Sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang. Napoleon Bonaparte, misalnya, dikenang sebagai jenius militer yang mengubah wajah Eropa. Namanya memenuhi buku sejarah, monumen, hingga film. Namun, di balik setiap kisah kemenangan selalu ada tokoh-tokoh yang kalah tetapi menolak menyerah. Salah satunya adalah Muhammad Kurayyim, gubernur Alexandria, yang memilih menghadapi regu tembak daripada mengibarkan bendera putih di hadapan pasukan Prancis.
Kisah yang ditulis Randy Wirayudha di Historia (23 Maret 2026) mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar catatan tentang siapa yang menang, melainkan juga tentang siapa yang tetap mempertahankan kehormatan ketika kekalahan sudah hampir pasti.
Ekspedisi Napoleon ke Mesir pada tahun 1798 sesungguhnya bukan hanya operasi militer. Ia merupakan bagian dari pertarungan geopolitik global setelah Revolusi Prancis. Kekalahan Belanda, bangkrutnya VOC, dan lahirnya Republik Batavia yang berada di bawah pengaruh Prancis membuat peta kekuasaan dunia berubah. Dampaknya bahkan terasa hingga Nusantara. Dengan kata lain, nasib Jawa dan Alexandria pada masa itu ternyata berada dalam satu pusaran sejarah yang sama.
Di tengah pusaran itulah berdiri Alexandria. Secara militer, kota itu hampir mustahil bertahan. Napoleon membawa sekitar 38.000 prajurit, ratusan kapal, dan artileri modern. Sebaliknya, Muhammad Kurayyim hanya memiliki sekitar 500 prajurit Mamluk dan Turki Utsmani. Perbandingan kekuatan itu bukan lagi sepuluh banding satu, melainkan ratusan banding satu.
Napoleon bahkan memberi ultimatum yang mencerminkan kepercayaan dirinya sebagai penakluk Eropa. Ia meminta Kurayyim menyerah dalam waktu pendek. Jika tidak, seluruh pertumpahan darah menjadi tanggung jawab sang gubernur. Ultimatum itu sebenarnya lebih merupakan perang psikologis daripada tawaran damai. Napoleon berharap kemenangan dapat diraih tanpa perlawanan berarti.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tak ada bendera putih berkibar di atas benteng Alexandria. Pilihan Kurayyim mungkin tampak tidak rasional dari sudut pandang militer. Ia pasti memahami peluang menang nyaris tidak ada. Akan tetapi, dalam banyak peristiwa sejarah, keberanian sering kali tidak lahir karena keyakinan akan kemenangan, melainkan karena kesediaan mempertahankan martabat.
Alexandria akhirnya jatuh. Ribuan penduduk menjadi korban. Kurayyim ditangkap. Sebagian sumber menyebut ia sempat diampuni, tetapi kemudian kembali ditahan karena menolak bekerja sama dengan Prancis. Pada akhirnya ia dieksekusi oleh regu tembak atas perintah Napoleon. Kepalanya dipertontonkan sebagai pesan bagi siapa pun yang berani melawan kekuasaan Prancis.
Ironisnya, tindakan yang dimaksudkan untuk menebar ketakutan justru melahirkan seorang martir. Hingga kini, masyarakat Mesir mengenang Muhammad Kurayyim sebagai salah satu pahlawan nasional pertama mereka. Ia kalah dalam peperangan, tetapi menang dalam ingatan kolektif bangsanya. Di sinilah sejarah memperlihatkan paradoksnya. Kemenangan militer tidak selalu menghasilkan kemenangan moral.
Napoleon berhasil merebut Mesir, tetapi kekuasaannya di sana tidak bertahan lama. Armada Prancis dihancurkan Inggris dalam Pertempuran Sungai Nil. Pemberontakan terjadi di berbagai daerah. Beberapa tahun kemudian, pasukan Prancis terpaksa meninggalkan Mesir. Sebaliknya, nama Kurayyim tetap hidup sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan.
Pelajaran serupa juga dapat ditemukan dalam sejarah Indonesia. Pangeran Diponegoro kalah dalam Perang Jawa. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya. Teuku Umar gugur di medan perang. Namun, tidak seorang pun menganggap mereka pecundang. Justru kekalahan mereka menjadi fondasi bagi tumbuhnya kesadaran nasional yang lebih besar.
Sejarawan Inggris E.H. Carr pernah mengingatkan bahwa sejarah merupakan dialog tanpa henti antara masa lalu dan masa kini. Artinya, nilai suatu peristiwa tidak ditentukan semata oleh hasil akhirnya, tetapi oleh makna yang terus hidup dalam ingatan masyarakat. Dalam konteks itu, keberanian Kurayyim mengajarkan bahwa mempertahankan prinsip sering kali lebih mahal daripada mempertahankan kekuasaan.
Kisah ini juga menjadi pengingat bagi para pemimpin masa kini. Jabatan publik bukan sekadar soal mengelola administrasi atau menjalankan kebijakan. Pada saat-saat tertentu, seorang pemimpin diuji oleh keberaniannya mengambil risiko demi kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Memang, dunia modern tidak lagi dipenuhi benteng yang dikepung meriam seperti Alexandria pada tahun 1798. Namun, ancaman terhadap integritas tetap ada dalam bentuk yang berbeda, seperti tekanan politik, kompromi terhadap prinsip, penyalahgunaan kekuasaan, atau godaan untuk memilih jalan paling mudah.
Dalam situasi seperti itulah nilai seorang pemimpin sesungguhnya diukur. Muhammad Kurayyim mungkin gagal mempertahankan kotanya. Akan tetapi, ia berhasil mempertahankan sesuatu yang lebih sulit direbut oleh pasukan mana pun: kehormatan. Dan sejarah, sering kali lebih lama mengingat mereka yang mempertahankan kehormatan daripada mereka yang sekadar memenangkan peperangan. Di situlah letak keabadian seorang penjaga Alexandria yang menolak tunduk kepada Napoleon.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya