Bertanya

Rabu, 08 Juli 2026

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah perdebatan di media sosial. Topiknya sebenarnya biasa saja, tetapi menarik melihat bagaimana orang-orang begitu cepat mengambil kesimpulan. Belum semua fakta muncul, belum semua sudut pandang didengar, tetapi vonis sudah dijatuhkan. Ada yang benar, ada yang salah. Ada yang pahlawan, ada yang penjahat.


Fenomena seperti ini rasanya semakin sering kita jumpai. Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi datang setiap detik. Berita muncul silih berganti. Akibatnya, kita juga terbiasa menuntut jawaban yang cepat. Bahkan kadang terlalu cepat.


Karena itu saya tertarik ketika membaca tulisan pengantar Th. Sumartana untuk buku Catatan Pinggir 1 karya Goenawan Mohamad (GM). Menurut Sumartana, hal yang paling khas dari tulisan-tulisan Goenawan bukanlah pendapatnya, melainkan kebiasaannya bertanya. Ya, bertanya.


Bukan memberikan solusi instan. Bukan menawarkan resep untuk menyelesaikan semua persoalan bangsa. Tetapi mengajak pembaca berpikir lebih dalam melalui pertanyaan-pertanyaan yang sering kali tidak nyaman.


Bagi sebagian orang, cara seperti ini mungkin menjengkelkan. Bukankah tugas seorang intelektual adalah memberikan jawaban? Bukankah masyarakat membutuhkan sikap yang tegas? Namun justru di situlah keunikan GM. Ia tampaknya percaya bahwa banyak persoalan tidak sesederhana yang terlihat. Ada lapisan-lapisan yang perlu dipahami sebelum kita memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah.


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering mengalami hal serupa. Misalnya ketika mendengar keluhan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. Reaksi pertama mungkin menyalahkan pegawainya. Namun setelah dicermati, persoalannya bisa jadi lebih rumit, misalnya jumlah petugas kurang, anggaran terbatas, regulasi tumpang tindih, atau sistem yang memang belum memadai.


Kalau terburu-buru menyimpulkan, kita mungkin mendapatkan jawaban yang cepat. Sayangnya, belum tentu jawaban yang tepat. Karena itu saya memahami mengapa Sumartana menyebut GM sebagai seseorang yang terus “mengunyah pertanyaan”. Ia tidak berhenti pada gejala yang tampak di permukaan. Ia mencoba mencari apa yang tersembunyi di baliknya.


Yang menarik, pertanyaan-pertanyaan itu tidak lahir dari ruang kuliah atau seminar akademik. Goenawan justru mengambil bahan dari berita sehari-hari. Dari politik, sejarah, olahraga, sastra, bahkan cerita-cerita sederhana yang sering luput dari perhatian.


Ia menunjukkan bahwa peristiwa sehari-hari sebenarnya menyimpan banyak pelajaran, asalkan kita mau berhenti sejenak dan memikirkannya. Sayangnya, berhenti sejenak adalah kemewahan yang semakin langka hari ini. Kita terlalu sibuk. Terlalu banyak notifikasi. Terlalu banyak informasi. Terlalu banyak hal yang harus segera direspons. Dalam situasi seperti itu, refleksi menjadi barang mewah.


Padahal, seperti diingatkan Sumartana, manusia tidak hanya membutuhkan informasi. Manusia juga membutuhkan waktu untuk mencerna informasi tersebut. Kita tidak hanya perlu mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami mengapa itu terjadi dan apa maknanya bagi kehidupan kita.


Di bagian akhir pengantarnya, Sumartana menyinggung soal “amnesia sejarah”. Istilah ini terasa sangat relevan dengan kondisi kita sekarang. Sebagai bangsa, kita sering lupa pada pengalaman masa lalu. Akibatnya, kesalahan yang sama berulang terus. Kita berganti tokoh, berganti slogan, berganti kebijakan, tetapi masalah yang muncul sering kali tidak jauh berbeda. Barangkali karena kita terlalu sibuk melihat ke depan sampai lupa menoleh ke belakang.


Di sinilah saya melihat pentingnya Catatan Pinggir. Bukan karena tulisan-tulisannya selalu memberikan jawaban yang benar. Melainkan karena ia mengingatkan kita akan sesuatu yang sederhana tetapi penting, yakni berpikir. Berpikir sebelum marah. Berpikir sebelum menyalahkan. Berpikir sebelum merasa paling benar.


Di tengah dunia yang semakin ramai oleh orang-orang yang yakin pada pendapatnya masing-masing, keberanian untuk bertanya justru menjadi sikap yang langka. Dan barangkali juga, sikap itulah yang paling kita butuhkan hari ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (275) kepegawaian (178) hukum (101) oase (100) serba-serbi (96) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)