Film Black and Blue (2019) bukan sekadar film aksi polisi. Di balik adegan kejar-kejaran dan baku tembak, film ini berbicara tentang konflik moral, tentang dilema yang dihadapai seorang polisi untuk memilih antara solidaritas korps dan kebenaran. Tokoh utamanya, Alicia West, seorang polisi pemula, tanpa sengaja merekam pembunuhan yang dilakukan oleh sesama polisi yang terlibat jaringan narkoba. Sejak saat itu, ia tidak hanya diburu oleh penjahat, tetapi juga oleh aparat yang seharusnya menjadi pelindung hukum.
Tema utama film ini adalah dilema
etika dalam institusi penegak hukum. “Blue”
melambangkan seragam polisi, sementara “black”
merujuk pada identitas ras tokoh utama, sekaligus realitas sosial yang keras. Black
and Blue menunjukkan bagaimana sistem bisa berubah menjadi ancaman ketika
integritas dikalahkan oleh kepentingan, solidaritas sempit, atau praktik korup.
Tema
tersebut terasa relevan ketika kita melihat sejumlah kasus narkoba yang
melibatkan aparat kepolisian di Indonesia. Salah satu yang paling besar adalah
kasus yang menjerat seorang jenderal berbintang dua yang juga mantan Kapolda di
Sumatera. Fakta persidangan mengungkap bahwa sebagian barang bukti sabu sitaan aparat
ditukar dengan tawas, lalu dialihkan untuk dijual kembali. Barang bukti itu
berasal dari pengungkapan kasus besar, dan seharusnya dimusnahkan sesuai
prosedur. Kasus ini menjadi sorotan nasional karena melibatkan pejabat tinggi
kepolisian, sekaligus mengguncang kepercayaan publik terhadap institusi penegak
hukum.
Kasus serupa, meski dalam skala berbeda, juga terjadi di daerah. Pada Februari 2026, seorang polisi yang menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Narkoba sebuah Polres di Provinsi NTB ditangkap karena diduga terlibat dalam jaringan peredaran sabu. Dari penggeledahan, polisi menyita sekitar 488 gram sabu dari rumah dinasnya. Penyidikan kemudian mengungkap bahwa sabu tersebut diduga akan diedarkan di wilayah Pulau Sumbawa, bahkan ada dugaan distribusi kepada anggota bawahannya. Ia juga dinyatakan positif menggunakan narkoba, dan dijerat pasal peredaran narkotika dengan ancaman hukuman berat.
Dua
kasus tersebut memperlihatkan pola yang mirip dengan konflik dalam Black and Blue, yaitu ketika aparat yang
diberi kewenangan untuk memberantas narkoba justru terlibat dalam peredarannya.
Dalam film, tokoh utama menghadapi sistem yang melindungi pelaku di dalam
institusi. Dalam realitas, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa
penyimpangan bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga soal sistem
pengawasan, budaya organisasi, dan integritas.
Secara
historis, masalah korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam aparat penegak
hukum bukan hal baru. Dalam banyak negara, reformasi kepolisian selalu menjadi
agenda panjang. Di Indonesia, reformasi Polri sejak 1998 telah mendorong
pemisahan dari militer, pembentukan lembaga pengawas, hingga pembaruan sistem
rekrutmen. Namun, kasus-kasus narkoba yang melibatkan aparat menunjukkan bahwa
reformasi struktural belum sepenuhnya diikuti oleh reformasi kultural.
Dari
perspektif hukum, Undang-Undang Narkotika menempatkan aparat penegak hukum
dalam posisi yang sangat strategis. Mereka memiliki akses terhadap barang
bukti, jaringan informasi, dan kewenangan operasi. Ketika kewenangan ini
disalahgunakan, dampaknya jauh lebih besar daripada pelaku sipil, karena
menyangkut legitimasi hukum itu sendiri.
Di
sinilah pesan Black and Blue menjadi
relevan. Film itu mengingatkan bahwa integritas individu sering kali diuji oleh
tekanan sistem. Keberanian satu orang untuk bersikap jujur bisa menjadi titik
balik, tetapi juga bisa berujung pada isolasi atau bahaya. Dalam konteks
Indonesia, kasus-kasus yang terungkap justru menunjukkan pentingnya pengawasan
internal, transparansi, dan akuntabilitas.
Pada
akhirnya, baik dalam film maupun dunia nyata, persoalan utamanya bukan sekadar
kriminalitas, tetapi kepercayaan publik. Ketika penegak hukum melanggar hukum,
yang runtuh bukan hanya satu karier, melainkan kredibilitas institusi. Dan
seperti yang ditunjukkan Black and Blue,
memulihkan kepercayaan itu jauh lebih sulit daripada kehilangannya.
Jika
di film kebenaran harus dikejar sambil berlari dari peluru, di dunia nyata
kebenaran harus dijaga melalui sistem yang transparan, akuntabel, dan berani membersihkan
diri sendiri. Tanpa itu, garis antara “black”
dan “blue” akan terus kabur. dan
masyarakatlah yang akhirnya menanggung akibatnya.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya