Taskaree dan Perang Sunyinya

Minggu, 15 Februari 2026

Sejatinya Taskaree: The Smuggler’s Web memang bukan jenis tontonan yang memanjakan penonton dengan ledakan, kejar-kejaran mobil, atau aksi agen rahasia yang nyaris tak tersentuh. Serial kriminal India yang dirilis Netflix pada Januari 2026 ini justru memilih jalur yang lebih sunyi, lebih realistis, dan lebih dekat dengan kehidupan birokrasi ketimbang film laga. 


Cerita berpusat pada Arjun Meena, seorang petugas bea cukai yang ditugaskan membongkar jaringan penyelundupan internasional di Bandara Mumbai. Ia bukan tipe pahlawan yang banyak bicara atau penuh gaya. Ia bekerja dengan sabar, memeriksa dokumen, membaca pola perjalanan, dan memanfaatkan jaringan informan. Dalam film Taskaree, koper bukan sekadar koper. Setiap tas bisa berisi rahasia, dan setiap penumpang berpotensi menjadi simpul dari jaringan kejahatan lintas negara. 


Di situlah letak daya tarik serial ini. Taskaree tidak menjual fantasi. Ia menjual prosedur. Penonton diajak melihat bagaimana penyelundupan modern bekerja, melalui celah sistem, kerja sama lintas negara, bahkan dengan perlindungan orang dalam. Bandara, yang biasanya kita lihat sebagai ruang netral penuh wisatawan, berubah menjadi arena pertempuran diam-diam antara negara dan jaringan kriminal global. 


Banyak film kriminal selama ini berkutat pada polisi, mafia, atau agen intelijen. Taskaree mengambil sudut yang jarang, yakni petugas bea cukai. Padahal, di dunia nyata, mereka adalah garda depan yang berhadapan langsung dengan penyelundupan narkoba, emas, uang palsu, hingga barang mewah ilegal. Tim yang dikomandani Arjun Meena terdiri dari petugas yang sebelumnya disingkirkan karena menolak korupsi. Mereka bukan pahlawan yang dipuja, melainkan pegawai yang pernah dianggap “masalah” oleh sistem.


Serial ini menggambarkan bahwa perang melawan kejahatan bukan hanya perkara baku tembak, melainkan juga kecermatan membaca pola. Ada adegan-adegan panjang yang hanya berisi diskusi strategi, analisis rute penerbangan, atau pengintaian terhadap penumpang mencurigakan. Bagi sebagian penonton, ritme seperti ini terasa lambat. Namun justru di situlah nuansa realistisnya. Dalam kehidupan nyata, penegakan hukum memang sering terasa membosankan, hingga tiba-tiba semuanya meledak dalam suatu operasi besar.


Judul The Smuggler’s Web itu sendiri bukan sekadar metafora. Cerita berkembang seperti jaring laba-laba. Semakin ditarik, semakin terlihat betapa luas dan rumitnya jaringan penyelundupan itu. Para petugas menemukan bahwa lawan mereka bukan hanya para kurir atau bandar kelas bawah, melainkan jaringan global dengan perlindungan politik dan birokrasi. 


Dalam satu titik cerita, tim bea cukai menyadari bahwa kebocoran informasi bukan datang dari luar, melainkan dari dalam sistem sendiri. Ada pejabat yang bermain dua kaki. Ada operasi yang sengaja digagalkan. Bahkan ada korban jiwa di antara petugas yang mencoba jujur.  Konflik seperti ini membuat Taskaree terasa seperti drama moralitas ketimbang sekadar thriller. Musuhnya bukan hanya penyelundup, tetapi juga korupsi, kepentingan politik, dan sistem yang rapuh.


Aktor Emraan Hashmi, yang memerankan Arjun Meena, tampil dengan gaya yang tenang. Ia lebih banyak berpikir daripada berteriak. Lebih sering mengamati daripada menembak. Ketegangan dalam Taskaree lahir dari pertanyaan sederhana: siapa yang bisa dipercaya? Karena, bahaya tidak selalu datang dari peluru, tapi dari informasi yang bocor atau dari pejabat dan pegawai yang diam-diam bersekongkol.


Pada akhirnya, Taskaree bukan hanya cerita tentang penyelundupan, tapi cerita tentang integritas. Tentang orang-orang biasa dalam sistem yang tidak sempurna, yang tetap berusaha jujur meski tahu risikonya besar. Serial ini mengingatkan bahwa kejahatan modern tidak selalu berbentuk gangster dengan pistol. Ia berbentuk jaringan, dokumen, dan hubungan kekuasaan. Musuhnya tidak selalu terlihat, dan sering kali justru duduk di meja yang sama.


Dan memang, realitas itu baru saja kembali muncul. Tidak di India sebagaimana sinema, tapi di Indonesia karena menjadi realita. Pada awal Februari 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Enam orang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk pejabat penindakan, terkait dugaan suap dalam proses impor barang ilegal. Perkara ini bermula dari pengondisian agar barang impor yang diduga palsu dapat lolos tanpa pemeriksaan fisik. 


KPK bahkan menyita barang bukti bernilai sekitar Rp40,5 miliar, termasuk uang tunai berbagai mata uang dan emas lebih dari lima kilogram. Fakta yang menunjukkan bahwa penyelundupan bukan sekadar aktivitas kecil di sudut pelabuhan atau bandara, tapi jaringan besar yang melibatkan uang, kekuasaan, dan posisi strategis dalam birokrasi. 


Peristiwa itu membuat Taskaree terasa bukan sekadar tontonan, melainkan serupa dokumenter yang kebetulan berbentuk film. Apa yang terjadi di layar berupa transaksi senyap, dokumen yang dimanipulasi, dan aparat yang bernegosiasi dengan hukum, ternyata tidak jauh dari berita harian kita. Pada akhirnya, Taskaree mengajukan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar siapa penjahat dan siapa pahlawan. Ia mempertanyakan apakah sistem yang kita miliki benar-benar mampu menutup jalur ilegal, atau justru diam-diam membiarkannya hidup. Film ini tidak memberi jawaban, tetapi meninggalkan kegelisahan.


Dan mungkin, kegelisahan itulah yang paling jujur. Karena di dunia nyata, seperti yang kita lihat dari operasi tangkap tangan tersebut, jaringan penyelundupan tidak selalu berada di luar negara. Kadang, ia justru bersembunyi di dalamnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (196) kepegawaian (173) serba-serbi (87) hukum (79) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (63) tentang ngawi (60) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)