusan kecil. Hanya perjalanan singkat pada pagi hari, mungkin dengan motor, mobil, atau berjalan kaki. Namun masa kecil justru sering tersusun dari peristiwa-peristiwa kecil yang tinggal lama dalam ingatan. Anak mungkin lupa merek tas sekolah pertamanya. Tetapi ia dapat mengingat punggung ayah saat duduk di belakang motor, tangan yang menggandengnya ketika menyeberang jalan, atau kalimat pendek sang ayah kepada ananda sebelum masuk kelas.


Film Life Is Beautiful karya Roberto Benigni membantu kita memahami arti kehadiran ayah dengan cara yang sangat menyentuh. Dalam film itu, Guido Orefice berusaha melindungi putranya, Giosuè, dari horor kamp konsentrasi Nazi. Ia menciptakan cerita bahwa kehidupan di kamp itu adalah permainan dengan aturan, poin, dan hadiah. Guido tidak mampu menghentikan perang atau mengubah kekejaman yang terjadi di sekelilingnya. Namun ia berusaha agar anaknya tidak menanggung seluruh ketakutan dunia orang dewasa.


Anak-anak hari ini tentu tidak hidup dalam keadaan seperti Guido dan Giosuè. Namun dunia mereka tetap tidak selalu ringan. Ada kecemasan memasuki sekolah baru, tekanan untuk berprestasi, perundungan, persaingan, hingga media sosial yang membuat anak merasa harus selalu tampak berhasil. Pada hari pertama sekolah, sebagian anak datang dengan gembira, tetapi sebagian lain datang dengan rasa takut yang tidak selalu dapat mereka jelaskan.


Di situlah ayah tidak perlu menjadi tokoh besar. Ia cukup hadir. Ia mungkin tidak dapat menjamin anak tidak akan kecewa, gagal, atau terluka. Namun ia dapat membuat anak merasa tidak sendirian ketika memasuki dunia baru. Kehadiran itu tidak selalu berupa nasihat panjang. Kadang cukup dengan mengantar, menunggu sebentar di depan gerbang, atau mendengarkan cerita anak ketika pulang.


GAMAS jangan berhenti pada foto bersama dan unggahan media sosial. Dokumentasi boleh menjadi penanda, tetapi yang lebih penting adalah kebiasaan yang tumbuh sesudahnya. Apakah ayah tetap bertanya tentang sekolah anak? Apakah ia tahu nama teman sebangku, pelajaran yang disukai, atau alasan anak tampak murung ketika pulang?


Lagu Ayah mengingatkan bahwa kita sering terlambat memahami arti kehadiran setelah seseorang pergi. Film Life Is Beautiful mengajarkan bahwa kasih sayang seorang ayah dapat menjadi perlindungan ketika dunia terasa keras. Maka, mengantar anak pada hari pertama sekolah bukan sekadar menjalankan himbauan. Ia adalah cara sederhana untuk meninggalkan kenangan: bahwa ketika anak melangkah memasuki dunia yang baru, ada ayah yang pernah berjalan bersamanya sampai ke gerbang.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (279) kepegawaian (178) hukum (101) oase (101) serba-serbi (97) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)