Dua Warna Penegak Hukum

Minggu, 22 Februari 2026

Film Black and Blue (2019) bukan sekadar film aksi polisi. Di balik adegan kejar-kejaran dan baku tembak, film ini berbicara tentang konflik moral, tentang dilema yang dihadapai seorang polisi untuk memilih antara solidaritas korps dan kebenaran. Tokoh utamanya, Alicia West, seorang polisi pemula, tanpa sengaja merekam pembunuhan yang dilakukan oleh sesama polisi yang terlibat jaringan narkoba. Sejak saat itu, ia tidak hanya diburu oleh penjahat, tetapi juga oleh aparat yang seharusnya menjadi pelindung hukum.

 

Tema utama film ini adalah dilema etika dalam institusi penegak hukum. “Blue” melambangkan seragam polisi, sementara “black” merujuk pada identitas ras tokoh utama, sekaligus realitas sosial yang keras. Black and Blue menunjukkan bagaimana sistem bisa berubah menjadi ancaman ketika integritas dikalahkan oleh kepentingan, solidaritas sempit, atau praktik korup.

 

Tema tersebut terasa relevan ketika kita melihat sejumlah kasus narkoba yang melibatkan aparat kepolisian di Indonesia. Salah satu yang paling besar adalah kasus yang menjerat seorang jenderal berbintang dua yang juga mantan Kapolda di Sumatera. Fakta persidangan mengungkap bahwa sebagian barang bukti sabu sitaan aparat ditukar dengan tawas, lalu dialihkan untuk dijual kembali. Barang bukti itu berasal dari pengungkapan kasus besar, dan seharusnya dimusnahkan sesuai prosedur. Kasus ini menjadi sorotan nasional karena melibatkan pejabat tinggi kepolisian, sekaligus mengguncang kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

 

Kasus serupa, meski dalam skala berbeda, juga terjadi di daerah. Pada Februari 2026, seorang polisi yang menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Narkoba sebuah Polres di Provinsi NTB ditangkap karena diduga terlibat dalam jaringan peredaran sabu. Dari penggeledahan, polisi menyita sekitar 488 gram sabu dari rumah dinasnya. Penyidikan kemudian mengungkap bahwa sabu tersebut diduga akan diedarkan di wilayah Pulau Sumbawa, bahkan ada dugaan distribusi kepada anggota bawahannya. Ia juga dinyatakan positif menggunakan narkoba, dan dijerat pasal peredaran narkotika dengan ancaman hukuman berat.

 

Dua kasus tersebut memperlihatkan pola yang mirip dengan konflik dalam Black and Blue, yaitu ketika aparat yang diberi kewenangan untuk memberantas narkoba justru terlibat dalam peredarannya. Dalam film, tokoh utama menghadapi sistem yang melindungi pelaku di dalam institusi. Dalam realitas, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa penyimpangan bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga soal sistem pengawasan, budaya organisasi, dan integritas.

 

Secara historis, masalah korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam aparat penegak hukum bukan hal baru. Dalam banyak negara, reformasi kepolisian selalu menjadi agenda panjang. Di Indonesia, reformasi Polri sejak 1998 telah mendorong pemisahan dari militer, pembentukan lembaga pengawas, hingga pembaruan sistem rekrutmen. Namun, kasus-kasus narkoba yang melibatkan aparat menunjukkan bahwa reformasi struktural belum sepenuhnya diikuti oleh reformasi kultural.

 

Dari perspektif hukum, Undang-Undang Narkotika menempatkan aparat penegak hukum dalam posisi yang sangat strategis. Mereka memiliki akses terhadap barang bukti, jaringan informasi, dan kewenangan operasi. Ketika kewenangan ini disalahgunakan, dampaknya jauh lebih besar daripada pelaku sipil, karena menyangkut legitimasi hukum itu sendiri.

 

Di sinilah pesan Black and Blue menjadi relevan. Film itu mengingatkan bahwa integritas individu sering kali diuji oleh tekanan sistem. Keberanian satu orang untuk bersikap jujur bisa menjadi titik balik, tetapi juga bisa berujung pada isolasi atau bahaya. Dalam konteks Indonesia, kasus-kasus yang terungkap justru menunjukkan pentingnya pengawasan internal, transparansi, dan akuntabilitas.

 

Pada akhirnya, baik dalam film maupun dunia nyata, persoalan utamanya bukan sekadar kriminalitas, tetapi kepercayaan publik. Ketika penegak hukum melanggar hukum, yang runtuh bukan hanya satu karier, melainkan kredibilitas institusi. Dan seperti yang ditunjukkan Black and Blue, memulihkan kepercayaan itu jauh lebih sulit daripada kehilangannya.

 

Jika di film kebenaran harus dikejar sambil berlari dari peluru, di dunia nyata kebenaran harus dijaga melalui sistem yang transparan, akuntabel, dan berani membersihkan diri sendiri. Tanpa itu, garis antara “black” dan “blue” akan terus kabur. dan masyarakatlah yang akhirnya menanggung akibatnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (199) kepegawaian (173) serba-serbi (87) hukum (82) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (63) tentang ngawi (61) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)