Nama Budiman Sudjatmiko pernah berdiri di satu sisi sejarah Indonesia, yakni sisi yang melawan. Ia adalah aktivis yang dipenjara oleh Orde Baru, pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan salah satu wajah perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap represif. Bagi banyak mahasiswa pada akhir 1990-an, Budiman bukan sekadar aktivis. Ia adalah simbol keberanian.
Karena itu, ketika pada tahun 2023 ia mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo Subianto, publik terkejut. Bukan karena seorang politisi berpindah dukungan, karena itu hal biasa dalam demokrasi. Yang membuat banyak orang tercengang adalah sejarah yang dibawa keduanya. Budiman adalah mantan tahanan politik era Orde Baru. Prabowo adalah mantan jenderal yang namanya selama bertahun-tahun hadir dalam perdebatan tentang penghujung rezim tersebut. Dukungan itu kemudian berujung pada pemecatan Budiman dari PDI Perjuangan, partai yang telah ia ikuti sejak awal Reformasi.
Namun saya kira persoalan Budiman lebih menarik daripada sekadar soal pindah kubu politik. Fenomena Budiman mengajarkan satu hal penting, bahwa sejarah sering kali lebih sederhana daripada politik.
Dalam sejarah, orang mudah dibagi menjadi dua kelompok. Antara pahlawan dan lawan. Aktivis dan penguasa. Korban dan pelaku. Tetapi politik tidak bekerja sesederhana itu. Politik adalah ruang tempat musuh bisa menjadi sekutu, dan sekutu bisa berubah menjadi lawan.
Budiman sendiri pernah mengkritik Prabowo dengan cukup keras. Jejak digital itu masih mudah ditemukan. Karena itu banyak orang merasa sulit memahami perubahan sikapnya. Tetapi sesungguhnya yang sedang kita lihat bukan hanya perubahan Budiman. Yang sedang kita saksikan adalah benturan antara idealisme dan realitas kekuasaan.
Setiap aktivis pada akhirnya akan menghadapi pertanyaan yang sama. Apakah tujuan perjuangan lebih penting daripada posisi politik? Apakah kompromi adalah bentuk pengkhianatan atau justru syarat untuk menghasilkan perubahan?
Pertanyaan itu tidak hanya dialami Budiman. Hampir semua tokoh reformasi di berbagai negara pernah mengalaminya. Banyak aktivis yang hebat saat berada di luar sistem, tetapi kehilangan pengaruh ketika tetap berada di luar kekuasaan. Sebaliknya, banyak pula yang masuk ke dalam sistem, tetapi kemudian dituduh kehilangan idealisme. Tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.
Sebagian orang melihat Budiman sebagai contoh tragis tentang bagaimana kekuasaan akhirnya menelan para pengkritiknya. Mereka menganggap aktivis yang dahulu melawan Orde Baru kini justru berdiri bersama figur yang dulu berada di kubu berbeda. Kritik seperti ini bahkan muncul luas di ruang publik dan komunitas daring ketika Budiman mendekat ke Prabowo.
Tetapi ada cara pandang lain. Mungkin Budiman tidak berubah sebanyak yang kita kira. Mungkin yang berubah adalah strategi yang ia pilih. Ia pernah mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghadapi tantangan global dan karena itu ia menemukan kecocokan dengan Prabowo.
Kita boleh setuju atau tidak setuju dengan alasan tersebut. Namun politik memang penuh dengan kemungkinan yang dahulu tampak mustahil. Dua puluh lima tahun lalu, sulit membayangkan seorang Budiman Sudjatmiko duduk satu panggung dengan Prabowo Subianto. Sama sulitnya dengan membayangkan banyak mantan aktivis reformasi akhirnya menjadi pejabat negara, komisaris, anggota parlemen, atau bagian dari elite yang dahulu mereka kritik. Tetapi itulah yang terjadi.
Kisah Budiman sesungguhnya bukan kisah tentang seorang individu. Ia adalah cermin perjalanan Reformasi Indonesia itu sendiri. Sebuah gerakan yang lahir dari perlawanan, lalu tumbuh menjadi bagian dari sistem yang dilawannya. Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah Budiman benar atau salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika seorang aktivis memasuki pusat kekuasaan, apa yang sebenarnya harus tetap dipertahankan? Posisi politiknya, teman-temannya, atau nilai-nilai yang dahulu ia perjuangkan?
Karena pada akhirnya sejarah tidak terlalu peduli kepada siapa seseorang berkoalisi. Sejarah lebih tertarik pada satu hal: apakah setelah memperoleh kekuasaan, ia masih memperjuangkan tujuan yang sama seperti ketika belum memilikinya. Dan mungkin, di situlah penilaian terakhir terhadap Budiman Sudjatmiko akan ditentukan.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya