Saya pertama kali mengenal dunia gladiator bukan dari buku sejarah, melainkan dari film Gladiator yang dirilis pada tahun 2000. Ada satu adegan yang terus melekat dalam ingatan. Di tengah arena Koloseum yang dipenuhi puluhan ribu penonton, darah mengucur dari tubuh para petarung yang saling membunuh demi hiburan. Semakin brutal pertarungan berlangsung, semakin riuh pula sorak-sorai penonton.
Ketika film berakhir, saya menganggap semua itu sebagai kisah masa lalu. Sebuah gambaran tentang dunia kuno yang jauh berbeda dari peradaban modern. Sulit membayangkan manusia masa kini masih menikmati penderitaan sesamanya sebagai tontonan.
Namun bertahun-tahun kemudian, saya menemukan sebuah kisah yang membuat keyakinan itu goyah. Kisah itu bernama Sarajevo Safari.
Cerita tersebut muncul dari salah satu episode paling kelam dalam sejarah Eropa setelah Perang Dunia II, yakni pengepungan Sarajevo selama Perang Bosnia pada tahun 1992–1996. Selama hampir empat tahun, ibu kota Bosnia-Herzegovina itu terkepung oleh pasukan Serbia Bosnia yang menguasai perbukitan di sekeliling kota. Dari posisi yang lebih tinggi, mereka dapat mengawasi jalan-jalan, bangunan, pasar, sekolah, hingga kawasan permukiman warga.
Bagi penduduk Sarajevo, kehidupan sehari-hari berubah menjadi pertaruhan nasib. Pergi mengambil air bersih, mengantar anak ke sekolah, atau sekadar menyeberang jalan dapat berakhir dengan kematian akibat peluru sniper atau ledakan mortir.
Salah satu ruas jalan utama bahkan mendapat julukan yang mengerikan: Sniper Alley. Julukan itu bukan metafora. Ia lahir dari kenyataan bahwa begitu banyak warga sipil menjadi sasaran tembak saat melintasi jalan tersebut.
Di tengah suasana perang yang sudah mengerikan itu, muncul cerita yang bahkan terdengar terlalu kejam untuk dipercaya.
Menurut sejumlah kesaksian yang kemudian diangkat dalam dokumenter Sarajevo Safari karya Miran Zupanič pada tahun 2022, ada orang-orang asing yang datang ke Bosnia bukan untuk berperang atau membantu korban perang. Mereka datang untuk mencari sensasi. Mereka diduga membayar sejumlah uang agar dapat dibawa ke posisi-posisi sniper di sekitar Sarajevo dan menembaki warga sipil yang berada di bawah sana.
Hingga kini, berbagai tuduhan tersebut masih menjadi perdebatan. Belum ada putusan pengadilan yang secara definitif membuktikan seluruh klaim yang beredar. Namun fakta bahwa dugaan tersebut terus diselidiki menunjukkan bahwa kisah ini tidak bisa begitu saja dianggap sebagai dongeng perang.
Terlepas dari benar atau tidaknya seluruh detail yang muncul, Sarajevo Safari menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar persoalan hukum atau sejarah. Bagaimana manusia bisa sampai pada titik ketika penderitaan manusia lain menjadi hiburan?
Pertanyaan itu membawa saya kembali ke Koloseum dalam film Gladiator. Dalam salah satu adegan, Maximus yang diperankan Russell Crowe, berdiri di tengah arena setelah mengalahkan lawannya. Ia menatap ribuan penonton yang bersorak menikmati pertumpahan darah. Adegan itu memperlihatkan sesuatu yang terus berulang dalam sejarah manusia: kemampuan menjadikan penderitaan orang lain sebagai hiburan.
Sejarah menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membiasakan diri terhadap kekerasan. Ketika jarak antara pelaku dan korban semakin jauh, empati perlahan memudar. Orang tidak lagi melihat individu dengan keluarga, mimpi, dan kehidupan yang utuh. Yang terlihat hanya objek.
Di Roma kuno, para gladiator bertarung demi hiburan massa. Di Sarajevo, jika kesaksian-kesaksian itu benar, warga sipil berubah menjadi target hidup bagi orang-orang yang mencari sensasi. Teknologi berubah. Senjata berubah. Panggungnya berubah. Namun logikanya tetap sama: manusia kehilangan martabatnya dan berubah menjadi tontonan.
Filsuf politik Hannah Arendt pernah memperkenalkan konsep banality of evil atau banalitas kejahatan setelah mengamati persidangan Adolf Eichmann, salah satu birokrat Nazi yang terlibat dalam holocaust. Menurut Arendt, kejahatan besar sering kali tidak dilakukan oleh sosok yang tampak seperti monster. Ia justru lahir dari orang-orang biasa yang berhenti berpikir secara moral dan berhenti melihat manusia lain sebagai sesama.
Sarajevo Safari terasa mengerikan bukan hanya karena dugaan pembunuhannya. Ia mengerikan karena memperlihatkan kemungkinan bahwa seseorang dapat menekan pelatuk tanpa rasa benci. Korban tidak perlu dibenci. Mereka cukup dianggap tidak penting.
Dalam sejarah, pola semacam itu berulang kali muncul. Sebelum Genosida Rwanda pada tahun 1994, lawan politik dan kelompok etnis tertentu digambarkan sebagai hama yang harus disingkirkan. Sebelum pembantaian terjadi, empati terlebih dahulu dihancurkan. Karena itu, pelajaran dari Sarajevo sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang perang. Ia juga berbicara tentang kehidupan kita hari ini.
Media sosial, misalnya, memungkinkan seseorang dihujat oleh ribuan orang yang tidak pernah mengenalnya secara pribadi. Hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan digital sering berkembang karena pelaku tidak lagi melihat manusia di balik layar. Yang terlihat hanyalah akun, foto profil, atau simbol kelompok tertentu.
Tentu saja dunia digital tidak bisa disamakan dengan kejahatan perang. Namun keduanya berangkat dari akar yang sama, yaitu berkurangnya kemampuan untuk melihat orang lain sebagai manusia yang memiliki martabat setara.
Kita sering membayangkan sejarah sebagai kisah kemajuan. Kita percaya bahwa manusia modern lebih beradab dibandingkan penduduk Roma kuno yang bersorak menyaksikan pertarungan gladiator. Kita memiliki teknologi canggih, hukum internasional, pengadilan kejahatan perang, dan deklarasi hak asasi manusia. Namun Sarajevo Safari mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moral.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya