Bupati yang Patah Hati

Minggu, 17 Mei 2026

Di zaman sekarang, istilah “bucin” sering dipakai untuk menggoda orang yang terlalu mencintai pasangannya. Kadang lucu, kadang terdengar memalukan. Tetapi sejarah dan sastra sebenarnya penuh dengan kisah cinta yang jauh lebih ekstrem daripada sekadar rajin membalas chat atau cemburu di media sosial.


Kita mengenal Romeo and Juliet, kisah cinta legendaris karya William Shakespeare yang bertahan ratusan tahun. Romeo dan Juliet saling mencintai, tetapi terjebak dalam konflik keluarga yang tidak pernah selesai. Cinta mereka tumbuh di tengah permusuhan, lalu berakhir tragis dengan kematian keduanya. Dunia mengingat kisah itu sebagai simbol cinta yang terlalu besar untuk ditahan oleh keadaan.


Tetapi jauh dari Verona, di tanah Jawa pada awal abad ke-19, sejarah ternyata pernah menyimpan kisah yang nadanya tidak kalah pilu. Kisah itu datang dari Raden Ronggo Prawirodirjo III, seorang bupati Madiun yang begitu mencintai istrinya, Raden Ayu Ontowiryo.


Saat Ontowiryo meninggal akibat keguguran pada tahun 1809, Ronggo seperti kehilangan separuh hidupnya. Ia menolak menikah lagi meski mendapat tawaran dari lingkungan keraton. Dalam budaya aristokrat Jawa waktu itu, keputusan tersebut bukan perkara kecil. Pernikahan sering kali berkaitan dengan status, aliansi politik, dan kepentingan keluarga besar. Tetapi Ronggo memilih bertahan pada dukanya.


Kisah Ronggo terasa seperti Romeo versi Jawa: sama-sama menunjukkan cinta yang tidak selesai oleh kematian. Bedanya, Romeo dan Juliet mati bersama karena cinta mereka ditolak dunia. Sementara Ronggo hidup lebih lama, tetapi seperti kehilangan alasan untuk tetap hidup dengan tenang. Setelah kematian istrinya, ia terseret dalam konflik politik yang makin panas dengan pemerintah kolonial Belanda di bawah Herman Willem Daendels.


Masa itu memang sedang kacau. Kolonial Belanda mulai memperketat kontrol atas wilayah Jawa. Elite lokal ditekan, sumber daya dimonopoli, dan hubungan antara penguasa tradisional dengan pemerintah kolonial dipenuhi kecurigaan. Ronggo berada di tengah pusaran itu.


Namun menariknya, kisah ini memperlihatkan sesuatu yang sering dilupakan dalam membaca sejarah: keputusan politik tidak selalu lahir dari kepala yang dingin. Kadang ia datang dari hati yang luka.


Kita terlalu sering membayangkan tokoh sejarah sebagai manusia yang seluruh tindakannya didorong strategi dan kalkulasi. Padahal mereka juga punya kesedihan, kemarahan, kehilangan, dan rasa sepi. Setelah istrinya meninggal, Ronggo digambarkan menjadi lebih emosional dan nekat. Seolah hidup yang selama ini punya pusat tiba-tiba kehilangan makna.


Mungkin karena itu, perlawanan terhadap kolonial kemudian terasa bukan hanya soal kuasa, tetapi juga soal batin. Ada orang-orang yang ketika kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidupnya, menjadi tidak lagi takut menghadapi apa pun. Bahkan kematian.


Ronggo akhirnya memilih melawan. Pada tahun 1810, ia tewas dalam konflik dengan pasukan kolonial. Dan di situlah kisahnya terasa makin tragis. Ia tidak mati di kamar sambil mengenang cintanya seperti Romeo. Ia mati sebagai bangsawan Jawa yang sedang berperang. Tetapi akar emosinya mungkin sama: kehilangan yang terlalu dalam.


Menariknya lagi, baik Romeo-Juliet maupun kisah Ronggo sama-sama menunjukkan bahwa cinta bisa menjadi kekuatan yang mengubah arah hidup seseorang. Cinta bukan cuma urusan perasaan pribadi. Ia bisa memengaruhi keputusan besar, bahkan sejarah.


Sayangnya, seperti banyak kisah lama lainnya, perempuan dalam cerita ini tetap hadir dalam posisi yang sunyi. Juliet setidaknya masih diberi suara oleh Shakespeare. Sementara Ontowiryo lebih banyak hadir sebagai sosok yang dicintai, tanpa kita benar-benar mengetahui isi pikirannya. Ia menjadi pusat kesedihan, tetapi tidak benar-benar tampil sebagai subjek cerita.


Meski begitu, kisah Ronggo tetap menarik karena membuat sejarah terasa lebih dekat dengan manusia biasa. Ia mengingatkan bahwa tokoh besar pun bisa rapuh. Bahwa seorang bupati ternyata bisa patah hati sedalam itu. Dan bahwa di balik peristiwa politik yang besar, sering tersembunyi luka personal yang tidak tercatat dalam buku pelajaran.


Mungkin itulah alasan kisah cinta selalu bertahan lintas zaman. Dari Verona sampai Madiun, dari Romeo sampai Ronggo, manusia ternyata tetap sama: bisa tampak kuat di depan dunia, tetapi runtuh oleh kehilangan satu orang yang paling dicintainya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (244) kepegawaian (176) hukum (95) serba-serbi (94) oase (91) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (18)